batampos.co.id – Meskipun harga bahan-bahan pokok terus mengalami penurunan harga hingga akhir Agustus 2019, tapi diprediksi akan kembali meningkat jika tidak dilakukan langkah pencegahan.
Adapun penyebab deflasi yang tercatat sebesar 3,23 persen (yoy) pada Agustus lalu, yakni penurunan tarif angkutan udara serta penurunan harga bayam dan kacang panjang.
”Faktor penahan agar tidak terjadi kenaikan inflasi yakni peningkatan kerja sama antar tim pengendalian inflasi daerah (TPID) di Kepri,” kata Kepala Bank Indonesia (BI) Perwakilan Kepri Fadjar Majardi, Rabu (25/9).
Sedangkan faktor pendorong inflasi yakni kenaikan harga bahan makanan terutama komoditas yang pemenuhannya dipengaruhi oleh cuaca seperti komoditas sayuran dan ikan segar. ”Ini disebabkan oleh kondisi cuaca yang tidak menentu, curah hujannya,” paparnya.

Saat ini merupakan periode angin musim utara yang dapat menyebabkan terbatasnya jalur distribusi bahan makanan di Kepri dan juga menyebabkan aktivitas nelayan di Kepri yang dapat memicu kenaikan harga komoditas ikan segar.
Salah satu solusi untuk me-ngatasi inflasi yakni dengan segera mengoperasikan Pasar Induk Jodoh. ”Dalam kaitannya dengan pengendalian inflasi, maka pasar induk akan mendukung dan memudahkan program pengendalian inflasi yang dilakukan pemerintah daerah,” paparnya.
Tapi dengan syarat, pasar induk tersebut harus dapat menghasilkan data perdagangan komoditas, di antaranya data harga, volume, daerah asal komoditas dan lain-lain.
”Frekuensi data bisa dibuat mingguan, bulanan bahkan harian. Data tersebut akan bermanfaat dalam mempertajam analisis sehingga dapat diambil langkah-langkah tepat dalam mengendalikan harga,” jelasnya. (leo)
