Rabu, 8 April 2026

Pidato Pak Menteri Nadiem yang Singkat nan Padat

Berita Terkait

batampos.co.id – Naskah pidato peringatan Hari Guru Nasional Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim ramai dibahas warganet sejak, Sabtu (23/11/2019) pagi. Isinya lugas, membeberkan masalah yang dihadapi guru di Indonesia. Mulai beban tugas guru hingga menyuarakan kemerdekaan untuk belajar.

Di Twitter, akun @Kemdikbud_RI mengunggah dua halaman naskah pidato tersebut pukul 09.00. Unggahan tersebut sukses memancing reaksi warganet. Hingga pukul 21.53 tadi malam, cuitan tersebut sudah mendapat 3.444 likes, 2.238 retweet, dan 177 komentar.

Komentar pun beragam. Namun, sebagian besar menyambut positif. ”Suka banget dan appreciate banget pidato yang dibuat. Sangat jelas visi dan pemahaman Nadiem terhadap kondisi guru di Indonesia,” tulis akun artis Dian Sastrowardoyo @therealDiSastr pada kolom komentar.

Ada pula yang mendukung dengan komentar ”Pidato terbaik yang pernah saya liat…salut pak Menteri, singkat tapi bermakna banget..semoga pendidikan Indonesia lebih baik,” tulis akun @enienie.

Staf khusus Mendikbud Muh. Haekal menyatakan, naskah pidato tersebut ditulis sendiri oleh Nadiem. Rencananya, pidato tersebut akan dibacakan oleh Nadiem pada upacara bendera peringatan Hari Guru Nasional di kantor Kemendikbud RI, besok pagi (25/11).

”Beliau menulis sendiri,” ucap Haekal kepada Jawa Pos (grup batampos.co.id), kemarin.
Sejak kali pertama ditunjuk sebagai Mendikbud oleh Presiden Joko Widodo, Nadiem menyatakan tidak ada gebrakan apapun pada 100 hari awal masa jabatannya. Dia memilih akan mendengarkan. Baik dari guru, pejabat eselon I Kemendikbud, dan Mendikbud periode sebelumnya, Muhadjir Effendy. Tujuannya, untuk memahami persoalan pendidikan di Tanah Air.

Pada 26 Oktober lalu, Nadiem menghadiri acara Temu Pendidik Nusantara di Sekolah Cikal Cilandak, Jakarta Selatan. Dia datang tanpa pengawalan ketat. Berbusana santai mengenakan polo shirt hitam, celana jeans, dan sepatu kets. Di sana, menteri termuda Kabinet Indonesia Maju itu bertemu para pendidik dari Komunitas Guru Belajar seluruh Indonesia.

Dengan bertemu para guru, Nadiem berkesempatan mendengarkan kebutuhan guru yang mengajar di lapangan. Mendengarkan keluh kesah, masukan, hingga harapan para guru kepada pemerintah ke depan. Tidak melulu soal dana. Malah para guru menyuarakan soal kemerdekaan untuk belajar. Ada pula yang menyampaikan, banyaknya tuntutan tugas di luar mengajar (administrasi), sehingga membuat guru sulit mengeksplorasi diri untuk berkarya.

Kemudian, pada 4 November, mantan bos Gojek itu menerima 22 organisasi dan komunitas guru di kantornya. Ikatan Guru Indonesia (IGI) salah satunya. Pada kesempatan tersebut IGI mengajukan 10 usulan kepada Nadiem. Dari jumlah tersebut lima poin di antaranya menyuarakan soal masalah yang dihadapi guru.

IGI meminta urusan administrasi guru dibuat dalam jaringan (online) dan disederhanakan. Termasuk di dalamnya, ketentuan membuat rancangan program pembelajaran (RPP) cukup dua halaman namun jelas.

Masalah pengangkatan guru harus berdasarkan kebutuhan kurikulum. Dengan Uji kompetensi guru wajib dilakukan minimal sekali dalam tiga tahun. Dengan begitu, sistem honorer dihapuskan. Sehingga guru yang mengisi di kelas, jelas statusnya. Gaji guru menyesuaikan upah minimum pemerintah berdasarkan kelayakan hidup.

Ketua Umum IGI, Muhammad Ramli Rahim, menilai isi pidato Nadiem tidak bertele-tele. Fokus ke fungsi pendidikan, menghadirkan pembelajaran yang baik, serta meningkatkan kualitas hubungan antara guru dan siswa di kelas.

”Selama ini beban administrasi guru terlalu besar. Beban belajar siswa juga banyak. Beliau mengungkapkan itu secara gambling,” ucapnya saat dihubungi tadi malam.

Guru harus membuat laporan pembelajaran ke pengawas sekolah, urusan sertifikasi, kenaikan pangkat yang ujung-ujungnya mempengaruhi pendapatan. Hal tersebut tentu membuat guru tidak fokus untuk mengajar dan membimbing siswa. Akibatnya, pembelajaran berlangsung alakadarnya, tidak ada diskusi, hingga akhirnya guru tidak mampu menggali potensi anak didiknya.

Begitu juga dengan siswa. Untuk mempelajari satu mata pelajaran saja repot, apalagi mempelajari semuanya.

”Saya pikir apa yang disampaikan pak Nadiem ini adalah apa yang beliau dengar selama 100 hari menjabat,” terang Ramli.

Dari usulan IGI tersebut, menurut Ramli, kebijakan yang paling mungkin dikerjakan dalam waktu dekat adalah menyederhanakan administrasi guru.

Di sisi lain, inisiator Kampus Guru Cikal Najelaa Shihab menilai, percakapan Nadiem dengan para guru membuat Nadiem optimis. Guru butuh contoh konkret, jangan hanya instruksi yang terkesan template.

”Sehingga konteksnya bisa diterapkan di daerah mengajar masing-masing guru di Indonesia,” kata Najelaa. Meski, harus diakui tantangan untuk meningkatkan kualitas dan kompetensi guru sangat berat. (han)

Update