Kamis, 30 April 2026

Gas 3 Kg Tembus Rp 25 Ribu

Berita Terkait

batampos.co.id – Warga masih kesulitan mendapatkan gas elpiji 3 kilogram (kg) di pangkalan-pangkalan resmi hingga Kamis (24/1). Ujung-ujungnya, warga pun terpaksa harus membeli gas bersubsidi tersebut di kios atau warung yang harganya jauh di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditentukan pemerintah sebesar Rp 18 ribu per tabung. Bahkan sudah menembus hingga Rp 25 ribu per tabung.

“Sekarang sulit mendapatkan gas 3 kg di pangkalan. Saya biasanya langsung ke kios-kios yang ada di Simpang Barelang sana. Di sana pasti ada, tapi lebih mahal. Satunya (pertabung, red) mencapai Rp 25 ribu,” kata Ertina, warga Genta II, Batuaji, kemarin.

Ia menyebutkan, beberapa pangkalan gas elpiji di sekitar tempat tinggalnya kerap kehabisan stok.

“Kata orang pangkalannya, kalau gas datang langsung diserbu warga, jadi cepat habisnya,” ujarnya.

Pantauan di lapangan kemarin, gas bersubsidi yang dipe-runtukkan bagi masyarakat kurang mampu tersebut sangat mudah dijumpai di kios-kios di Simpang Barelang, Tembesi maupun di kios-kios Mandalay, Sagulung. Ditumpuk dan berjejer di depan kios. Harga per tabungnya sudah ditulis dalam selembar kertas atau kardus.

“Kami kan beli juga mas. Jadi, kalau mau kami jual lagi, ya sudah pasti kami ambil untung. Ini kan kami beli sekitar Rp 18 ribu (per tabung, red). Ya kami harus ambil untung,” kata Wanda, pemilik kios di Mandalay, Sagulung.

Ia mengaku selama ini tidak pernah ada masalah dari pemerintah daerah. Termasuk dari Pertamina belum pernah ada yang melakukan razia atau pengecekan.

Lorensius membeli gas 3 kilogram di sebuah pangkalan di Tanjunguncang, Batuaji, Rabu (23/1/2019).
foto: batampos.co.id / dalil harahap

“Belum pernah kok. Bebas saja berjualan di sini. Lagian yang kami jual kan paling satu atau dua tabung saja,” sebutnya.

Kuota Tak Sebanding

Kelangkaan gas elpiji 3 kg juga terjadi di wilayah Tanjungpiayu, Seibeduk. Kondisi ini sangat dirasakan oleh ibu-ibu rumah tangga maupun sejumlah pedagang rumah makan di Perumahan Bidaayu, Kelurahan Mangsang, Tanjungpiayu. Warga terpaksa membeli gas di pedagang eceran dengan harga Rp 20 ribu sampai Rp 23 ribu per tabung.

Fikar, 33, pemilik rumah makan ini mengaku sudah dua hari ini dia kewalahan mencari gas melon 3 kg di pangkalan. Biasanya selalu kebagian minimal dua sampai tiga tabung gas. Namun, kini ia pun harus mencari ke pangkalan lainnya yang berjarak cukup jauh.

“Soalnya ini sudah kebutuhan sehari-hari. Tapi sudah dua hari ini kosong, jadi kemarin dapat di kios eceran Rp 22 ribu per tabung,” ujarnya.

Juliana, 38, pemilik pangkalan gas di Seibeduk mengaku kelangkaan gas 3 kg karena begitu pasokan datang langsung diserbu warga.

“Pagi datang, siangnya sudah habis. Kalau di sini sudah ada pembagian untuk rumah tangga dan pedagang,” katanya.

Dia menyatakan kelangkaan bukan karena harga gas naik ataupun pihak Pertamina mengurangi jatah gas yang diantar ke pangkalan. Namun, jumlah kebutuhan masyarakat tidak sebanding dengan kuota yang diberikan. Kata dia, kuota dari Pertamina hanya 50 sampai 60 tabung sekali pengiriman.

“Di sini ada 130 kepala keluarga. Jadi jelas tidak cukup. Apalagi, memang untuk UKM tidak membatasi jumlah gas yang bisa diambil. Umumnya UKM ambil empat sampai enam tabung,” jelasnya.

Sementara itu, warga Bengkong juga masih kelimpungan mencari gas 3 kg di pangkalan resmi. Anehnya, banyak terdapat di pedagang eceran. Suharti, seorang pengecer mengaku saat gas masuk ke pangkalan ia lang-sung mengambil jatah hingga 30 tabung. Dari pangkalan ia beli dengan harga Rp 20 ribu, kemudian ia jual kembali ke warga Rp 25 ribu pertabung.

“Saya memang jualnya segitu (Rp 25 ribu pertabung, red). Agak mahal dari pangkalan resmi,” ujarnya.

