Minggu, 19 April 2026

Bodi Pesawat Lion Air JT 610 Dipastikan Hancur

Berita Terkait

batampos.co.id – Kondisi badan pesawat Lion Air JT 610 yang jatuh di perairan Karawang pada Senin (29/10) lalu dipastikan hancur berkeping-keping. Itu bisa dilihat dari puing-puing sisa badan pesawat yang sudah tidak utuh lagi. Termasuk mesin pesawat yang sudah hilang semua turbin plit atau kipas pada mesin.

Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono mengungkapkan mesin pesawat dipastikan juga tidak meledak. Tapi hancur saat masuk ke dalam air lantaran berkecepatan sangat tinggi. Mesin pun masih dalam kondisi menyala normal.

”Dan masih menyala high RPM. Istilahnya tadi (mesin yang tersisa, red) itukan seperti bonggolnya jagung. Jagungnya sudah dipipil istilahnya, sudah hilang semua,” ujar Soerjanto di dermaga JICT 2, Tanjung Priok, Minggu (4/11).

Dia bersama dua orang petugas lain melihat kondisi mesin Lion. Dalam penelitian kecelakaan pesawat itu, KNKT memang dibantu oleh Boeing dan KNKT Amerika Serikat. Mereka memeriksa kondisi engine yang sudah tidak utuh itu sebelum dimasukan ke dalam truk untuk dibawa ke kantor KNKT.

Selain dari mesin, hancurnya bodi pesawat itu juga terlihat dari bagian yang diangkat dan dibawa ke dermaga tersebut. Menurut Soerjanto bagian pesawat yang sudah seperti terkoyak itu adalah tempat bahan bakar pesawat.

”Itu yang ada yang hijau itu paling tebal, paling kuat saja sudah pecah. Itu bagian tangki tengah sayap. Itu bagian paling kuat. Yang kuat saja seperti itu,” ungkap dia.

Puing Lion Air JT 610

Memang hingga kemarin, tim SAR gabungan hanya menemukan puing-puing. Meskipun sudah dijelajah dengan ROV sampai radius 250 meter, tapi tidak juga ditemukan badan pesawat yang lebih besar.

”Radius kalau 250 meter itu sudah cukup. Karena kita keluarkan sedikit sudah tidak ada barang. Lebih kecil-kecil lagi. Jadi wasting time lah. Jadi kita memanfaatkan waktu dan personil yang ada,” kata Kepala Basarnas Marsekal Madya M. Syaugi.

Sementara pencarian dan evakuasi korban kecelakaan pesawat Lion Air register PK-LQP diperpanjang tiga hari mulai hari ini, Senin (5/11). Fokus utama adalah mencari jenazah korban yang berada tak jauh dari lokasi utama puing-puing pesawat yang kecelakaan pada Senin (29/10) itu. Jenazah korban juga dicari di pantai dari Tanjung Pakis sampai Pantai Sedari, Karawang sepanjang 20,24 kilo meter.

Kepala Basarnas Marsekal Madya M. Syaugi menuturkan perpanjangan masa pencarian dan evakuasi tiga hari itu karena diduga masih banyak jenazah yang belum ditemukan. Sepanjang Sabtu (3/11) pagi hingga malam total ada 31 kantong jenazah yang dibawa ke dermaga Pelabuhan Tanjung Priok. Sementara pada Minggu (4/11) hingga pukul 18.00 ada tambahan 32 kantong jenazah lagi. Selain itu juga dari hasil evaluasi dan peninjauan langsung di lapangan.

”Target utama adalah evakuasi korban. Itu yang utama. Setelah itu baru CVR (cocpit voice recorder) untuk menambah kelengkapan, untuk menguak peyebab (kecelakaan) itu,” ujar Syaugi.

Saat disinggung soal anggaran yang telah dihabiskan untuk sepekan terakhir, dia enggan menjelaskan dengan detail. ”Saya tidak berbicara anggaran kita dukung operasi ini sampai tuntas. Negara bertanggung jawab untuk pelaksanaan ini,” tambah dia.

Syaugi mengungkapkan hari ini pihaknya akan menemui keluarga korban yang menginap di Kotel Ibis Cawang. Pertemuan itu juga akan melibatkan Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto dan Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono serta manajemen Lion Air.

”Besok (hari ini, red) saya akan sampaikan lagi apa yang sudah dilakukan tim SAR gabungan supaya memahami apa yang sudah dilakukan,” kata dia.

Hingga Minggu (4/11) pukul 18.00 total ada 136 kantong jenazah yang telah diserahkan ke tim disaster victim investigation (DVI) Mabes Polri sejak Senin (28/10). Jumlah tersebut dipastikan masih akan bertambah terus hingga tiga hari kedepan. Selain itu ada juga tim di Pantai Tanjung Pakis, Karawang yang mencari sepanjang pantai dan perairan.

Tim SAR gabungan mengangkat ban pesawat Lion Air JT610 ke atas Kapal Baruna Jaya I di Perairan Karawang, Jawa Barat, Minggu (4/11/2018). Ban pesawat tersebut ditemukan di kedalaman 32 meter. FOTO : TAUFIK/JAWA POS

Pencarian di Tanjung Pakis dibagi dalam tiga sektor. Yakni pencarian darat ke timur sepanjang 20,24 kilometer dari posko Tanjung Pakis, Pantai Sarakan, dan Pantai Sedari dengan jumlah pencari 110 orang. pencarian juga dilakukan di barat Pantai Tanjung Pakis yakni di sekitar Cagar Batavia sampai pantai Muara Bungin sepanjang 1,5 kilometer.

Di wilayah perairan luas pencarian 13,62 nautical mile. Lokasinya di Muara Gembong, Muara Bungin di Bekasi sampai posko di pantai Tanjung Pakis, Karawang. Jumlah anggota yang menyapu wilayah laut sebanyak 31 orang.

“Korban itu bisa di atas air bisa di bawah air. Mengingat kejadian sudah tujuh hari lalu. yang di dasar saja bisa bergeser apalagi di atas,” kata Syaugi.

Fokus pencarian korban di dasar laut bertempat di lokasi utama temuan puing-puing yang banyak berserakan, termasuk ban dan engine pesawat.

Hingga kemarin, salah satu rekaman penting pesawat Lion Air, yakni cocpit voice recorder (CVR) belum ditemukan. Meskipun sinyal salah satu dar black box itu sudah sempat terdeteksi. Sedangkan flight data recorder (FDR) sudah bisa diunduh dan sedang dalam proses penelitian di KNKT.

Kepala Balai Teknologi Survei Kelautan BPPT M. Ilyas menuturkan hingga petang kemarin sebenarnya masih terdeteksi ping dari CVR itu. Penyelam yang membawa ping locator masih mendengarkan suara tersebut. Namun, mereka kesulitan untuk memastikan lokasinya.
(jun/tau/idr/jpg)

Update