batampos.co.id – Ahmadi Enterpreneurship Centre (AEC) menggelar seminar dan eksibisi dengan tema Millenial Creative Preneur – II di Kantor Wali Kota Batam, Minggu (28/7/2019).
Kegiatan tersebut juga diiringi wisuda peserta yang dilatih dalam program Enterpreneur Goes To School (EGTS).
Direktur Eksekutif AEC Community Lisya Anggraini mengatakan, EGTS merupakan program AEC yang menyasar para remaja (millenial).
Dalam program yang dibuka dua kali setahun ini, peserta dilatih dan dibina untuk mulai memikirkan berusaha.
”Programnya tiga bulan. Kita latih apa itu mindset, attitude, dan skill enterpreneurship. Kami juga dorong mereka punya ide bisnis,” ujarnya.
Ia menerangkan, ide bisnis para pelajar tersebut dilombakan. Kemudian pemenangnya diumumkan pada acara wisuda, seperti sekarang.
Peserta juga diberikan kesempatan memamerkan usahanya pada stan yang disediakan panitia. Mulai kuliner hingga kerajinan.

”Bisnisnya jalan rutin. Mereka ini anak-anak SMA,” imbuhnya.
Owner Torch Group Singapura, Siraj Salman, yang dihadirkan sebagai pemateri dalam seminar tersebut, menjelaskan kiat produk UMKM masuk Singapura.
Meski pasar Singapura tidak terlalu besar, namun kelebihannya bisa menjadi jalan produk dikenal dunia.
”Yang paling utama kemasan dulu, bukan isinya. Rasa biasa kalau bagus kemasannya akan menarik,” jelasnya.
“Dan kalau rasa enak dan kemasan tidak bagus, produk tidak akan menarik,” ujarnya.
Pembicara lainnya, Owner Mie Tarempa, Harry Phang. Ia memaparkan perihal kiat memulai bisnis dengan harus mengetahui pasar agar tidak keliru dalam berusaha.
”Tidak tahu pasar membuat produk lambat direspon,” katanya.
Lalu, ada Reynaldo Virgillius, alumni EGTS angkatan pertama yang mengembangkan bisnis perdagangan.
Lisya sendiri menjadi pemateri yang membahas pentingnya memiliki mindset yang benar terhadap bisnis yang dikelola.
”Kalau melihat hanya sekadar usaha sampingan perjuangan agak susah, dan bisnis akan lambat berkembang,” tuturnya.
Sedangkan Ketua Badan Koordinasi Organisasi Wanita (BKOW), Rosmeri Isdianto, menyampaikan anak millenial merupakan generasi yang dekat dengan internet atau identik industri 4.0.
Ia memandang penting kehadiran alternatif agar generasi muda menjadi generasi pencipta kerja, bukan generasi pencari kerja dengan mempersiapkan pengetahuan sesuai kebutuhannya.
”Saya berkesimpulan, mengembangkan UMKM tidak hanya modal, tapi perlu ilmu guna mengembangkan usahanya,” katanya.
“Generasi millenial butuh wadah, caranya dorong mereka lebih mengenal akan enterpreneurship melalui pelatihan, bimbingan sejak muda,” terangnya.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Batam, Ardiwinata, mengatakan, pemerintah telah menyiapkan wadah dan berbagai kebijakan terkait usaha dari segmen millenial.
Seperti disiapkan Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) dalam 16 subsektor industri kreatif. Di antaranya, kata Ardi, aplikasi dan pengembangan permainan, arsitektur, desain produk, fesyen, desain interior.
Hadir sebagai keynote speaker dalam kegiatan ini, yakni Kepala Dinas Pendidikan Kepri Muhammad Dali.
Ia mendukung kegiatan AEC. Kegiatan ini juga dihadiri Kepala Disdik Batam Hendri Arulan.
”Semoga terus berkembang, saya kira Ibu Lisya dan kawan-kawan luar biasa,” paparnya. (iza)
