
foto: batampos.co.id / cecep mulyana
batampos.co.id – Jumlah pemudik Lebaran 2019 melalui Bandara Hang Nadim, Batam, diprediksi turun drastis dibandingkan tahun sebelumnya.
Hal ini bisa dilihat dari masih minimnya pemesanan tiket di sejumlah maskapai penerbangan yang melayani penerbangan di Hang Nadim.
Direktur Badan Usaha Bandar Udara (BUBU) Hang Nadim, Suwarso, mengatakan tinggi rendahnya pemudik Lebaran sudah bisa diketahui mulai H min tujuh Ramadan.
“Biasanya, calon pemudik sudah mulai memesan tiket untuk mudik beberapa hari sebelum puasa dimulai hingga beberapa hari jelang Lebaran,” kata Suwarso, Senin (6/5/2019).
Namun lanjutnya, setelah dicek di beberapa maskapai, belum ada lonjakan pemesanan. Kata Suwarso, justru beberapa rute penerbangan masih kosong karena tidak ada peminatnya.
Suwarso menduga, sepinya pemesanan tiket untuk mudik melalui bandara dikarenakan mahalnya harga tiket pesawat.
Hal lain yang menyebabkan pemudik Lebaran sepi menggunakan jasa transportasi udara dikarenakan penerapan bagasi berbayar di sejumlah maskapai penerbangan.
“Masyarakat memilih transportasi jalur laut sebagai alternatif untuk mudik. Selain harga tiket jauh lebih murah, sejumlah perusahaan pelayaran kini melayani rute yang lebih banyak,” paparnya.
Suwarso menyatakan, pada tahun-tahun sebelumnya arus mudik melalui Bandara Hang Nadim Batam biasanya sudah terlihat sejak sebelum Ramadan sampai beberapa hari setelah Lebaran.
Namun hingga hari pertama Ramadan, belum ada lonjakan penumpang melalui Bandara Hang Nadim.
“Awal Ramadan ini saja masih ada pembatalan penerbangan, minggu sebelumnya ada sembilan hingga 14 pembatalan penerbangan,” ujarnya.
Selain memilih menggunakan kapal, Suwarso memperkirakan para pemudik dari Batam akan memilih transit melalui Singapura.
Khususnya bagi para pemudik ke daerah di Indonesia yang ada layanan penerbangan dari Singapura.
“Tren (mudik melalui Singapura) bisa jadi (meningkat). Karena warga menilai lebih murah dari sana dan masyarakat masih mencari alternatif tiket mudik yang lebih murah,” tuturnya.
Suwarso menyebut, saat ini masyarakat masih mengamati pergerakan harga tiket pesawat sebelum memutuskan untuk memesannya.
Hanya saja lanjutnya, kemungkinan harga tiket akan turun sangat kecil. Bahkan saat ini, harga tiket sudah hampir menyentuh ambang batas atas.
“Saat ini harga tiket Jakarta ke Batam Rp 1,6 juta. Jarang dapat yang Rp 1,2 juta atau di bawah Rp 1 juta,” paparnya.
Suwarso mengungkapkan, penurunan penumpang di Hang Nadim sudah terjadi sejak Januari 2019. Namun ia memperkirakan jumlahnya akan kembali normal jika harga tiket turun.
“Tak perlu sampai normal seperti dulu, setidaknya harganya sedikit lebih murah dibandingkan saat ini dan itu dapat meningkatkan animo masyarakat kembali menggunakan pesawat,” ujarnya.
Suwarso juga mengatakan, penurunan animo masyarakat menggunakan pesawat memberikan dampak besar terhadap BUBU Hang Nadim.
“Pendapatan Hang Nadim itu didapat dari PSC (passanger service charge). Tapi karena penumpang turun, turun juga pendapatan kami,” tuturnya.
Terkait alternatif mudik lainnya, Angkutan Sungai dan Penyeberangan (ASDP) Telagapunggur menyediakan rute baru yakni Batam menuju Kualatungkal, Jambi.
Rute baru ini diharapkan memudahkan lalulintas masyarakat yang ingin mudik ke Kualatungkal dengan membawa mobil atau motor.
“Masyarakat ke Sumatera bagian selatan bisa gunakan rute pelayaran ini,” kata Kepala Cabang Jembatan Nusantara, perusahaan pelayaran yang melayani rute Batam-Kualatungkal, M Azis, beberapa waktu lalu.
Selain rute Batam-Kualatungkal, Jambi, kapal Roro juga melayani rute Batam ke Mengkapan, Riau.
Kedua rute pelayaran ini, sama-sama ditempuh dalam waktu belasan jam. Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengaku diberi waktu satu minggu untuk dapat memangkas harga tiket pesawat yang dikeluhkan mahal oleh masyarakat.
Untuk itu, Budi Karya mengaku saat ini tengah menggodok penurunan tarif batas atas harga tiket pesawat untuk kelas ekonomi.
“Saya diberikan waktu seminggu untuk menetapkan batas atas baru untuk kelas ekonomi,” ujar Budi usai menghadiri rapat koordinasi di kantor Kementerian Bidang Perekonomian, Senin (6/5).
Budi mengungkapkan, sesuai ketentuan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2009, Kemenhub memiliki wewenang untuk menentukan tarif batas atas dengan mempertimbangkan kondisi masyarakat, termasuk daya beli.
Menurut Budi, menurunkan tarif batas atas kelas ekonomi akan efektif menekan harga. Pasalnya, jika maskapai layanan penuh (full-service) menurunkan harga tiket pesawat, biasanya maskapai lain akan mengikuti.
Sebelumnya, Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno mengaku tidak bisa mengintervensi harga tiket di perusahaan maskapai. Menurutnya, persoalan ini menjadi kewenangan Kementerian Perhubungan selaku regulator.
“Saya tidak bisa sebagai menteri BUMN ‘eh kamu turunin.” Itu ada cost structure-nya. Kan kita semua harus bertanggungjawab kepada semua pemegang saham Garuda. Yaitu publik negara maupun partner kita yang lain,” kata Rini saat ditemui di kantornya, Jakarta, Minggu (5/5) lalu.
Menteri Rini menilai, sebetulnya tarif tiket pesawat Garuda masih berada di bagian batas atas. Sehingga, menurut dia, itu masih normal. “Garuda itu tiketnya masih di bawah bagian batas atas jadi kita masih normal-normal aja. Dan kita ini kan komersial. Jangan lupa loh Garuda itu perusahaan publik jadi mereka itu kalkulasinya mengikuti cost structure-nya mereka,” katanya. (ska)
