batampos.co.id – Perayaan hari raya Idulfitri umumnya dipuncaki pelaksanaan salat Idulfitri yang kemudian dilanjutkan dengan saling mengunjungi kerabat dan sanak keluarga.
Di daerah-daerah tertentu rangkaian perayaan Idulfitri ini terasa lebih panjang dengan selingan kegiatan yang bernuansa budaya.
Seperti yang terlihat di Kelurahan Rempang Cate, tepatnya di Kampung Monggak yang umumnya dihuni oleh masyarakat Melayu.
Perayaan lebaran di kampung ini berlangsung cukup panjang, tidak langsung berakhir seusai pelaksanaan solat Idulfitri saja.

Lebih dari itu, masyarakat laki-laki di kampung Monggak ini akan melanjutkan kegiatan berdoa bersama di masjid, dilanjutkan dengan kenduri ke rumah-rumah warga.
Suardi, 45, warga kampung Monggak, menuturkan, kegiatan kenduri sudah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari perayaan hari raya, baik itu Idulfitri maupun Iduladha.
Di kampung yang dihuni mayoritas nelayan itu, kenduri tidak hanya menjadi bentuk ungkapan rasa syukur, namun juga menjadi ruang bagi terjalinnya silaturahmi yang lebih erat antar sesama warga.
Karena pada momen ini semua orang berkumpul dan menyisihkan waktu untuk saling bertegur sapa.
“Kalau di tempat lain, habis salat (salat Idulfitri) sudah selesai, sudah seperti hari biasa. Kalau di sini masih banyak acaranya, kita akan keliling ke rumah warga lain, jadi perayaan lebaran di sini jadi lebih panjang,” katanya saat ditemui batampos.co.id di kampungnya, Rabu (5/6/2019).

Suardi melanjutkan, prosesi kenduri atau doa bersama, dilakukan di masjid Nurul Huda Kampung Monggak, menjadi momen yang selalu dinanti.
Dikarenakan kegiatan tersebut bukan hanya memperat ikatan kekeluargaan antar warga melalui makan dan doa bersama, tetapi juga menjadi ajang untuk mengambil kebijakan strategis kampung ini untuk masa mendatang.
Senada dengan yang disampaikan Suardi, Imam masjid di kampung Monggak, Egoi, 65 menjelaskan, perayaan Idulfitri yang dirangkaikan dengan praktek kebudayaan itu menggambarkan bagaimana kearifan masyarakat Melayu.
“Budaya silaturahmi merupakan bagian dari identitas yang sangat perlu untuk tetap dilestarikan,” ujarnya.
Meskipun pada prosesnya sudah mengalami penyesuaian dengan keadaan terkini, hal itu diakui tetap harus berjalan, sehingga budaya yang memang bernilai positif ini tetap bisa dikenal dan diketahui oleh generasi saat ini dan di masa mendatang.(bbi)
