Selasa, 14 April 2026

Tantangan AirNav Hang Nadim Batam ialah Cuaca

Berita Terkait

Pilot : Tower Indonesia-156 Final Runway 22
ATC: Indonesia-156 Insight on Final Runway 22, Wind Crosswind 130 Degrees 9 Knots, QNH 1012, Cleared to Land
Pilot: Cleared to Land Indonesia 156
ATC : Indonesia-156 Landed Time 1104, Exit C, Contact Ground 121.95
Pilot : C, 121.95 Indonesia-156 Thank You

Messa Haris – batampos.co.id

Sepenggal percakapan antara pilot dan petugas Air Traffic Control (ATC) di Bandara Internasional Hang Nadim, Kota Batam, Provinsi Riau, menandakan kesiagaan petugas ATC untuk memandu sang nakhoda burung besi saat akan mendarat.

Percakapan antara pilot dengan petugas ATC di Bandara Hang Nadim bisa berlangsung sebanyak 122 kali dalam satu hari.

General Manager AirNav Cabang Batam, Mi’wan Muhammad Bunay, mengatakan, pihaknya tidak hanya memberikan layanan lalulintas udara saja, tapi juga navigasi.

“Tugas kami (AirNav) memberikan prioritas pelayanan penerbangan dan memberikan layanan fasilitas navigasi,” jelasnya, Rabu (21/8/2019).

Mi’wan menjelaskan, AirNav merupakan Perum khusus non profit oriented.

Orientasi AirNav lanjutnya memberikan pelayanan dan keselamatan penerbangan dan hal itu termaktub dalam Peraturan Pemerintah Nomor 77 Tahun 2012.

Maksud dan tujuan pendirian Perum Lembaga Penyelenggara Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia (LPPNPI) atau AirNav ialah melaksanakan penyediaan jasa pelayanan navigasi penerbangan sesuai dengan standar yang berlaku untuk mencapai efisiensi dan efektivitas penerbangan dalam lingkup nasional dan internasional.

“Jadi orientasi kami (AirNav-red) hanya pelayanan dan keselamatan penerbangan. Sehingga kami lebih fokus menjaga itu semua,” paparnya.

Menurutnya, jika dilihat dari peta wilayah kerja AirNav cabang Batam bentuknya kotak mendatar atau flat.

Kata dia, saat pesawat akan mendarat pihaknya akan menuntun sang pilot dengan fasilitas navigasi.

Menurutnya meski saat ini seluruh pesawat memiliki Global Positioning System (GPS), namun dengan alat bantu yang dimiliki AirNav akan memudahkan sang pilot untuk mendarat.

“Dengan alat bantu kami maka pesawat tahu heading-nya ke Bandara dan berapa derajat Bandara yang dituju,” paparnya.

Alat tersebut lanjutnya akan memberikan azimut buatan, sehingga pesawat mengetahui berapa derajat sasaran bandara yang dia tuju.

“Kalau sudah dekat Bandara kita juga ada ILS (Instrumen Landing
System) dengan ini pesawat akan dituntun di centre line dan slotnya,” kata dia.

Mi’wan menjelaskan, tugas lainnya dari AirNav yaitu mengatur sparasi setiap pesawat.

Sehingga tidak terjadi Breakdown of Separation (BOS). Kata dia, apabila jarak pesawat berdekatan salah satunya akan diminta untuk menaikan ketinggian.

“KPI (Key Performance Indicator) kami adalah zero BOS,” tegasnya.

Mi’wan menjelaskan, meski di Bandara Internasional Hang Nadim Batam belum ada penerbangan saat malam hari, namun petugas ATC menjalani pekerjaannya 24 jam penuh.

Karena kata dia, Bandara Hang Nadim menjadi alternatif dari maskapai penerbangan tujuan Singapura, ketika cuaca di negara tetangga itu buruk.

“Kita berbatasan dan jarak kita sangat dekat dengan singapura, Sehingga cukup banyak maskapai asing yang mendarat di sini (Bandara Hang Nadim, red) saat di sana bad weather (cuaca buruk, red),” jelasnya.

Perubahan cuaca yang cepat membuat petugas AirNav Hang Nadim harus selalu waspada.
foto: batampos.co.id / cecep mulyana

Tantangan Utama Adalah Cuaca Ekstrem

Airnav cabang Kota Batam bekerjasama dengan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) untuk mengetahui data terbaru terkait cuaca.

Hal itu sangat diperlukan karena Provinsi Kepri khususnya Kota Batam termasuk dalam salah satu daerah di Indonesia yang memiliki cuaca ekstrem.

