
batampos.co.id – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Batam mendata pengais sampah yang berada di Tempat Pembuangan Akhir (TPA), Punggur tahun ini. Hal ini disampaikan Kepala DLH Batam, Herman Rozi, Sabtu (23/2).
“TPA ini kan tidak semua orang bisa masuk. Karena memang area terlarang. Jadi untuk menghindari hal yang tidak diinginkan, kami akan data dan kasih mereka kartu khusus untuk masuk ke TPA,” jelas dia.
Ia menyebutkan saat ini lebih dari 600 pengais sampah atau pemulung menggantungkan hidup dari mengais sampah di TPA. Untuk itu ke depan mereka harus paham dan mengerti area mana saja yang boleh mereka datangi.
“Tidak semua area boleh dimasuki, karena ada dampaknya,” imbuhnya.
Herman menyebutkan mereka yang menjadi pemulung merupakan warga yang hidup di garis kemiskinan, pihaknya juga tidak bisa melarang pemulung memasuki TPA.
“Dilarang takkan bisa. Makanya kami data. Tujuannya tak lain untuk melindungi pemulung juga. Jadi yang masuk ke TPA harus terdata. Kalau terjadi sesuatu setidaknya kami ada data,” bebernya.
Mantan camat Lubukbaja ini menerangkan langkah ini juga salah satu upaya membersihkan TPA dari jangakauan warga. Sebelumnya warga yang tinggal di dalam TPA juga telah dipindahkan.
“Ini tak lain demi keselamatan mereka juga. Kejadian longsor beberapa waktu lalu setidaknya menjadi pelajaran,” ungkap pria yang pernah mengepalai Dinas Perumahan, Permukiman dan Pertamanan (Perkimtan) Batam ini.
Ia menambahkan ke depan TPA akan dibenahi dan dijadikan wisata edukasi, sehingga bisa dibuka untuk umum khususnya pelajar. Menurutnya Batam saat ini tengah menuju kota wisata. Untuk itu semua dinas memang harus berfikir bagaimana mendukung kemajuan wisata di Batam.
“Jadi semua bisa menjadi lokasi wisata. Untuk TPA nanti bisa wisata edukasi. Pengunjung bisa belajar berapa sampah yang dihasilkan dan dampak penggunaan sampah plastik misalnya. Jadi semua bisa diarahkan ke wisata,” tutupnya. (yui)
