batampos.co.id – Sri Junianti, 36, terlihat tergopoh menuju tempat duduk di bawah pohon jambu, di pekarangan rumahnya di Baloi Kolam, Batam, Kamis (14/3) sore lalu. Cuaca panas yang menyengat sore itu membuat badannya gerah sehingga ia memilih keluar rumah untuk mencari angin.
Tak hanya gerah, cuaca panas itu juga memicu alergi panasnya kambuh. Seluruh tubuhnya terasa gatal karena biduran.
“Panas sekali. Tak tahan saya. Kipas sudah tak mempan. Yang ada anginnya malah tambah panas,” ungkapnya sambil menggaruk tangannya.
Sambil merapikan hijabnya, sesekali ibu tiga anak ini melap peluh di kening dan lehernya. Sudah hampir seminggu ia mengalami alergi panas. Kalau alerginya itu kambuh, seluruh tubuhnya dipenuhi biduran. Bentolan di mana-mana. Rasa gatal menjalar di sekujur tubuhnya. Makin digaruk justru akan semakin gatal dan panas.
“Kalau keringat, sakitnya naudzubillah,” ungkapnya.
Tak hanya dia, dua anaknya juga sudah dua hari ini demam.
“Yang paling kecil itu demam sehabis bermain bola. Pulang sekolah, panas-panas main bola. Demamlah dia. Tadi tak sekolah,” ujar Sri.
Bukan hanya Sri dan anak-anaknya, warga lain ternyata juga merasakan dampak dari panasnya cuaca di Batam akhir-akhir ini. Bagir Abunumay, 34, salah satunya. Warga Batuampar ini mengaku sering merasakan sakit kepala. Terutama jika banyak beraktivitas di luar ruangan.
“Malas jadinya keluar rumah,” ujarnya.
Bagir mengaku, akhir-akhir ini kondisi tubuhnya juga menjadi cepat lelah.
“Lihat aplikasi di ponsel saja, siang hari suhu sampai 34 derajat celcius. Bahkan disaranin jangan terpapar sinar matahari terlalu lama karena intensitas sinar ultra violetnya tinggi dan bisa mengakibatkan sunburn,” jelasnya.
Mengatasi masalah panas yang mengakibatkan daya tahan tubuhnya menurun ini, Bagir mengaku lebih banyak minum air putih dari jumlah biasanya, dan juga mengkonsumsi minuman vitamin C.
Yang dialami Juli Yuesti lebih parah lagi. Sudah tiga hari ini dia harus menunggui putrinya, Mariam, di ruang Fransiskus, Rumah Sakit Elisabeth, Batam Kota. Putri semata wayangnya mengalami demam dan muntaber.
“Awalnya demam, lemas, dan muntah-muntah. Dalam sehari bisa sampai enam kali muntahnya. Awalnya kami kira karena cuaca panas. Kan sudah berminggu-minggu teriknya matahari tak manusiawi,” ujar Juli, Jumat (15/3) lalu.
Juli mengaku sempat merawat anaknya tersebut di rumah. Namun karena tak kunjung membaik, maka mereka membawanya ke rumah sakit.
“Hari kedua, oleh dokter dinyatakan muntaber. Karena salah makan juga. Tapi ini sudah mau pulang. Kondisinya sudah membaik,” ungkapnya.
***
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Hang Nadim Batam mencatat, Batam saat ini tengah mengalami kondisi cuaca ekstrem. Terjadi peningkatan gelombang suhu panas, dimana suhu tertinggi di Maret berjalan ini mencapai 33,9 derajat Celcius. Pada kondisi siang hari, suhu panas ini bisa ditandai dengan gelombang fatamorgana yang bisa dilihat langsung secara kasat mata.
“Suhu bisa mencapai 33,9 derajat Celcius, tapi ini belum puncaknya. Prakiraan, suhu tertinggi di Batam nanti terjadi pada 20 Maret mendatang. Tanggal tersebut merupakan puncak terdekat matahari berada persis di tengah garis ekuator,” ujar Kepala Seksi Data dan Informasi BMKG Hang Nadim Batam, Suratman di Nongsa, Jumat (15/3) lalu.
