Rabu, 8 April 2026

Mereposisi Koperasi, Menembus Pasar Luar Negeri

Berita Terkait

Di tangan para anggota dan pengurus Koperasi Rumah Bungkus Radja Isha, Batam, koperasi tak lagi hanya identik dengan simpanan wajib dan simpanan pokok saja. Tetapi koperasi telah menjelma menjadi kekuatan baru ekonomi kolaborasi dengan produk yang mampu menembus hingga ceruk-ceruk pasar luar negeri.

Suparman, Batam

BERDIRI pada tahun 2016, Koperasi Rumah Bungkus Radja Isha langsung membuat gebrakan yang tak biasa.

Bukan fokus pada simpan pinjam bagi anggota, koperasi yang berada di bawah naungan CV dengan nama yang sama itu justru lebih aktif mendampingi para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Pendampingan itu bentuknya beragam. Mulai dari memberikan ide pengembangan bisnis, akses pembiayaan, hingga memperbarui kemasan produk UMKM supaya lebih menarik dan higenis.

“Karena dari awal kami sudah mendapat bantun mesin cetak digital dan cutting sticker dari kementerian. Jadi kami melayani cetak kemasan produk sekaligus desainnya,” kata Ketua Koperasi Rumah Bungkus Radja Isha, Ramayanti Dewi, saat ditemui di kantornya di Ruko Pelangi Blok C Nomor 5, Jalan Raja M Saleh, Kota Batam, Rabu (30/10/2019) lalu.

Sejak awal berdiri, koperasi ini juga selektif dalam memilih anggota. Sehingga sejak berdiri hingga sekarang, jumlah anggota Koperasi Rumah Bungkus Radja Isha tak pernah lebih dari angka 25.

Rata-rata anggota yang direkrut merupakan pelaku usaha mikro yang selanjutnya akan didampingi agar usahanya berkembang lebih besar lagi.

Tahun 2017, Koperasi Rumah Bungkus Radja Isha mulai melebarkan sayap bisnisnya. Koperasi ini menjadi distributor produk obat herbal berbahan tripang yang diambil dari Pulau Bintan, Kepulauan Riau.

Selain itu, Koperasi Rumah Bungkus Radja Isha juga mengembangkan produk olahan ikan berupa bakso dan sosis.

Sejumlah karyawan mengemas keripik tempe Narata di Ruko Pelangi Blok C Nomor 5 Batam Center, Batam, Rabu (30/10/2019). Keripik Narata merupakan usaha milik salah satu anggota Koperasi Rumah Bungkus Radja Isha Batam yang sukses mengekspor produknya hingga ke China. Foto: Suparman/batampos.co.id

Dua produk terakhir ini bahkan sampai tembus ke pasar internasional. Beberapa pembelinya datang dari negeri jiran, seperti Malaysia dan Singapura.

“Pernah ada pesanan bakso ikan sampai 40 ribu toples ke Johor, Malaysia,” kata Dewi.

Selain membangun unit usaha sendiri, Koperasi Rumah Bungkus Radja Isha juga terus mendampingi para anggotanya agar usaha mereka berkembang.

Di antaranya usaha makanan ringan atau snack yang digeluti salah satu anggota Koperasi Rumah Bungkus Radja Isha, Rosmaini.

Dulunya, sebelum bergabung dengan Koperasi Rumah Bungkus Radja Isha, Rosmaini menjalani bisnis makanan ringan berupa keripik dari nangka, tempe, dan pisang. Usaha itu awalnya dikerjakan di dapur rumahnya.

Namun karena tempatnya yang tidak terlalu luas, produksi keripik dengan brand Narata dan Green Snack itu tidak terlalu banyak. Selain itu, pemasaran keripik Narata juga terbatas karena kemasannya yang kurang menarik.

“Selain itu dapurnya juga jadi terkesan kotor karena semua kegiatan dilakukan di situ,” katanya.

Akhirnya, usaha keripik Narata milik Rosmaini pindah ke lantai satu Ruko Pelangi di Jalan M Saleh, Kelurahan Belian, Kota Batam. Di lantai duanya menjadi kantor Koperasi Rumah Bungkus Radja Isha.

Di tempat barunya itu, usaha keripik Narata berkembang pesat. Selain jumlah produksinya yang meningkat, kemasan keripik Narata juga kian moderen karena menggunakan paper foil yang dicetak dan didesain di Koperasi Rumah Bungkus Radja Isha.

Alhasil, keripik Narata kian menguasai pasar. Bukan hanya pasar lokal, produk keripik Narata dan Green Snack juga diekspor hingga ke Beijing, China.

Menurut Dewi, suksesnya keripik Narata menembus pasar dunia tak lepas dari upaya pendampingan yang dilakukan pihak koperasi.

