Kamis, 30 April 2026

Bripka Ralon Manurung Membangun SD Harapan di Pedalaman Riau

Berita Terkait

Berangkat ke sekolah, bagi anak Dusun Sialang Harapan, Kampar, Riau harus bertaruh nyawa. Hewan buas hingga medan yang sulit mengancam. Bripka Ralon membantu pembangunan SD Marjinal supaya siswa tak perlu menempuh perjalanan berbahaya sepanjang 6 km.

Bukan perkara mudah menuju Sekolah Dasar (SD) Marjinal, Dusun Sialang Harapan, Kampar Kiri Hilir, Kampar, Riau. Jalur ekstrem perbukitan dengan jalan tanah lumpur mengadang.

Akses menuju desa itu sebagian besar masih berupa tanah. Beberapa titik mulai dibangun dengan semen.

Namun, panjangnya hanya beberapa ratus meter. Kebun sawit terhampar sepanjang mata memandang.

Barulah terlihat hutan belantara ketika hampir sampai di Dusun Sialang Harapan. Tepat sebelum masuk ke dusun itulah SD Marjinal berada.

Jaraknya dari dusun sekitar 300 meter. Bangunannya belum selesai. Masih terlihat tembok bata tanpa polesan. Tak ada jendela. Begitu pula daun pintu.

Saat wartawan koran ini tiba di sekolah itu Selasa (17/12) siang, kegiatan belajar-mengajar hampir selesai.

Sebanyak 14 siswa belajar di sekolah itu. Mereka tampak bersemangat meski kondisi sekolah belum maksimal. Mengingat kondisi sebelumnya sekolah itu jauh lebih menye-dihkan.

Saat belum dibangun Bripka Ralon Manurung, sekolah itu hanya terbuat dari dinding kayu dan bambu beratap terpal.

Sawirman, kepala sekolah, menceritakan, sebelum 2006, anak di Dusun Sialang Harapan harus bersekolah ke SD 010 Batu Sasak.

Jaraknya sekitar enam kilometer dari dusun. Namun, dengan jalan tanah lumpur, kontur perbukitan sungguh tak aman bagi siswa.

“Apalagi, di sini banyak hewan buas,” tuturnya.

Bripka Ralon Manurung bersama murid-murid SD Marjinal di Dusun Sialang Harapan, Kampar, Riau. Foto: Ilham Dwi Wancoko/Jawa Pos

Para orangtua selalu dilanda kekhawatiran setiap anak mereka berangkat ke sekolah. Hingga pada 2006, mereka membangun sekolah darurat.

“Kekhawatiran itu wajar. Sering ada warga diserang hewan buas. Terakhir, warga bernama Anis diserang beruang. Kini dia memakai kursi roda,” ungkapnya.

Siswa SD 010 Batu Sasak, Yanda, 11, mengaku kerap melihat hewan buas saat berangkat dan pulang sekolah.

“Saya sering melihat ular. Besarnya segede tangan orang dewasa. Bahkan, ada yang sebesar paha,” ujarnya.

Yanda bersekolah di SD Marjinal mulai kelas I hingga kelas IV. Sekarang karena telah kelas V, dia bersekolah di SD 010 Batu Sasak.

Sebab, di SD Marjinal, hanya ada dua guru. Satu guru mengajar kelas I dan II. Seorang guru lagi mengajar kelas III dan IV.

Masuk kelas V, siswa dipindah ke Batu Sasak. Mereka dianggap sudah lumayan mampu menghadapi medan.

Untuk ke SD 010 Batu Sasak, siswa juga harus melewati Sungai Lipai yang saat musim hujan langganan banjir.

“Jembatan sedang proses pembangunan,” kata Sawirman.

Arosel, 37, guru SD 010 Batu Sasak, mengakui bahwa siswa dari Dusun Sialang Harapan beberapa kali tampak kelelahan dan lapar saat tiba di sekolah.

