Kamis, 2 April 2026

Keluarga Pendiri NU Dukung Prabowo

Berita Terkait


SEJUMLAH kiai NU dari Ponpes Tebuireng dan Tambak Beras, Jombang, Jawa Timur, mendeklarasikan dukungan terhadap Prabowo-Sandi di kediaman Prabowo di Kertanegara, Rabu (28/11) malam lalu.
F. tim dokumentasi Prabowo-Sandi untuk Jawa Pos

batampos.co.id – Prabowo-Sandi mendapat tambahan dukungan. Rabu (28/11) malam, sejumlah kiai dan ulama dari Jawa Timur menemui pasangan capres-cawapres nomor urut 02 itu di kediaman Prabowo. Semua merupakan keluarga pendiri Nahdlatul Ulama (NU).

KH Hasyim Karim, cucu salah seorang pendiri NU KH Bisri Syansuri, mengungkapkan ada beberapa alasan pihaknya mendukung Prabowo-Sandi. Salah satunya terkait program ekonomi yang diusung paslon nomor urut 02 tersebut.

”Kebanggaan kami yang ter­akhir adalah bagaimana kita fokus mengatasi persoalan ekonomi,” ucap Hasyim di kediaman Prabowo di kawa­san Kertanegara, Jakarta Selatan.

Hasyim mengaku bangga melihat Prabowo menjadi pembicara utama di The World 2019 Gala Dinner yang diselenggarakan The Economist di Singapura Selasa (27/11) lalu. Melalui forum itu, Prabowo menjelaskan program ekonomi yang dia usung kepada para CEO perusahaan besar di dunia.

”Seorang pemimpin harus jelas dan bisa meyakinkan saat berbicara di forum interna­sional. Masyarakat saya ha­rap bisa melihat dan menilai siapa sesungguhnya yang punya kualitas kepemimpinan,” ujarnya.

Hasyim meyakini, mengembalikan kejayaan bangsa Indonesia tidaklah mudah. Banyak problem yang tengah dihadapi bangsa ini. Namun, dia yakin duet Prabowo-Sandi punya solusi.

”Melihat Prabowo dengan ketegasannya, dengan Pak Sandi yang humble dan bisa sesuaikan diri dengan milenial, ini pasangan serasi. Kita harus objektif, kita bisa kritik Prabowo-Sandi bila salah. Tapi, kalau ada kelebihan, harus kita apresiasi,” ucap Hasyim.

Selain Hasyim, hadir memberikan dukungan KH Hasib Wahab yang juga cucu KH Wahab Hasbullah, Hj Siti Fatimah Hasib, dan KH Irfan Yusuf Hasyim, cucu KH Wahid Hasyim yang sudah menjadi salah satu juru bicara Prabowo-Sandi.

Gus Irfan, sapaan Irfan Yusuf Hasyim, menyatakan bahwa kedatangan para kiai NU itu merupakan bentuk dukungan terhadap Prabowo-Sandi.

”Perwakilan dzurriyah (keturunan) pendiri NU hadir di sini, bertukar pikiran, saling mendukung, saling memahami,” ujarnya.

Tampang Boyolali Distop

Bawaslu akhirnya menghentikan pengusutan dugaan pelanggaran kampanye ”tampang Boyolali”.

Lembaga pengawas pemilu itu menilai tidak ada pelanggaran kampanye dalam pidato Prabowo yang dianggap menyakiti warga Boyolali. Sebelumnya, Bawaslu juga menghentikan pengusutan dugaan pelanggaran kampanye penggratisan Suramadu oleh Jokowi.

Penghentian pemeriksaan kasus itu tertuang dalam surat pemberitahuan putusan yang ditandatangani Ketua Bawaslu Abhan. Surat tersebut menjelaskan bahwa ucapan Prabowo tentang tampang Boyolali tidak bisa ditindak-lanjuti karena tidak memenuhi unsur pelanggaran pemilu.

Penghentian kasus itu dibenarkan anggota Bawaslu Ratna Dewi Pettalolo. Menurut dia, institusinya sudah melakukan pemeriksaan secara serius terhadap laporan dengan nomor 16/LP/PP/RI/00.00/XI/2018. Berbagai pihak juga sudah diperiksa dan dimintai keterangan.

”Pelapor dan saksi pelapor sudah diklarifikasi,” terang Ratna saat dihubungi Kamis (29/11).

Terlapor, yaitu Prabowo, sudah diklarifikasi yang diwakili kuasa hukumnya. Mereka sudah memberikan keterangan secara gamblang terkait kasus tersebut. Seperti apa kegiatan itu berjalan dan bagaimana pidato yang menyebutkan tampang Boyolali disampaikan.

Berdasar hasil pemeriksaan, Bawaslu akhirnya mengambil kesimpulan dan keputusan bahwa pernyataan tampang Boyolali disampaikan tidak dalam kegiatan kampanye, tapi dilontarkan dalam acara peresmian posko pemenangan paslon 02 di Kabupaten Boyolali.

’’Peresmian posko pemenangan bukan kampanye,” tegas Ratna.

Dalam acara itu, lanjut dia, yang hadir adalah kader partai pengusung Prabowo-Sandi, bukan orang luar yang diundang untuk datang ke acara itu. Peresmian tersebut merupakan kegiatan internal partai pengusung sehingga yang datang adalah para kader partai, bukan masyarakat umum.

Ratna menegaskan bahwa pernyataan tampang Boyolali bukanlah sebuah penghinaan dalam kampanye. Pernyataan itu disampaikan bukan untuk menghina dan bukan dalam momen kampanye. Dengan putusan itu, kata dia, jelas bahwa apa yang disampaikan Prabowo bukan-lah pelanggaran kampanye. (bay/syn/c17/fat/jpg)

Update