Sebab selain membantu memperbaiki tampilan kemasan, pihak koperasi juga membantu mengurus sertifikasi halal dari Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan, dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia (LPPOM-MUI), hingga mengurus labelisasi fakta nutrisi (nutrition facts) untuk dipajang di kemasan keripik.

“Soalnya konsumen luar negeri itu sangat peduli dan teliti soal kebersihan dan kesehatan produk yang akan dibeli. Bahkan kebersihan dapur pun akan dicek sebelum memutuskan untuk order,” katanya.

Tahun 2018, aktivitas ekspor produk Koperasi Rumah Bungkus Radja Isha dan anggotanya mulai dikurangi. Meskipun sebenarnya permintaan tetap tinggi.

“Tapi tahun 2019 ini kami mau mulai menggarap lagi pasar luar negeri itu,” ujar Dewi.

Selain pasar luar negeri, kata Dewi, pihaknya juga akan fokus menggarap pasar di Indonesia bagian timur seperti Sulawesi dan Papua.

Menurut dia pasar di dua wilayah itu sangat potensial karena belum banyak yang masuk ke sana.

Kemudian, tahun ini juga, Koperasi Rumah Bungkus Radja Isha akan fokus pada kegiatan trading, printing dan cutting, pengembangan produk olahan ikan, serta pembiayaan UMKM.

“Pembiayaan ini khusus untuk anggota. Sistemnya berbasis syariah,” katanya.

Selain mengembangkan usaha keripik, anggota Koperasi Rumah Bungkus Radja Isha yang lainnya juga memiliki usahanya sendiri.

Salah satunya usaha jamu tradisional. Namun bukan sembarang jamu, jamu produk anggota Koperasi Rumah Bungkus Radja Isha ini mampu menembus hotel-hotel berbintang di Batam.

Menurut Dewi, di era saat ini koperasi memang ditantang untuk melakukan reposisi. Koperasi tidak lagi hanya menjadi lembaga simpan pinjam bagi anggotanya.

Melainkan harus menjadi sebuah wadah kolaborasi sejumlah pelaku ekonomi dan pelaku usaha untuk menjadi pondasi bisnis yang terjadi saat ini, yakni ekonomi kolaborasi.

“Simpanan wajib dan pokok tetap ada. Tapi koperasi di era saat ini harus lebih fokus menciptakan kekuatan ekonomi baru melalui unit-unit usaha, khususnya usaha para anggotanya,” kata Dewi.

Sehingga, sebagai salah satu pilar ekonomi Indonesia, koperasi akan terus memberikan kontribusi terhadap pembangunan ekonomi bangsa.

Koperasi Berprestasi

Kiprah Koperasi Rumah Bungkus Radja Isha berbuah manis. Selain usaha para anggotanya terus berkembang, koperasi ini juga diganjar penghargaan sebagai koperasi berprestasi tahun 2019 oleh Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (KemenkopUKM).

“Salah satu pertimbangan mengapa koperasi kami dipilih sebagai koperasi berprestasi karena produk kami bisa tembus luar negeri itu,” kata Ketua Koperasi Rumah Bungkus Radja Isha, Ramayanti Dewi.

Selain itu, menurut Dewi pihaknya berhasil meraih penghargaan tersebut lantaran Koperasi Rumah Bungkus Radja Isha sangat total dan fokus dalam mendampingi dan membantu pengembangan usaha UMKM, terutama untuk para anggotanya.

Tak hanya soal kemasan produk dan ide pengembangan bisnis, Koperasi Rumah Bungkus Radja Isha juga serius dalam mendukung anggotanya untuk menjadi pengusaha berstandar nasional, bahkan dunia.

Ketua Koperasi Rumah Bungkus Radja Isha Batam, Ramayani Dewi, menunjukkan plakat dan piagam penghargaan Koperasi Berprestasi 2019 dari Kementerian Koperasi dan UKM. Foto: . Suparman/batampos.co.id

Seperti misalnya membantu pengurusan label halal dari LPPOM MUI, lebel fakta nutrisi, dan lain sebagainya.

“Pelaku UKM ini biasanya malas dengan urusan dokumen-dokumen seperti itu. Makanya kami terus mendampingi bahkan membantu pengurusannya,” katanya.

Tak hanya itu, Koperasi Rumah Bungkus Radja Isha juga membantu para anggotanya dalam melakukan pemasaran, baik di dalam maupun di luar negeri.

Juga membantu mencarikan supplier bahan baku produk, distributor, dan agen-agen baik di dalam maupun di luar negeri.

“Itulah arti ekonomi kolaborasi. Kami bangkit bersama dengan saling bekerja sama,” katanya.

