
batampos.co.id – Penghuni Rusun Mukakuning II, Seibeduk merasa tak nyaman selama musim hujun ini. Pasalnya, kondisi jalan menuju tempat tinggal mereka sungguh memprihatinkan. Untuk keluar atau masuk ke lingkungan rusun mereka harus berjibaku dengan genangan air dan tebalnya lumpur.
Menurut Frendy, salah satu penghuni rusun, kondisi itu dialami mereka setiap musim hujan tiba. Itu karena jalan masuk ke rusun belum tersentuh aspal ataupun semenisasi sama sekali. Warga tak punya pilihan lain sebab jalan yang berupa ratahan tanah itu satu-satunya akses keluar masuk ke tempat tinggal mereka.
“Beginilah kondisinya setiap hujan (becek dan berlumpur). Kalau panas tanahnya berdebu,” kata Frendy, Jumat (12/10/2018).
Frendy menuturkan kondisi jalan yang tak nyaman itu sudah berlangsung lama, namun dua hari belakangan ini akses jalan itu benar-benar tidak bisa dilewati. Warga yang memiliki kendaraan terpaksa memarkirkan kendaraanya di luar rusun atau di rumah warga Kampung Salak dan kemudian menempuh jarak 200 meter lagi untuk sampai ke rusun.
“Mau tak mau harus jalan kaki. Kalau dipaksa naik motor takutnya jatuh, karena jalannya licin dan berlumpur,” kata warga blok A ini.
Penghuni lain, Darmanto mengaku situasi jalan benar-benar tak memberikan pilihan kepada penghuni di sana. Setiap musim hujan harus berhadapan dengan persoalan yang sama setiap musim hujan. “Sebenarnya sedang dalam pengerjaan, tapi kadang dikerjakan kadang berhenti. Karena itu jalannya semakin parah,” jelasnya.
Darmanto mengaku sudah satu tahun menjadi penghuni rusun tersebut. Selama itu juga ia dan penghuni lainnya harus berhadapan dengan lumpur setiap musim hujan.
“Agak heran juga saya, rusunnya sudah bisa ditempati tapi jalannya begini. Harusnya aksesnya dulu dibangun, baru tempat tinggal,” keluhnya.
Saat ini penghuni rusun benar-benar mengeluhkan kondisi itu, termasuk pihak Batamindo yang merasa dirugikan lantaran pengerjaan jalan itu membuat dinding pembatas BIP dua kali jebol. Itu terjadi karena tidak adanya drainase di sepanjang dinding pembatas kawasan BIP. Akibatnya saat hujan turun, tanah akan longsor dan menjebol dinding BIP.
“Memang sudah diperbaiki, tapi itu tidak menyelesaikan masalah, kita sudah capek menyurati Perkimtan. Bahkan kita juga menembuskan ke Baharkam Mabes Polri. Karena kawasan BIP merupakan kawan objek vital” kata Tjaw Hioeng, Manager Admin dan General Affair BIP.
Ayung berharap, Perkimtan mengintruksikan kontraktor untuk segera membangun drainase, agar ke depannya tidak menimbulkan masalah.
“Kita tidak mempermasalahkan pemerintah membangun Rusunawa. Tapi jangan meninggalkan masalah,” tutupnya. (une)
