Sabtu, 14 Februari 2026

BP Batam Gulirkan Rp 900 Juta untuk Normalkan Drainase

Berita Terkait

Sampah menumpuk di gorong-gorong dekat Komplek Limindo, Batuaji.
Menumpuknya sampah ini dibawa arus saat hujan. Bila sampah-sampah-sampah ini tidak dibersihkan bisa meniimbulkan banjir. F Dalil Harahap/Batam Pos

batampos.co.id – Badan Pengusahaan (BP) Batam menggulirkan dana sebesar Rp 900 juta untuk normalisasi saluran drainase. Dana ini merupakan dana tanggap darurat untuk meminimalisir banjir yang tiap tahun menjadi persoalan utama yang tak kunjung selesai.

“Dana normalisasi sekitar Rp 900 juta. Ini merupakan program tanggap darurat, dimana saluran alam yang tersumbat akan kita benarkan,” kata Kepala Sub Direktorat Pembangunan Jalan dan Jembatan Badan Pengusahaan (BP) Batam Boy Zasmita, Senin (25/6).

Program tanggap darurat kata Boy merupakan solusi untuk mengatasi problem banjir saat ini.”Ini jadi catatan kami karena masih belum musim hujan. Dan juga sudah melewati masa El-Nino, makanya curah hujan juga normal,” jelasnya.

Disamping itu, program BP lainnya adalah program jangka panjang dengan membangun proyek fisik di dekat Kawasan Industri Shibaura Tanjunguncang.”Kita akan lakukan pembangunan drainase disana,” katanya.

Pembangunan fisik di Tanjunguncang dinilai penting karena sejumlah daerah disana rawan banjir. Pembangunan saluran drainase terintegrasi dinilai dapat meminimalisir potensi banjir disana.”Ada beberapa daerah yang rawan banjir seperti di Marina,” katanya lagi.

Sedangkan Ketua Dewan Kehormatan Ikatan Arsitektur Indonesia (IAI) Supriyanto mengatakan pembangunan drainase itu merupakan satu paket utama dengan pembangunan atau pelebaran jalan.

Pembangunannya harus dilaksanakan secara terintegrasi dan dirancang jauh-jauh hari agar tidak menimbulkan banjir.”Jalan, drainase dan trotoar itu merupakan satu paket. Drainase juga harus dibuat dengan perhitungan 10 tahun kedepan. Baru dibuat trotoar diatasnya,” katanya.

Ia mengapresiasi proyek pelebaran jalan yang dilakukan oleh Pemerintah Daerah (Pemda). Namun idealnya pelebaran jalan harus memperhitungkan pola pembangunan drainase yang tepat guna. Drainase yang baik harus memperhitungkan daerah tangkapan air dengan debit penampungan yang tepat.

“Di ruas Bundaran Madani sudah dibuat. Tapi kalau di Pelita tidak. Saya tak tahu nanti kedepannya bagaimana,” katanya.

Persoalan mengenai drainase ini memang seperti tidak tersentuh tiap tahunnya. Prosesnya sering dianaktirikan sehingga pembangunannya tak berlangsung secara optimal. Maka tidak heran ketika hujan sebentar, bisa banjir dimana-mana.

Lalu ia juga menyarankan agar kanal utilitas jangan pernah dibongkar-bongkar lagi ketika melebarkan jalan.

“Kanal utilitas itu berfungsi sebagai ruang untuk kabel, pipa, air dan listrik. Segala macam. Dan itu tak boleh dicangkul-cangkul lagi. Makanya sebelum dibuat harus diperhitungkan sedemikian rupa,” pungkasnya.(leo)

Update