Mereka kehabisan tenaga setelah harus berjalan kaki sekitar satu jam.

“Coba saja jalan di sini, berat sekali,” ungkapnya.

Kami mencoba berjalan di sekeliling dusun. Memang payah. Kontur yang naik turun dengan permukaan tanah yang licin sungguh menyulitkan.

Peluh bercucuran walau hanya berjalan beberapa ratus meter. Sudut elevasi jalan bisa mencapai 70 derajat.

Arosel menyatakan, selain jalan yang belum dibangun, sinyal handphone dan listrik juga belum ada.

Berada di dusun itu bagaikan sedang terlempar dari peradaban. Seiring berjalannya waktu, kondisi SD Marjinal makin parah.

Bangunan sekolah harus segera diperbaiki. Kalau tidak, kasihan seluruh siswa jika harus kembali ke SD 010 Batu Sasak.

Bripka Ralon membangun asa baru untuk warga. Dia tidak tinggal di dusun tersebut. Bukan pula bhabinkamtibmas daerah itu.

Ralon adalah anggota Dirlantas Polda Riau. Menetap di Pekanbaru, sekitar 120 km dari wilayah yang warganya kini menganggapnya sebagai pahlawan.

Ralon bercerita, pada November 2017 saat dirinya bertugas di kantor Dirlantas Polda Riau, terdapat sekelompok orang yang meminta sumbangan untuk sekolah itu.

“Yang membuat saya tergerak itu, mereka membawa spanduk besar dengan foto gambar sekolah dan ada tulisan: “Pak Jokowi kami butuh ruang kelas,” jelasnya.

Ralon memberikan uangnya sebagai sumbangan. Keesokannya, dia bertemu lagi dengan orang yang meminta sumbangan itu di rumahnya.

“Ternyata, salah seorangnya teman kampus istri saya. Namanya Febri,” ujar suami Maria Farida Naibaho tersebut.

Saat itulah Ralon menyadari bahwa dirinya harus melakukan sesuatu yang lebih. Dia mendatangi sekolah beratap terpal tersebut.

Dia teringat sekolahnya saat SD 30 tahun lalu. Serupa. Berbagai cerita kesengsaraan warga membuat Ralon bersusah payah menahan air mata sedih.

“Saat itulah saya berjanji membantu sekuat tenaga membangun SD ini,” tutur ayah dua putri tersebut.

Ralon mengambil tabungannya belasan juta rupiah untuk perbaikan sekolah tersebut. Namun, belum cukup.

Dia dan istri juga menjual perhiasan untuk menutup kekurangan pembangunan. Ralon bilang dirinya bukan orang kaya. Tetapi, kesempatan membantu tidak datang dua kali.

“Pembangunan dimulai akhir 2017. Saya tetap sering ke dusun ini untuk memantau dan bahkan ikut mengajar,” paparnya.

Upaya Ralon didengar Kapolda Riau, Irjen Agung Setya Imam Effendi. Kapolda pun turun membantu pembangunan sekolah tersebut.

Irjen Agung dan Bripka Ralon bersama meresmikan sekolah tersebut beberapa waktu lalu. Agung juga memiliki ide pengawasan untuk dana BOS bagi sekolah marginal di seluruh Riau.

Seluruh anggota Polres Riau dikerahkan untuk mendata jumlah sekolah marginal semacam itu dan memastikan dana BOS digunakan dengan tepat.

“Kebijakan itu, yang saya dengar, Kapolda ingin membantu agar sekolah marginal di seluruh Riau benar-benar mendapatkan haknya,” kata Ralon.

Berkat aksi Ralon itu, SD Marjinal kini juga dikenal sebagai SD Harapan. Selain karena memang terletak di Dusun Sialang Harapan, SD itu memberikan harapan bagi siswa untuk tak perlu bersekolah jauh-jauh.(*/c5/ayi/jpg)

Update