
batampos.co.id – Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Batam mengungkapkan ada kesalahan pola tanam yang menyebabkan produksi komoditi bayam bejibun. Untuk diketahui keadaan ini membuat harga bayam anjlok, dan petani di Tembesi, Sagulung membuang bayam hasil pertaniannya.
“Karena pola tanamnya tak diatur. Nanam serentak,” kata Kepala DKPP Batam Mardanis, kemarin.
Padahal, kata dia, DKPP sebelumnya telah menyarankan kepada para petani untuk bergabung di koperasi. Bahkan, menurutnya, lewat koperasi DKPP telah mensosialisasikan perihal pentingnya koperasi.
“Koperasi ini supaya diatur, petani si A tanam komoditi tertentu, dan si B tanam yang lain. Kalau begini petani dapat untung dan masyarakat tak berat juga kan,” imbuhnya.
Ia mengungkapkan, biasanya bayam merupakan satu dari beberapa komoditi penyumbang inflasi di Batam karena mahal yang disebabkan barangnya langka. Namun kondisi ini berbeda saat ini, karena bayam cukup banyak.
“Hampir tiap bulan bayam, cabe merah, rawit dan telor. Bayam bisa tembus Rp 20 ribu kalau mahal. Sekarang murah sekali, di botania saya cek hanya Rp 5 ribu paling tinggi Rp 6 ribu,” terangnya.
Ia mengatakan bayam yang beredar di Batam tidak hanya dari Tembesi, tapi juga Nongsa, Barelang hingga luar Batam yakni dari Bintan. “Jadi banyaknya tak terkontrol,” kata dia.
Namun ia mengaku, fluktuasi harga bayam tidak lama. Ia memperkirakan kejadian ini bakal selesai dalam seminggu ke depan.
“Kenapa cepat berubah, Bayam ini kalau sudah dipanen kan cepat rusak. Dan tanam masa pun paling sebulan,” imbuhnya. (iza)
