Sabtu, 4 April 2026

Mutilasi Khashoggi Bermula dari Jari

Berita Terkait

Jamal Khashoggi
foto: bbc

x.batampos.co.id – Pelan tapi pasti, penyidik Turki mulai mengumpulkan bukti. Salah satu di antaranya, sidik jari beberapa terduga pelaku pembunuhan Jamal Khashoggi di Konsulat Saudi pada 2 Oktober lalu. Data tersebut didapat dari penyelidikan di dua lokasi. Gedung konsulat dan rumah dinas Muhammad Al Otaibi yang saat itu menjabat konsul Saudi untuk Turki.

’’Kami akan memberitahukan hasilnya kepada dunia.’’ Demikian bunyi pernyataan resmi Kementerian Dalam Negeri Turki sebagaimana dilansir The Guardian, Kamis (18/10). Hingga semuanya tuntas, Turki memilih tidak merilis hasilnya kepada publik. Setidaknya, secara resmi.

Dini hari kemarin, tim gabungan Turki dengan Saudi tuntas menggeledah kediaman Otaibi. Proses yang bermula pada Rabu (17/10) itu berlangsung sekitar sembilan jam. Di kediaman Otaibi itulah, konon, jenazah Khashoggi sempat disembunyikan. Jika pemberitaan media Turki benar, kondisi mayat tersebut tidak utuh karena sudah dimutilasi.

Dalam penyelidikan, tim melibatkan drone dan lampu sorot. Mereka juga menggali beberapa area di taman kediaman resmi konsul tersebut. Garasi yang menjadi salah satu titik yang disinggahi mobil diplomatik pengangkut jenazah Khashoggi juga diteliti. Mobil-mobil yang ada di basement juga diperiksa.

Saat meninggalkan rumah itu, para penyelidik membawa sejumlah kotak berukuran sedang dan tas berukuran besar. Tidak diketahui apa isinya. Dalam video yang dipublikasikan Yeni Safak, media Turki, baju hazmat salah seorang petugas tampak terkena noda darah. Tidak dijelaskan darah siapa itu.

Bersamaan dengan itu, investigasi kedua di gedung konsulat juga berlangsung. Petugas berfokus menyelidiki area blok C di kompleks tersebut. Itu merupakan area khusus yang hanya bisa diakses staf diplomatik. Penyelidik yakin Khashoggi dihabisi di area tersebut. Di blok itulah sidik jari enam di antara 15 terduga pembunuh Khashoggi ditemukan.

Kemarin Al Jazeera melaporkan bahwa 15 terduga pembunuh Khashoggi itu masuk Turki dengan menggunakan paspor asli. Tidak ada yang dipalsukan. Beberapa bahkan menggunakan paspor diplomatik.

Salah seorang di antara mereka adalah orang dekat putra mahkota Arab Saudi Muhammad bin Salman alias MBS. Pria tersebut ikut dalam rombongan MBS saat melawat ke Amerika Serikat (AS) April lalu.

Pria itu tiba di gedung konsulat pada hari yang sama dengan Khashoggi. Dia tiba pukul 09.55 waktu setempat dan Khashoggi sekitar pukul 13.14 waktu setempat. Pria yang sama juga berada di rumah Otaibi sekitar pukul 14.53 waktu setempat. Dia keluar dari hotelnya sekitar pukul 17.15 waktu setempat dengan membawa tas berukuran besar. Sekitar 43 menit kemudian dia sudah berada di bandara, lantas terbang ke Riyadh.

Kemarin media-media Turki kembali merilis pernyataan baru dari sumber yang mendengar rekaman audio pembunuhan Khashoggi. Dalam rekaman itu diketahui, begitu masuk, Khashoggi disapa kemudian dipukuli. Setelah itu, jari-jarinya dipotong. Kemudian, kepalanya dipenggal dan tubuhnya dimutilasi.

Mutilator Khashoggi adalah Salah Muhammad Al Tubaigy. Pakar forensik Saudi itu pernah tiga bulan bekerja di Victorian Institute of Forensic Medicine, Australia.

Menurut media Turki, jasad Khashoggi yang terpotong-potong lantas dimasukkan ke wadah berisi cairan asam. Tujuannya, jenazah lenyap tak berbekas. Proses itulah yang diduga dilakukan di kediaman Otaibi.

Beberapa media juga mengungkapkan dugaan adanya ada orang dekat Khashoggi yang berkhianat. Si pengkhianat itu menginformasikan seluruh aktivitas Khashoggi selama 1,5 tahun terakhir kepada Saudi.

Hingga detik ini, Turki hanya membocorkan rekaman audio yang mereka miliki ke beberapa media yang dekat dengan pemerintah. AS dan negara-negara Eropa yang menjadi sekutunya belum bisa mendapatkan rekaman tersebut.

Sementara itu, Washington Post kemarin merilis tulisan terakhir Khashoggi di kolom opini. Tulisan itu tidak kunjung dimuat dengan harapan Khashoggi masih hidup dan bisa kembali bertugas.

’’Kini saya harus menerima bahwa itu tidak akan terjadi,’’ ujar editor kolom Global Opinions Karen Attiah. (sha/c4/hep)

Update