Senin, 2 Februari 2026

Batam Darurat Kasus Kekerasan Perempuan dan Anak

Setahun 125 Anak dan Perempuan jadi Korban Kekerasan dan Pelecehan

Berita Terkait

batampos.co.id – Puncak 18 hari anti kekerasan terhadap anak dan perempuan, ditutup dengan diskusi tentang kekerasan anak dan perempuan di Batam selama tahun 2018.

Data dari Romo Pascal, selaku pegiat komunitas save migrant atau komunitas anti kekerasan terhadap anak dan perempuan, selama 2018 ada sedikitnya 125 kasus kekerasan perempuan dan anak yang dilaporkan. Jumlah tersebut tak jauh beda dibandingkan tahun sebelumnya.

“Jumlah sebanyak ratusan korban yang didominasi usia remaja dan anak atau masih di bawah umur yang terjadi di Batam, sudah bisa dikategorikan darurat. Dari kasus yang dilaporkan sebanyak itu, 50 persen masuk hingga ke ranah hukum. Sisanya ada juga yang selesai dengan jalur mediasi,” ujar Romo Pascal.

Dari sekian banyak kasus kekerasan perempuan dan anak, lanjutnya, 85 persen didominasi kasus kekerasan seksual terhadap anak dan perempuan.

“Target tahun depan, kami akan memperkuat jaringan lagi, juga memperkuat koordinasi dengan pemerintah dan juga bagaimana terus mensosialisasikan ke masyarakat,” terangnya.

Sedangkan Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Anak Kota Batam, Misni membenarkan apa yang dikatakan Romo Pascal, selama 2018 sudah ada ratusan korban terkait kekerasan anak dan perempuan.

“Dari hasil survei kualitas hidup perempuan dari tiga perempuan, satu selalu jadi korban kekerasan. Sebenarnya yang terlaporkan jadi korban kekerasan itu belum seberapa sih meski jumlahnya ratusan, dibandingkan kasus kekerasan anak dan perempuan yang tak terlaporkan di masyarakat,” ujar Misni.

Dengan semakin tahunya masyarakat akan tahunya hak-haknya mereka mendapatkan perlindungan hukum dan semakin aktifnya komunitas, lanjutnya, kasus pasti akan semakin tinggi.

“Karena orang akan berani melaporkan dan berani meminta keadilan apabila menjadi korban kekerasan. Untuk kedepannya, kami dari Pemko Batam akan lebih intens lagi berkomunikasi dan berkoordinasi dengan pegiat atau komunitas anti kekerasan anak dan perempuan di Batam ini. Sebab, dari merekalah kami tahu ada kejadian kekerasan perempuan dan anak di Batam,” ujar Misni mengakhiri. (gas)

Update