batampos.co.id – Repatriasi warga Rohingya dari kamp pengungsi Bangladesh dimulai hari ini, Kamis (15/11). Sejak akhir pekan lalu, penghuni Kamp Jamtoli dan Kamp Hakimpara resah. Sebagian bahkan memutuskan kabur agar tidak dipulangkan ke Myanmar. Karena itu, pemerintah Bangladesh mengerahkan petugas keamanan tambahan.
Rabu (14/11) kemarin para personel militer berpatroli di dua kamp tersebut. Tugas mereka adalah memastikan tidak ada pengungsi yang melarikan diri. Apalagi, bunuh diri. ”Militer ada di semua sudut. Mereka mengecek orang-orang dan tidak membiarkan mereka pindah antarkamp,” ujar Qadar, seorang pengungsi Rohingya, seperti dikutip The Guardian.
Jumlah personel militer di dua kamp tersebut berlipat ganda dalam dua hari terakhir. Tiap hari, saat matahari mulai terbenam, mereka datang. Esoknya, setelah fajar menyingsing, mereka baru meninggalkan kamp. Penjagaan ketat itu membuat para pengungsi Rohingya di dua kamp tersebut makin tertekan.
Nurul Islam, pemimpin komunitas Rohingya di Kamp Unchiprang, Cox’s Bazar, mengungkapkan bahwa sekitar 50 keluarga sudah melarikan diri. Mereka lari ke Kamp Kutupalong. Seorang di antaranya adalah Osiullah. Dia terpaksa kabur karena nama tiga anaknya tercantum dalam daftar repatriasi. Termasuk buah hati Osiullah yang masih berumur 5 tahun.
Osiullah punya enam anak. Tapi, hanya tiga anak yang hendak direpatriasi. Osiullah, istri, dan tiga anaknya yang lain tidak masuk daftar. Karena tidak mau keluarganya tercerai-berai, Osiullah pun kabur.
Bersamaan dengan itu, Badan Pengungsi PBB (UNHCR) melaporkan bahwa dua orang berupaya bunuh diri karena takut direpatriasi. Mereka tidak mau kembali ke kampung halaman yang kini sudah dikuasai orang lain. Mereka juga tidak ingin mengingat-ingat penderitaan yang mereka alami di sana.
”Mereka (warga Rohingya, red) yang sudah diwawancarai, tak ada satu pun yang ingin kembali (ke Myanmar),” tegas Juru Bicara UNHCR Caroline Gluck.(sha/c10/hep/jpg)
