Selasa, 7 April 2026

Kedua Kandidat Beda Pandangan Lahan Pascatambang

Berita Terkait

Calon Walikota Tanjungpinang Syahrul dan Lis Darmansyah saling berpelukan usai debat publik di Hotel Aston Tanjungpinang, Selasa (15/5). Meski keduanya berbeda visi dan pandangan, namun keduanya tetap mengedepankan nilai persaudaraan dan saling mendukung demi kemajuan kota Tanjungpinang. F.Yusnadi/batampos.co.id

batampos.co.id – Pasangan Syahrul-Rahma dan Lis-Maya memiliki pandangan berbeda mengenai tindak lanjut wilayah pascatambang di Tanjungpinang. Pemanfaatan lahan yang telah dimanfaatkan untuk penggalian bauksit beberapa tahun lalu, dianggap Syahrul cocok untuk lokasi bercocok tanam. Utamanya tanaman sayur.

“Apalagi cabai, yang hingga saat ini masih kita pasok dari luar kota,” tutur Syahrul.
Dengan kecanggihan teknologi saat ini, Syahrul optimistis tidak ada alasan dalam melakukan cocok tanam di tanah pascatambang tersebut.
Tidak hanya mampu melakukan penghijauan kembali sembari memenuhi kebutuhan pangan masyarakat, Syahrul menilai, upaya pemanfaatan lahan ini juga mampu membantu mengurangi jumlah pengangguran di Tanjungpinang
Sementara itu, Lis yang turut menanggapi jawaban Syahrul menuturkan hal yang berbeda. Ia menilai, lahan luas pascatambang lebih cocok untuk dimanfaatkan sebagai lokasi wisata.
“Karena kami memfokuskan Tanjungpinang sebagai daerah pariwisata,” ucap Lis.
Dengan menjadikan wilayah pascatambang sebagai kawasan wisata, dirasa Lis juga menjawab kebutuhan destinasi wisata baru untuk Kota Tanjungpinang.
Tidak hanya berbicara mengenai wilayah pascatambang, pertanyaan panelis pada debat putaran kedua kemarin malam, juga menyinggung persoalan sampah di Tanjungpinang.
Pasangan Lis-Maya menerangkan pentingnya pengelolaan sampah terpadu. Pengelolaan sampah dengan aspek pemanfaatan. Sehingga tidak ada sampah yang tersia-siakan.
“Sampah cair menjadi pupuk ekonomis. Dan sampah lain dikelola menjadi kompos,” tutur Lis.
Sehingga, sebut Lis, sampah mampu memberikan profit bagi masyarakat dan daerah.
Sampah di wilayah pesisir, diakui Lis juga memerlukan penanganan serius. Sehingga Lis-Maya mengaku bertekad menjadikan sampah, sebagai modal dalam memberikan peofit.
“Diharapkan sistem pengelolaan sampah nantinya ada kerja sama dengan swasta dalam pengelolaan sampah. Sehingga bisa menghasilkan,” tutur Lis.
Namun Syahrul melihat, adanya kendala dalam gagasan yang dituturkan Lis, yakni distribusi penjualan pupuk dan kompos. “Kebingungan mau dibawa kemana pupuk dan kompos itu. Kurang perhatian pemerintah untuk menunjuk lokasi penjualan hasil sampah,” kata Syahrul.
Kendati begitu bukan berarti tak ada pandangan yang sama di antara keduanya. Syahrul-Rahma dan Lis-Maya memiliki persamaan dalam mengembangkan potensi pariwisata Tanjungpinang. Keduanya menunjuk Kota Rebah, sebagai fokus pengembangan pariwisata jika terpilih sebagai Wali Kota dan Wakil Wali Kota Tanjungpinang.
“Sungai Carang Kota Rebah belum memiliki objek wisata. Memiliki jembatan megah, tetapi tidak ada objek yang dapat dikunjungi,” tutur Syahrul.
Sehingga diperlukan semtuhan tambahan yang mampu melahirkan objek bari di kawasan tersebut. Termasuk pula peninggalan bersejarah di lokasi tersebt, yang dapat dimanfaatkan untuk memberikan pengetahuan sejarah Melayu.
“Untuk mampu menarik wisatawan dapat pula ditambahkan akses langsung dari Sungai Carang menuju Penyengat, maupun sebaliknya,” kata Syahrul.
Sehingga, wisatawan akan terus tertarik untuk melakukan kunjungan ke Tanjungpinang. Sekaligus memperpanjang waktu kunjunganya.
Lis-Maya juga mengklaim, akan serius menggarap Kota Rebah. “Melakukan restorasi. Mempercantik kawasan dengan budidaya kunang-kunang dan membuat replika istana Kota Rebah,” terang Maya mengenai gagasan yang dimiliki timnya. (aya)

Update