batampos.co.id – Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) saat ini hanya memiliki dua pesawat untuk mendukung pelaksanaan hujan buatan.
Mereka berharap armada pesawatnya ditambah. Sebab setiap tahun mereka menjalankan misi hujan buatan melalui teknologi modifikasi cuaca (TMC).
Kepala Balai Besar TMC BPPT, Tri Handoko Seto, menjelaskan, pada misi hujan buatan penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) diterjunkan enam unit pesawat terbang untuk menebar garam.
Perinciannya adalah empat pesawat milik TNI AU dan dua dari BPPT. Kedua pesawat dari BPPT adalah pesawat Cassa 212-200 dan Piper Cheyenne.
’’BPPT pernah punya enam pesawat Cassa, sekarang tinggal satu,’’ katanya, Minggu (6/10/2019).
Satu unit pesawat Cassa tersebut selama ini ditempatkan di Curug. Sementara pesawat Cassa lainnya ada yang jatuh dan rusak.
’’Ke depan kalau bisa TMC punya pesawat sendiri. Jadi tidak bergantung ke TNI,’’ katanya.

Usulan penambahan armada pesawat tersebut sudah pernah disampaikan ke Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti).
BPPT berharap disediakan lima unit pesawat lagi supaya bisa melakukan upaya hujan buatan di banyak tempat secara bersamaan.
Namun, sampai saat ini belum ada titik terang. BPPT memahami saat ini mungkin anggaran negara masih untuk prioritas lainnya.
Menurut Seto biaya pengadaan pesawat Cassa atau sejenisnya memang mahal. Tetapi jika dibandingkan dengan kerugian akibat karhutla, masih jauh lebih murah.
Pada karhutla periode 2015 lalu, kerugian diperkirakan mencapai Rp 200 triliun lebih.
Dia lantas menjelaskan perkembangan hujan buatan yang dilakukan BPPT untuk penanggulangan karhutla di Kalimantan dan Sumatera.
Sampai Jumat akhir pekan lalu (4/10) total air hujan yang turun setelah dilakukan modifikasi cuaca mencapai 3 miliar meter kubik lebih.(wan/jpg)
