batampos.co.id – PT Krakatau Steel Tbk (KRAS) kembali mengalami masalah. Kali ini ko-misaris independen perusahaan, Roy Maningkas, mengundurkan diri.
Alasannya, Roy kurang sreg dengan proyek pengolahan bijih besi menjadi hot metal (blast furnace) yang dijalankan oleh perusahaan.
Pelaksanaan proyek tersebut sudah terlambat 72 bulan dari yang seharusnya. Keterlambatan itu menyebabkan anggaran membengkak dari yang seharusnya Rp 7 triliun menjadi Rp 10 triliun.
Kemudian, waktu uji coba yang seharusnya enam bulan dipersingkat menjadi dua bulan. Menurut Roy, hal itu dilakukan untuk meng-hindari temuan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).
Dengan ketersediaan bahan baku proyek yang belum pasti dan harga pokok produksi slab yang lebih mahal USD 82 per ton, jika dibandingkan dengan harga pasar, Roy merasa proyek itu semakin tidak masuk akal.
Padahal, target output produksinya cukup besar, yakni 1,1 juta ton. Harga pokok produksi yang lebih mahal diperkirakan justru membuat perseroan berpotensi merugi hingga Rp 1,3 triliun per tahun.
”Jadi, saya sudah mengajukan permohonan pengunduran diri 11 Juli lalu kepada Kementerian BUMN,” kata Roy, Selasa (23/7/2019).

Awalnya, Roy yang menjadi komisaris KRAS sejak 2014 diimbau untuk menahan diri dan tetap menjabat.
Namun, pada akhirnya permohonan pengunduran diri itu disetujui secara informal oleh Deputi Bidang Usaha Pertambangan, Industri Strategis, dan Media Kementerian BUMN Fajar Harry Sampurno.
”Saya sudah memperingatkan ke kementerian tentang risiko proyek itu, tapi tidak didengarkan,” sambung Roy.
Kemarin, harga saham KRAS turun 2,53 persen ke Rp 386 per lembar. KRAS sudah bertahun-tahun mengalami kerugian.
Tepatnya sejak 2012. Tahun lalu KRAS rugi USD 74,82 juta atau Rp 1,05 triliun. Utangnya juga membengkak hingga lebih dari Rp 30 triliun. Perseroan pun kini sibuk merestrukturisasi utang.
Wapres Jusuf Kalla (JK) mengakui, KRAS memang sedang mengalami kesulitan keuangan yang berat.
”Ada utang yang begitu besar,” ujarnya.
Meski demikian, JK menyadari bahwa masalah yang dihadapi KRAS bukanlah persoalan baru. Termasuk, utang yang merupakan warisan masa lalu. Menurut dia, ada satu penyakit utama yang diderita perseroan.
”Krakatau Steel itu teknologinya lama dan ada baja dari Tiongkok yang lebih murah sehingga impor makin banyak,” ujarnya.
“Akibatnya, cash flow-nya makin kesulitan,” lanjutnya.
Karena itu, menurut JK, harus ada perubahan fundamental bila KRAS ingin tetap bersaing sebagai produsen baja.
”Mengubah manajemennya atau memperbaiki teknologinya,” tambah mantan Menko Kesra itu.
Mengingat, saingan KRAS tidak hanya datang dari Tiongkok. Saat disinggung mengenai dukungan pemerintah, JK menegaskan bahwa pemerintah sudah pasti mendukung.
Sebab, bagaimanapun, KRAS adalah BUMN. Namun, dukungan diberikan bukan dengan membayar utang perusahaan.
Sebab, pemerintah tidak mungkin mengucurkan dana begitu saja untuk melunasi utang KRAS.(rin/byu/c11/oki/jpg)
