
batampos.co.id – Drainase yang bagian atasnya jadi area pejalan kaki di kawasan Nagoya ternyata tidak aman digunakan. Pasalnya, ada belasan lubang tempat masuk untuk membersihkan drainase jika tersumbat sampah tidak berpenutup. Kalaupun berpenutup, hanya menggunakan kayu bekas yang sudah rapuh.
Lebih mirisnya lagi, tak ada penanda atau pemberitahuan jika lubang drainase tersebut tanpa penutup. Sehingga sangat membahayakan warga, khususnya pejalan kaki. Terlebih jika malam hari.
Seperti terlihat di drainase pinggir Jalan Imam Bonjol, Jalan Teuku Umar dan Raja Ali Haji, dan lainnya. Ukuran lubang drainase pun beragam, mulai 2×1 meter, 1×1 meter. Namun, kedalaman lubang drainase tersebut diperkirakan sekitar 2 meter.
Aryo, karyawan rumah makan di kawasan Kampung Bule, Nagoya mengatakan lubang-lubang drainase tanpa penutup tersebut sudah dibiarkan menganga sejak lama. Bahkan, menurutnya sudah banyak pejalan kaki yang hampir jatuh. “Sudah banyak yang hampir kepeleset, bahkan ada yang sampai jatuh. Untungnya ada teman, jadi ada yang tahu kalau jatuh,” ujar Aryo, Rabu (6/2/2019).
Menurut dia, kondisi lubang drainase itu cukup berbahaya pada malam hari. Sebab, lampu jalan yang tertutup perpohonan membuat lubang-lubang drainase tersebut sulit terlihat. Apalagi kawasan Kampung Bule banyak dikunjungi warga asing yang ingin menikmati hiburan.
“Kalau orang mabuk yang lewat, selesai lah itu. Berharap cepat ditanggulangi,” terangnya.
Sementara beberapa pejalan kaki di Jalan Teuku Umar, tepatnya di depan Graha Sulaiman, Nagoya menyayangkan kondisi lubang drainase yang dibiarkan terbuka begitu saja. Ukuran lubang yang cukup besar dan dalam, cukup membahayakan pejalan kaki.
“Padahal jalan sudah bagus, eh ternyata ada lubang di tengah pedestrian. Jelas ini sangat membahayakan,” jelas Eka Risma yang siang kemarin sedang berjalan santai menuju Kompleks Bumi Indah.
Ia berharap, pemerintah segera memperbaiki atau menutup lubang-lubang drainase tersebut. Jangan sampai ada korban dulu, baru ditangani.
“Katanya kota wisata, namun akses untuk wisata seperti pedestrian ini dibiarkan terbuka begitu saja,” imbuh wanita 25 tahun itu. (she)
