Rabu, 8 April 2026

Wasiat Mbah Moen Ingin Meninggal di Makkah

Berita Terkait

batampos.co.id – KH Maimun Zubair atau Mbah Moen meninggal di RS Al Noor Makkah, Selasa (6/8) pagi. Sebelum mangkat, pengasuh Pesantren Al Anwar, Rembang, Jawa Tengah, itu memang pernah menyampaikan keinginannya agar meninggal dunia di Makkah pada hari Selasa.

Rupanya, doa dan keinginan Mbah Moen terkabul. Ia meninggal di lokasi dan hari sesuai yang ia inginkan.

Setelah prosesi persemayaman di Kantor Daker Makkah, jenazah Mbah Moen dibawa ke Masjidilharam untuk disalati. Proses salat jenazah dilakukan selepas salat Zuhur. Setelah itu jenazah dimakamkan di Makam Ma’la.

Mbah Moen berada di Makkah sejak Senin (29/7) untuk menjalani rangkaian ibadah haji. Semula Mbah Moen menginap di Hotel Dar Al Eman Royal, Makkah.

Namun sejak Senin (5/8) selepas salat Zuhur, ulama 90 tahun itu berpindah ke sebuah apartemen di wilayah Nassim Makkah.

Apartemen tersebut dijadikan sebagai tempat transit karena dekat dengan wilayah Mina.
Mbah Moen berhaji bersama istrinya yang bernama Nyai Heni Maryam. Selain itu, almarhum ditemani Hayatullah Makki (Gus Hayat), salah satu santri di pesantren Mbah Moen. Gus Hayat menuturkan, Mbah Moen selama di Makkah tetap menerima banyak tamu, seperti saat di Tanah Air.

“Umrah wajibnya sudah selesai. Beliau dahar-nya (makannya, red) juga seperti biasa,” kata Gus Hayat di lokasi pemandian jenazah di Al Mohagereen Funural Home Makkah.

Mbak Moen (kiri)

Menteri Agama sekaligus Amirul Hajj Lukman Hakim Saifuddin sejak pagi ikut mengurus prosesi pengurusan jenazah Mbah Moen. Mbah Moen dipastikan meninggal pukul 04.17 waktu Arab Saudi. Lukman langsung menuju RS Al Noor Makkah dari kantor Daerah Kerja (Daker) Makkah.

“Beliau cepat sekali berpulang. Dengan cara yang sangat baik. Sama sekali tidak ada yang direpotkan oleh kepulangan beliau,” katanya.

Lukman menceritakan, sebelumnya tidak ada keluhan rasa sakit dari Mbah Moen. Bahkan pada Senin malam Mbah Moen masih berdialog dengan keluarga dan para kerabatnya. Dia menegaskan tidak ada tanda-tanda sakit keras yang dialami Mbah Moen sebelum wafat.

“Ini juga yang beliau kehendaki. Beliau ingin berpulang di hari Selasa dan di Makkah,” kata Lukman berdasarkan cerita kerabat Mbah Moen.

Menurut Lukman, keinginan Mbah Moen itu akhirnya dikabulkan oleh Allah SWT. Setelah dimandikan, jenazah disemayamkan di kantor Daker Makkah. Kegiatan salat jenazah dilakukan beberapa kali oleh para jamaah haji Indonesia. Mereka bergantian masuk ke kantor Daker Makkah untuk salat jenazah ulama kelahiran Rembang, 28 Oktober 1928 itu.

Lukman mengatakan, bangsa Indonesia tentu kehilangan sosok ulama besar. Namun, dia meminta masya-rakat untuk ikhlas melepas kepergian Mbah Moen.
Menurut Lukman, di akhir masa hidupnya berceramah tentang menjaga keutuhan persaudaraan sebangsa dan setanah air.

“Beliau sampaikan itu dengan basis keilmuannya,” tuturnya.

Menurut Lukman, Mbah Moen merupakan ulama besar yang memiliki komitmen luar biasa untuk senantiasa cinta kepada Tanah Air. Semangat itu, menurut Lukman, harus terus dipelihara. Dia berharap syiar Mbah Moen bisa dilanjutkan oleh santri-santrinya. (*)

Update