Kontribusi Koperasi untuk Kesejahteraan Bangsa

Kontribusi koperasi bagi kesejahteraan ekonomi masyarakat begitu nyata dirasakan oleh Rosmaini.

Anggota Koperasi Rumah Bungkus Radja Isha ini mengaku usahanya berkembang pesat setelah mendapat pendampingan dan bantuan dari Koperasi Rumah Bungkus Radja Isha.

Wanita yang akrab disapa Bu Ros ini menceritakan, ia bergabung dengan Koperasi Rumah Bungkus Radja Isha sejak tahun 2017 lalu.

Sebelum menjadi anggota koperasi, ia memang sudah menggeluti usaha keripik aneka rasa dengan brand Green Snack dan Narata itu di rumahnya.

“Tapi skalanya kecil. Waktu itu karyawan saya cuma tiga. Tukang goreng satu, tukang packing satu, dan satu sopir,” kata Bu Ros saat ditemui di tempat usahanya di lantai 1 Ruko Pelangi Blok C Nomor 5, Jalan Raja M Saleh, Kota Batam, Rabu (30/10/2019) lalu..

Namun sejak bergabung dengan Koperasi Rumah Bungkus Radja Isha, Bu Ros kini mempekerjakan 11 karyawan. Sebab jumlah produksi keripik Bu Ros juga meningkat drastis.

“Produksinya naik sekitar 70 persen lah jika dibandingkan sebelumnya,” kata Bu Ros.

Saat ini anggota di Koperasi Rumah Bungkus Radja Isha sebanyak 25 orang. Semuanya merupakan pelaku usaha mikro dan kecil.

Jika masing-masing anggota mempekerjakan 10 karyawan saja, maka koperasi ini telah membantu menciptakan lapangan pekerjaan untuk 250 orang.

Bu Ros menceritakan, pendampingan dan bimbingan yang diberikan Koperasi Rumah Bungkus Radja Isha kepada anggotanya memang sangat total, termasuk kepada dirinya.

Awalnya, ia diajari bagaimana membuat kemasan produk yang menarik dan higenis. Bagaimana membuat kemasan produk supaya keripiknya bisa bertahan selama setahun meski tanpa bahan pengawet.

Pihak koperasi juga membantu dalam hal pemasaran produk. Sehingga keripik Narata dan Green Snack Bu Ros sampai tembus ke pasar Beijing, China.

Bahkan soal pasokan bahan baku produk pun dipikirkan oleh koperasi. Pernah Bu Ros kehabisan stok bahan baku keripik pisang. Lantaran suplier-nya yang selama ini memasok pisang kepadanya juga kehabisan barang.

“Akhirnya pihak koperasi mencarikan solusi dengan mencari lahan. Supaya kami bisa menanam sendiri pisang untuk bahan baku. Sehingga kami tidak khawatir suplai bahan baku akan tersendat lagi,” kata Bu Ros.

Sementara Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kota Batam, Suleman Nababan, mengatakan sebagai pilar ekonomi bangsa, koperasi memberikan kontribusi nyata bagi kesejahteraan masyarakat, terutama bagi para anggota koperasi dan keluarganya.

Di antara kontribusi nyata itu, kata Suleman, adalah terciptanya lapangan kerja dari kegiatan usaha kecil dan mikro (UKM) yang dijalankan koperasi.

Ia menyebut, saat ini di Batam ada 81 ribu usaha kecil dan mikro. Satu usaha mikro paling tidak mempekerjakan dua orang.

“Misalnya suami istri yang menjalankan usahanya sendiri. Kalau dua orang saja per UKM, sudah ada 162 ribu lapangan kerja yang tercipta,” kata Suleman, Kamis (31/10/2019).

Padahal, kata dia, ada beberapa usaha kecil dan mikro yang mempekerjakan karyawan hingga belasan orang.

Sehingga bisa dibayangkan berapa ratus ribu lapangan kerja yang tercipta dari UKM ini.

Suleman mengatakan, koperasi didirikan oleh orang-orang dengan kepentingan ekonomi yang sama.

Sehingga koperasi memang harus memiliki orientasi untuk menciptakan kesejahteraan bagi masyarakat, terutama bagi para anggotanya.

Hal ini sejalan dengan dengan komitmen Presiden Joko Widodo untuk fokus membangun SDM dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional untuk kesejahteraan bangsa melalui penguatan UKM, termasuk di dalamnya koperasi.

Sehingga jika ada koperasi yang tidak serius menjalankan usahanya atau tidak aktif selama tiga tahun berturut-turut, diancam akan ditutup.

Tahun ini Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kota Batam menutup sebanyak 131 koperasi yang tidak aktif.

Sementara berdasarkan online data system (ODS) Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah, jumlah koperasi aktif di Batam per Oktober 2019 mencapai 256 unit.(*)

Update