Suratman menyebutkan, Indonesia yang beriklim tropis mengalami dua kali kulminasi panas dalam setahun. Terjadi pada rentang Maret dan September. Siklus ini, menurutnya, merupakan kejadian alam yang normal. Jadwal biasa dalam setiap periodiknya. Karena secara astronomis, Indonesia terletak di garis ekuator. Atau di Indonesia biasa disebut garis khatulistiwa karena berada pada posisi lintang 0 derajat bumi.
“Nah Batam adalah kondisi terdekat dengan Riau yang dilalui garis khatulistiwa selain Sumatera Barat, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Maluku, dan Papua,” kata dia.
Dilihat dari klimatologi, pada Maret, posisi matahari bergerak ke arah ekuator, sehingga membuat suhu lebih panas dibandingkan bulan-bulan sebelumnya. Apalagi letak geografis Batam ini pulau.
“Dikelilingi lautan, jadi saat proses penguapan air laut akibat terik matahari, suhu panas meningkat dari biasanya,” jelasnya.
Tak hanya Batam, negara tetangga seperti Singapura juga mengalami masalah cuaca panas. Badan Meteorologi (MSS) Negeri Singa tersebut memperkirakan, cuaca panas terik ini akan berlangsung hingga akhir Maret mendatang.
Dilansir dari Channel News Asia pada Sabtu (16/3) lalu, Direktur Umum MSS Wong Chin Ling mengatakan, gelombang cuaca panas sejak Februari ini merupakan salah satu suhu terpanas dalam 90 tahun terakhir di Singapura.
“Suhu terendah 24 derajat Celcius, dan suhu tertinggi hingga saat ini 34 derajat Celcius. Puncaknya, ada satu periode bar di Maret dimana suhu maksimum harian bisa tercatat dengan rekor tertinggi 35,7 derajat di Choa Chu Kang, dan suhu terendah 21,5 derajat Celcius di Admiralty,” ujarnya.
Gelombang cuaca panas ini mengakibatkan curah hujan sangat sedikit baik di Singapura, maupun di kawasan terdekatnya. “Curah hujan masih cenderung jauh di bawah normal. Tapi, ada saat-saat tertentu, hujan turun dengan deras disertai petir dan angin kencang. Tapi dalam skala yang sangat singkat sekali. Pada malam hari,” ungkapnya.
Menurutnya, cuaca saat ini lebih panas dari biasanya karena massa udara yang lebih kering dari Samudra Pasifik yang membentang di kawasan Asia Tenggara. Kondisi seperti ini, menurut MSS bisa mengakibatkan mahluk hidup rentan dehidrasi. Umumnya ditandai tumbuh-tumbuhan yang sangat cepat layu.
Senada dengan pernyataan tersebut, Suratman menyebutkan, kondisi cuaca dengan terik matahari yang menyengat ini juga diakibatkan persebaran awan cumulus yang jumlahnya sangat sedikit di langit Batam. Rendahnya kuantitas awan ini diakibatkan kelembapan (humidity) udara di lapisan atas cenderung rendah, ditambah tekanan angin dari arah timur laut sangat tinggi, mencapai kecepatan maksimal 18 knot.
“Atmosfir tak stabil. Selain memupuskan pertumbuhan awan, otomatis membuat potensi hujan jadi lebih sedikit. Istilahnya, gimana awan mau tumbuh, sebelum terbentuk saja sudah ditiup angin,” jelas Suratman.
Dari pantauan Stamet Hang Nadim di Nongsa, tercatat dari 7 hingga 14 Maret, suhu tertinggi tercatat 33,9 derajat celcius yang terjadi Selasa (12/3) lalu.
“Pada 7 Maret suhu tercatat 32,8, lalu 8 Maret 32,3 derajat Celcius, 9 Maret 32,4 derjat Celcius, 10 Maret 31,8 derajat Celcius, 11 Maret 32,7 derajat Celcius, 12 Maret 33,9 derajat Celcius, 13 Maret 32,6 derajat Celcius dan 14 Maret 32,8 derajat Celcius,” katanya.
