batampos.co.id – Puluhan pelatih renang Batam dan Kepri mengikuti sertifikasi pelatih renang level D yang diselenggarakan Central Aquatic Club (CAC) bekerja sama Persatuan Renang Seluruh Indonesia (PRSI) Kota Batam dan Provinsi Kepri, di Politeknik Negeri Batam, Sabtu (12/1) hingga Minggu (13/1). Dalam pelatihan ini diberikan pemahaman teknik dan tahapan pembinaan prestasi atlet renang. Selain sertifikasi pelatih renang level D, juga digelar pelatihan wasit juri.
Sekretaris PRSI Kota Batam Helmy Destra mengatakan kegiatan yang digelar untuk pertama kalinya ini memberikan manfaat besar dalam pembinaan renang.
”Kegiatan ini diselenggarakan oleh klub yang baru terbentuk akhir Desember lalu,” tuturnya, Minggu (13/1/2019).
”Tentunya ini menjadi perkembangan renang di Batam. Sertifikasi pelatih adalah bagian dari program PRSI Kota Batam yang sebetulnya rencananya akan diselenggarakan tahun lalu,”sambungnya.
Helmy mengatakan pihaknya menyarankan dan mengajak seluruh klub untuk aktif dalam seluruh program kerja PRSI Kota Batam.
”Kami meminta klub dan perkumpulan renang aktif tak hanya menyelenggarakan pelatihan tatapi juga kejuaraan. Ini adalah langkah maju untuk meningkatkan prestasi renang. Level D adalah awal dari sertifikasi pelatih untuk meningkatkan kemampuan dalam meningkatkan sumber daya manusia terutama pelatih renang,” tuturnya.
Sementara itu, Sekretaris Umum KONI Batam Syawaludin mengatakan KONI mendukung kegiatan positif yang dilaksanakan demi meningkatkan pembinaan keolahragaan.
”Pelatih harus mengikuti sertifikasi untuk menambah dan meningkatkan kemampuan,” tegasnya.
”Selamat pada para peserta. Jadilah pelatih yang memberikan sumbangsih dan motivasi bagi atlet untuk meraih prestasi. Keberhasilan atlet dalam meraih prestasi tergantung pada pembinaan yang dilakukan oleh pelatih,” ujarnya.
Ia berharap dengan dilaksanakannya pelatihan ini akan meningkatkan prestasi atlet renang Batam.
”Pelatihan ini memang sangat diperlukan agar para pelatih renang bisa menelurkan prestasi maksimal di masa yang akan datang,” jelasnya.
Pembinaan preatasi atlet renang diungkapkan rule and regulation PB PRSI Suroyo berawal dari pembinaan usia dini.

”Diperlukan pembinaan jangka panjang dan berjenjang untuk bisa meningkatkan prestasi atlet renang. Selain itu juga diperhatikan tahapan-tahapan usia dalam pembinaan atlet. Jangan sampai karena kepuasan sesaat malah akan merusak masa depan atlet,” tegas Suroyo.
Menurutnya pembinaan atlet renang harus mengedepankan pada proses, bukan pada hasil sementara.
”Ini sesuai dengan konsep yang dicanangkan Kemenpora pada pembinaan berjangka panjang. ”Jangan sampai saat atlet memasuki jenjang senior malah tak bisa meraih prestasi karena sudah burning out waktu di kelompok umur,” kata Suroyo.
Pelatihan yang diselenggarakan selama dua hari ini, terbagi menjadi dua tahap. Yakni teori dan praktik. Praktik dilaksanakan di kolam renang The Central Sukajadi. Di akhir pelatihan juga dilaksanakan ujian untuk melihat sejauh mana peserta menyerap materi yang diberikan.
”Harapannya para peserta mampu menyerap dan menerapkan materi yang diberikan dalam pelatihan ini. Memang masih banyak pelatih renang yang belum mengerti mengenai pembinaan atlet yang benar. Belum lagi tahapan dalam pelatihan dan pembentukan atlet,” terangnya.
Beberapa faktor yang menjadi pokok perhatian Suroyo dalam pelatihan adalah tahapan, metode, dan teknik melatih.
”Dalam renang yang harus disadari adalah memahami teknik melatih,” katanya.
”Karena dalam renang tidak bisa membina dengan menggunakan metode class room, tetapi harus secara individual. Karena harus memperhatikan seluruh aspek satu persatu atlet binaannya,” tambahnya Suroyo.
Dalam pemberian materi bagi wasit dan juri gaya, Suroyo mengingatkan agar semua peraturan kejuaraan merujuk pada regulasi yang ditetapkan oleh FINA (Federasi Renang Internasional).
”Dari Sabang sampai Merauke harus menggunakan regulasi yang sama,” tegasnya.
Selain itu, sambungnya, untuk peralatan memang harus distandarkan.
”Artinya harus sama yang digunakan. Jangan sampai perbedaan justru menjadi celah dalam melakukan penilaian. Bahkan perbedaan dalam hal merk stopwatch bisa menjadi celah saat bertugas,” tutupnya. (yan)
