
foto: batampos.co.id / bobi bani
batampos.co.id – Batu Merah. Pernah main-main ke sana? Tempat ini ialah titik paling favorit Ayu.
“Semuanya ada di sini,” ucap Ayu R Mulia.
Ayu berkisah Batu Merah ialah pusat kuliner. Ada lotek/pecal Mak Uwo, mpek-mpek Kak Tika, cendol Mak Uwo, Lakse Pelantar, roti prata, air tahu Mamak Ajon, rendang Mak Aji, lontong mak ilen, nasi goreng Kondang Raya, Bakso Mas Eko, sate ajo.
“Dan banyaaaak lagiiii yang bikin kangeen kalau lagi gak di Batam,” aku lulusan SMA Indo Global-Asia ini. Kini Ayu bersama suami tinggal di Jakarta.
Selain kuliner yang mewakili beragam suku di Indonesia, Batu Merah itu juga kampung yang dekat dengan pantai.
Rumah di atas bukit lautnya di bawah, banyak juga rumah-rumah yang dibangun di pinggiran pantai yang disebut pelantar.
Hasil laut segar yang beragam tak jarang dijual langsung dengan dijaja keliling oleh istri atau sanak sodara nelayan.
Kenangan masa kecil anak-anak yang tumbuh di Batu Merah yang pastinya pernah merasakan dinginnya laut kalau lagi mandi di ujung-ujung pelantar.
“Jangan heran anak-anak khususnya laki-laki Batu Merah mayoritas tumbuh menjulang tinggi karena suka mandi laut,” tutur Ayu. “Hehe. Kecuali Ayu karena memang tak pandai berenang.”
“Di atas bukit dari depan rumah Ayu,” imbuhnya. “Kita bisa lihat dengan jelas siluet pemandangan tempat pariwisata yangg terkenal di Singapura.
“Gedung yang diatasnya kayak ada kapal itu loh…” kisahnya. “Yang deketan sma Merlion Park, sebelah-sebelahanan dengan bianglala.”
“Dulu kalau malam tahun baru jadi hiburan seru buat kami warga Batu Merah. Ramai-ramai naik ke bukit yang lebih tinggi biar bisa lihat dengan jelas kembang api yang sangaaat cantik dari seberang (Singapura, red).” (ptt)