Suhu di Maret, kata Suratman, cukup tinggi dibandingkan Januari dan Februari lalu. Di Januari suhu rata-rata tercatat 27,9 derajat Celcius. Suhu paling tinggi di Januari, 32,9 dengan kelembaban 78 persen. Sedangkan, Februari suhu rata-rata tercatat 28,2 derajat, suhu tertinggi 32,5 derajat.
“Sepanjang tahun 2018, suhu tertinggi itu Oktober, 34,6 derajat Celcius dan terendah di Januari 21,2 derajat celcius,” kata Suratman.
Suratman mengatakan dilihat dari siklus 30 tahunan yang telah tercatat di Stamet Hang Nadim, kondisi cuaca panas seperti ini merupakan fenomena biasa. Tapi meski pun statusnya fenomena biasa dalam BMKG, pihaknya tetap mengimbau supaya masyarakat tidak sembarangan membakar hutan, atau membuang puntung rokok.
“Selalu jaga kesehatan di cuaca kering seperti ini,” ujarnya.
***
Cuaca panas, tak bisa dipungkiri, sangat berpengaruh pada kondisi kesehatan manusia. Alasannya, perubahan suhu bumi yang terjadi mendadak akhir-akhir ini di Batam, banyak menimbulkan penyakit. Mengapa?
“Ketika suhu bumi meningkat, tubuh kita tak serta merta bisa cepat beradaptasi terhadap perubahan suhu tersebut,” kata dokter Umum Rumah Sakit Elisabeth Lubukbaja, Yocki Verinico Simamora, di Baloi, Jumat (15/3) lalu.
Akibatnya, kata dr Yocki, akan terjadi mal dan dehidrasi. Ketika dehidrasi terjadi dan tak langsung ditangani, asupan oksigen berkurang ke otak dan juga ke darah, sehingga mengakibatkan imunitas melemah. Dampak selanjutnya sangat mungkin akan timbul penyakit.
“Paling berbahaya bisa pingsan,” kata dr Yocki.
Menurut Yocki, cuaca panas dengan suhu ekstrim saat ini bisa menyerang siapa saja, baik balita, anak-anak, hingga dewasa. Namun umumnya yang paling rentan anak-anak usia sekolah. Hal itu juga yang terlihat dari catatan pasien yang datang ke rumah sakit di tempat ia bekerja.
“Setiap yang datang ke sini, paling banyak keluhannya pusing dan demam. Suhu tubuh rata-rata pasien anak-anak yang kami periksa 37,5 derajat. Ukuran segitu, cuma pengaruh dehidrasi. Kan kalau kita dehidrasi, tak mampu lagi menetralisir suhu dalam tubuh, akibatnya pasti demam,” ujar dokter yang juga bertugas di Puskesmas Sambau, Nongsa, ini.
Akibat cuaca panas ini, Yocki menyebutkan terjadi peningkatan jumlah kunjungan pasien setiap harinya. “Rata-rata 15 pasien penambahan setiap hari. Anak-anak dan juga dewasa,” jelasnya.
Untuk pasien dewasa, kerap kali mereka datang berobat dengan keluhan suhu tubuh yang abnormal karena gampang berkeringat, meriang, gampang lelah, cepat pusing, dan sulit mengontrol emosi.
“Nah, yang jadi berbahaya, suhu panas, kita tetap berkeringat, tapi cairan dalam tubuh kita tak terpenuhi. Akibatnya lemas, bahkan bisa pingsan. Ketika cairan tubuh kita sedikit, asupan oksigen otomatis menurun. Kalau tak segera ditangani ya berbahaya bagi nyawa,” jelas Yocki.
Sementara itu, dokter spesialis penyakit dalam Soritua Sarumpaet mengatakan, suhu ekstrem yang disebabkan terik matahari saat ini memang sangat berpengaruh bagi kesehatan. Karena kondisi ini bisa menyerang kekebalan tubuh. Kalau kondisi tubuhnya lemah, bakteri dan virus akibat cuaca ekstrem ini cepat masuk ke dalam tubuh dan mengakibatkan penyakit.
“Bisa demam, bisa infeksi pernapasan, pening, sakit kulit, dan bahkan bisa hilang konsentrasi,” ujarnya, Rabu (13/3) lalu.
