batampos.co.id – Krisis air bersih masih dirasakan oleh ratusan kepala keluarga (KK) yang berdiam di rumah susun sewa (Rusunawa) Pemko Batam I Tanjunguncang, Batuaji. Warga tetap menguras tenaga untuk angkat air dari bak penampungan utama sebab air belum bisa dialirkan ke dalam hunian mereka.
Bahkan warga yang berdiam di blok C dan D masih tetap bergantung pada suplai air tanki dari pihak ATB. Air yang dialirkan melalui pipa tidak kesampaian sebab bak penampungan blok C dan D lokasinya lebih tinggi dari blok A dan B. Jika suplai air tanki macet, mereka harus turun ke bak penampungan blok A dan B yang jaraknya lebih jauh lagi.
Seperti yang terjadi pada, Selasa (2/4/2019) siang, puluhan ibu-ibu dan anak-anak di blok C dan D harus mandi dan angkat air ke bak penampungan blok A dan B. Itu karena sejak Senin (1/4) suplai air tanki ke blok C dan D macet.
“Sudah dua hari ini tak diantar makanya kosong bak diatas. Biasanya dikasih satu sampai dua tanki,” kata Rita, seorang warga.
Dijelaskan penghuni rusun, sepekan belakangan ini ATB memang menyuplai air melalui pipa namun hanya bisa tertampung di bak blok A dan B. Air yang dialirkan sangat kecil dan di malam hari saja sehingga tidak sampai ke blok C dan D.
“Itupun tengah malam baru ngalir dan subuh sudah mati lagi. Jadi tak banyak (yang ditampung). Kalau semua (termasuk penghuni blok C dan D) ambil di sini siang sudah habis. Seperti hari inilah, sudah kosong bak itu karena semua ngambil dan mandi di sini,” kata Egi, warga lain.
Ketua RT 03/ RW 22 rusunawa kelurahan Tanjunguncang Sugianto mengakui persoalan itu masih terjadi hingga saat ini. Berbagai upaya protes dan aduan dari penghuni rusun belum membuahkan hasil. Pasokan air bersih belum normal dan merepotkan penghuni rusun.
“Ini yang disesalkan. Seperti tak ada solusi sama sekali. Padahal tiap bulan tetap bayar biaya beban meteran air,” ujarnya.
Imbas dari keadaan yang tak nyaman ini , sebagian penghuni akhirnya hengkang. Mereka memilih pindah dari hunian rusun ketimbang harus bertahan dengan keadaan yang tak bersahabat itu.
M Syafril, pengelolah rusunawa sebelumnya mengakui penghuni rusun terus berkurang sejak awal tahun lalu. Tiap bulan rata-rata 13 kepala keluarga yang keluar karena keadaan itu.
“Tahun lalu sekitar 300 san hunian yang terisi tapi sekarang tinggal 270 an,” katanya.
Pihak ATB sebelumnya mengatakan untuk solusi jangka pendek, stok air penghuni rusunawa akan disuplai menggunakan mobil tanki. Namun untuk jumlah akan disesuaikan dengan kemampuan pihak ATB. (eja)
