Membangun perusahaan itu mudah. Mengurusinya yang susah.
Siapapun bisa membuat perusahaan. Yang penting ada modal, perizinan kelar, jadi sudah. Tak peduli tua-muda, pria-wanita, kaya-miskin. Semua bisa bikin perusahaan.
Pertanyaannya? Mau diapakan perusahaan itu. Mau dijadikan apa. Mau seperti apa. Mau bagaimana modelnya. Hanya pembuat perusahaan yang tahu.
Percayalah! Mengurus perusahaan tak semudah membalikkan telapak tangan. Mengelolanya juga susah. Kita tidak hanya melihat dari satu sudut pandang. Harus dilihat dari berbagai sisi.
Tidak sekadar memikirkan produk atau pendapatan semata. Tapi semuanya. Ya produk, ya penghasilan, ya pengelolaan keuangan, ya strategi, ya karyawan, ya yang lainnya juga. Semua harus diurusi.
Itulah mengapa, tidak jarang kita mengeluarkan kebijakan yang tak populis. Yang merugikan internal kita. Yang kadang membuat kecewa. Yang biasanya menimbulkan gejolak. Itulah dinamikanya.
Biasanya, seorang pemimpin lebih memilih menyelamatkan perusahaan. Itu wajar. Demi menjaga kelangsungan hidup perusahaan. Jika perusahaan hidup, semua akan selamat. Semua itu meliputi perusahaannya, para karyawan berikut keluarganya, hingga mitra yang menggantungkan hidup dari perusahaan tersebut.
Biasanya lagi, dalam kondisi yang sulit, perusahaan mengambil langkah ekstrem. Efisiensi.
Yang dimaksud efisiensi ini banyak. Mulai dari kebijakan biaya, sumber daya manusia (SDM), bahkan mutasi. Ini dilakukan semata-mata untuk menjaga keberlangsungan perusahaan. Menjaga karyawan dan keluarganya.
Bisnis itu pasti ada pasang-surutnya. Saat ini boleh kita berada di atas angin. Tapi tak ada yang tahu ke depannya seperti apa. Bisa jadi besok, lusa, minggu depan, bulan depan, atau tahun depan, perusahaan kita “turun”.
Perusahaan itu bisa hebat tidak dari lahir. Tapi harus diurusi dengan baik. Dikelola secara profesional. Belum ada sejarahnya, perusahaan yang baru dibentuk langsung hebat. Pasti diawali dengan rugi.
Ada fase-fase yang harus dilewati saat perusahaan itu baru lahir. Ada yang besarnya menunggu waktu lama. Ada yang hitungan bulan. Selama memiliki manajemen yang baik dan tim solid, perusahaan bisa besar dengan cepat.
Tidak jarang pula, di saat kita concern membangun perusahaan, muncul adangan-adangan. Baik dari internal maupun eksternal. Ada saja ditemui hal demikian. Hal ini berpotensi mengganggu kinerja perusahaan secara keseluruhan.
Misalnya, ada salah satu dari tim kita tidak bekerja. Tentunya akan mengganggu karyawan lain. Jika ditemukan hal seperti ini, harus segera ditangani. Tidak boleh diabaikan. Pasti nantinya menjadi virus.
Tapi, selama yang bersangkutan masih bisa “disadarkan”, tidak ada salahnya jika diakomodir. Namun jika sudah parah, cepat-cepat kita singkirkan. Karena perusahaan harus tetap eksis demi menjaga karyawan yang lain.
Biasanya juga, faktor eksternal menjadi adangan yang sulit. Misalnya persaingan. Untuk mengatasinya, tim kita harus solid. Harus lebih kreatif. Harus satu visi. Kita tumbuhkan semangat kompetisi. Tanpa adanya persaingan, perusahaan tidak akan besar. Tidak akan maju dan berkembang.
Itulah mengapa saya bilang, mengurusi perusahaan lebih sulit ketimbang membangun.
Namun, selama perusahaan itu didukung tim yang solid, kompak, dan satu semangat, sesulit apapun rintangannya bisa dilewati. *
Guntur Marchista Sunan
Direktur Batam Pos