Bahkan BMKG Kelas I Hang Nadim Batam memiliki akses khusus untuk memberikan informasi terkait keadaan cuaca.

“Maksudnya begini, Batam tidak memiliki musim, beda dengan wilayah lain yang fase musim hujan dan kemaraunya sudah jelas, sementara di sini kapan pun bisa hujan,” ujarnya.

Karena cuaca yang kerap berubah-ubah, pihaknya harus menunggu informasi resmi dari BMKG sebelum mengeluarkan Notice To Airmen (Notam).

“Yang sering terjadi itu karena proses permohonan Notam membutuh waktu dan saat Notam datang cuaca sudah bagus atau normal,” katanya.

Hal lain yang sangat diperhatikan AirNav cabang Kota Batam adalah angin.

Terutama angin yang datang dari arah samping dan sangat dikhawatirkan membahayakan pesawat ketika akan mendarat.

Hal itu diamini oleh Kepala Seksi Data dan Informasi (Kasi Datin) BMKG kelas I Hang Nadim, Suratman.

Ia mengatakan cuaca di Kota Batam kerap berubah-ubah dalam waktu yang cukup singkat.

“Ya kita punya jalur khusus untuk menyampaikan kondisi terkini cuaca kepada petugas ATC,” ujarnya.

Kata dia, informasi keadaan cuaca selalu disampaikan kepada petugas ATC dengan durasi setiap setengah jam atau yang biasa mereka sebut Metar.

“Kalau cuaca buruk kita sebut specy dan kita sampaikan melalui AFTN,” jelasnya.

AFTN lanjutnya adalah jaringan telepon lokal khusus antara BMKG dengan petugas ATC.

Miliki Frekuensi Cadangan

Selain itu kata dia, AirNav juga harus memiliki frekuensi cadangan untuk mempercepat layanan apabila terjadi gangguan khususnya dari pemancar radio.

Frekuensi cadangan kata Mi’wan sangat diperlukan untuk menjaga komunikasi antara petugas ATC dengan pilot guna mencengah insiden yang tidak diinginkan.

Ia mengatakan, sejauh ini kualitas komunikasi penerbangan di AirNav cabang Kota Batam cukup bagus dan tidak ada masalah.
Namun pihaknya akan langsung berkoordinasi dengan Balai Monitoring (Balmon) apabila terjadi gangguan frekuensi agar permasalahan tersebut dapat segera diatasi.

“Jadi kalau ada masalah, kita langsung kirim surat resmi ke balai monitoring dan mereka langsung melakukan investigas,” ucapnya.

Ia menambahkan, cadangan frekuensi menjadi hal wajib yang dimiliki Ainarv Indonesia. Karena hal tersebut menyangkut keselamatan para penumpang dan awak maskapai penerbangan.

“Jadi apabila ada gangguang frekuensi, sambil ditangani kami sudah bisa melayani lagi dengan secondary frekuensi, karena komunikasi kita dengan pilot tidak boleh putus,” paparnya.

Pihaknya juga memiliki kerjasama dengan berbagai pihak untuk melancarkan penerbangan.

“Kami memiliki LOCA (Letter of Operational Coordination Agreement) dengan BMKG, Balmon, Bandara, dan airline,” ujarnya.

Memberikan Informasi ke Bandara Matak, Natuna

Tidak hanya di Bandara Hang Nadim, Batam, AirNav Cabang Batam juga memberikan informasi lalulintas udara dan navigasi hingga ke Matak, Kabupaten Natuna.

Mi’wan menjelaskan, Matak, merupakan Bandara khusus yang dikelola oleh Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas).

“Bandara Matak sampai saat ini masih di bawah kami dan petugas ATC dari TNI, tapi fasilitasnya dari kita,” jelasnya.

Pada tahun 2019 AirNav Indonesia meningkatkan kualitas layanan navigasi penerbangan antara lain adalah pembangunan dan peremajaan menara pengendali lalu lintas penerbangan (ATC Tower) di beberapa Bandara di Indonesia.

Salah satunya di Letung, Kabupaten Anambas, Provinsi Kepri. Nilai investasi seluruh program tersebut senilai Rp 2,6 triliun dan diharapkan dapat meningkatkan layanan navigasi penerbangan secara merata di seluruh ruang udara Indonesia.

AirNav melayani navigasi penerbangan di 285 titik layanan di seluruh Indonesia serta  melakukan pelayanan navigasi penerbangan di sejumlah ruang udara negara lain.

Luas ruang udara Indonesia adalah 1.476.049 NM, sementara AirNav melayani Flight Information Region (FIR) seluas 2.219.629 NM.(*)

Update