Ketika ditemui di tempat praktiknya di kawasan Raden Patah, Lubukbaja, Soritua menyebutkan cuaca panas bisa mengakibatkan kondisi tubuh terganggu. Kadar elektrolit dalam tubuh bisa berkurang. Akibatnya, dapat memengaruhi metabolisme dan kebugaran tubuh. Lebih parahnya lagi, kadar magnesium yang rendah dapat mengancam keselamatan jiwa.
Orang yang tinggal di daerah panas atau bersuhu tinggi dengan kelembapan udara yang rendah cenderung lebih sering berkeringat. Sehingga akan lebih mudah kehilangan cairan dan elektrolit. Kalau dehidrasi, otomatis tubuh akan kekurangan elektrolit. Elektrolit merupakan zat yang bila dilarutkan dalam air akan menghasilkan cairan yang dapat menghantarkan listrik ke dalam sel tubuh manusia supaya dapat bekerja dengan normal dalam kehidupan sehari-hari.
“Terdiri dari magnesium, natrium, dan klorida,” ujar Soritua.
Menurutnya, kekurangan elektrolit bukan hanya disebabkan oleh diare, melainkan kondisi perubahan iklim juga sangat mempengaruhi. Lebih lanjut Soritua mengungkapkan, kondisi panas saat ini, tubuh akan sering mengeluarkan keringat.
“Kalau banyak keringat, terus tubuh menjadi lemah, minum oralit sebagai pertolongan pertama. Itu bisa mengembalikan ion tubuh yang terkuras. Kalau tidak, minum air kelapa murni. Paling penting, batasi juga aktivitas di luar,” ungkapnya.
Sementara Kepala Dinas Kesehatan Kota Batam, Didi Kusmarjadi mengimbau supaya warga Batam peduli menjaga kesehatan masing-masing saat kondisi cuaca panas yang terjadi akhir-akhir ini. “Banyak minum air putih, istirahat yang cukup, makan-makanan yang bergizi, dan berolahraga dengan teratur. Itu bisa meningkatkan immunitas tubuh,” ujar Didi ketika ditemui di Sekupang, Kamis (14/3) lalu.
Menurut Didi, Indonesia yang beriklim tropis, kondisi musim kemarau yang berkepanjangan disertai panas terik matahari sangat baik bagi perkembangan bakteri, virus, jamur, dan parasit. Berbagai mikrorganisme tersebut tumbuh subur akibat kelembapan di udara. Kondisi ini, bisa menyebabkan penyakit yang berhubungan dengan bakteri dan udara bertumbuh. Demikian juga dengan penyakit kulit akibat jamur.
“Persebaran bakteri dan virus akibat cuaca panas berdampak pada kesehatan pernapasan manusia. Makanya saat cuaca panas seperti ini, infeksi saluran panas rentan terjadi, khususnya pada anak-anak,” jelas Didi.
Namun, menurut Didi, yang paling berbahaya akibat dari serangan hawa panas seperti yang terjadi saat ini di Batam adalah head stroke. Ini terjadi akibat dehidrasi parah. Penderitanya mengalami ketidakstabilan emosi karena cairan yang berkurang di dalam tubuh, otomatis asupan oksigen ke otak menurun. Mimisan dan bisa pingsan.
“Kalau tak segera ditangani bisa mengakibatkan kematian. Saya sudah mengimbau itu ke seluruh puskesmas yang ada di Batam,” jelasnya.
Terkait kasus infeksi saluran pernapasan atas (ISPA), Didi menyebutkan supaya warga juga waspada. Suhu panas dan persebaran debu bisa membahayakan pernapasan apabila daya tahan tubuh lemah.
Selain itu, Didi juga mengimbau saat kondisi cuaca panas seperti ini, warga jangan mengkonsumsi air es. “Air es dianggap memberi kesegaran dalam tubuh. Salah. Segar di mulut, berbahaya dalam tubuh. Batuk, pilek, menjadi gejala awal, lalu demam dan banyak kuman bersarang dalam tubuh,” terangnya. (cha/ska/yui)