Dia mengatakan jatah gas yang ia ambil dari pangkalan kadang terjual habis dalam sehari, itu karena tingginya penggunaan gas, terutama bagi pelaku wirausaha seperti penjual gorengan dan ayam penyet.

“Mereka sekali beli dua sampai tiga tabung,” ucapnya.

Sementara bagi warga, kelangkaan gas cukup merepotkan mereka. Banyak waktu terbuang karena harus mencari gas dari pangkalan ke pangkalan lain.

“Kalau capek nyari, ya terpaksa beli di penge-cer yang harganya selangit,” kata Ulanda, warga Bengkong Sadai.

Kelangkaan gas ini, kata Ulanda, sudah terjadi dua minggu belakangan ini. Ia berharap pemerintah bisa memberikan solusi agar kelangkaan tidak berlarut-larut. “Kalau beli ke pengecer terus berat rasanya, meski cuman beda tujuh ribu,” tuturnya.

Seorang pemilik pangkalan gas 3 kg di Bengkong, Nurhayati mengaku pasokan gas tetap normal. “Gas masuk tiga kali seminggu,” katanya.

“Untuk kuotanya, ada sekitar 200-300 tabung gas yang diantar oleh agen Pertamina,” sambungnya.

Disperindag-Pertamina Koordinasi

Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) terus berusaha mengatasi kelangkaan gas elpiji 3 kg. Kepala Disperindag Kota Batam Gustian Riau menyebutkan, pihaknya bersama Pertamina dan pihak terkait akan membentuk tim khusus agar persoalan kelangkaan gas subsidi tersebut tak lagi terjadi.

“Mudah-mudahan mela-lui tim ini ada efeknya. (Pembentukan tim) sedang digodok,” kata Gustian, kemarin.

Menurut pria yang baru dilantik menjabat Kepala Disperindag pada 14 Januari lalu ini, distribusi gas elpiji sudah harus ditertibkan agar benar-benar tepat sasaran, sehingga sesuai peruntukannya bagi masyarakat miskin.

“Dalam waku dekat kami akan koordinasi dengan Pertamina, juga para agen-agennya,” tegasnya.

Menurut dia, sebelumnya Disperindag Batam, Disperindag Kepri, Pertamina juga pihak terkait lainnya sempat melakukan kegiatan pengawasan. Namun ke depan melalui tim yang akan dibentuk akan lebih ditekankan soal penindakan.

“Ada yang perlu ditertibkan, akan ditertibkan,” ujarnya.

Ia menyampaikan, soal beberapa daerah yang diinformasikan terjadi kelangkaan, Pertamina akan menambah kuota gas elpiji di wilayah tersebut.

“Di tempat yang kosong akan ditambah kuotanya,” ucapnya.

Gustian mengatakan, kelangkaan terjadi karena beberapa faktor, seperti ada dugaan aktivitas penjualan kembali gas yang diambil dari pangkalan dengan HET dan dijual kembali dengan harga yang mahal. Dugaan lain adalah masih ada usaha seperti rumah makan kelas menengah atas yang masih pakai gas subsidi tersebut.

“Kalau ada pangkalan bermain izinnya nanti kita cabut. Insha Allah ke depan tidak ada lagi kelangkaan,” ujarnya.

November lalu, Disperidag Batam, Disperindag Kepri bersama Pertamina turun langsung melakukan pengawasan di wilayah Sagulung. Saat itu, Sales Executive LPG Pertamina Kepri, Andri Setyawan mengatakan gas elpiji tidak seharusnya langka. Sebab, dari data konsumsi bulanan, pemenuhan kebutuhan untuk masyarakat miskin sejatinya sudah 18 tabung perbulan, sementara kebutuhan rumah tangga miskin hanya empat sampai lima tabung perbulan.

“Sebut saja kebutuhan lima tabung per bulan, 13 tabung kemana?” kata Andri saat pengawasan lapangan elpiji 3 kg di beberapa pangkalan LPG PSO di Kecamatan Batam Kota dan Kecamatan Sagulung, Selasa (27/11/2018) lalu.

Ia menduga, sebagian besar gas justru dinikmati oleh rumah tangga kaya dan usaha yang sudah beromzet tinggi. Untuk diketahui, kata dia, selain rumah tangga miskin, pengguna elpiji adalah UMKM yang omzetnya Rp 300 juta setahun, atau rata-rata Rp 1 juta sampai Rp 1,5 juta per hari. Jika omzet di atas angka tersebut, tidak disebut UMKM. Kebutuhan UMKM diprediksi hanya 4 kali lipat kebutuhan rumah tangga miskin.

“Berarti itu (kelebihan elpiji, red) ke rumah tangga mampu dan restoran dengan omzet besar,” ujarnya saat itu. (*)

Update