Minggu, 1 Februari 2026

Demam Pembawa Kematian

Berita Terkait

NOVEL viruscorona awalnya ditemukan di Wuhan pada 31 Desember 2019 lalu. Kala itu, ditemukan 224 kasus dan empat pasien meninggal. Dugaan penyebaran virus ini datang dari hewan liar yang dikonsumsi manusia, seperti kelelawar, ular, dan lainnya.

”Gejala klinisnya hampir sama dengan pneumonia biasa, batuk berdahak, demam dengan suhu lebih 38 derajat celcius, pilek, nyeri sendi, dan sakit kepala. Itu kalau sumbernya dari bakteri dan jamur. Kalau karena virus seperti nCoV ini, ya bisa sesak napas dan bisa mengakibatkan kehilangan nyawa mendadak,” kata Pulmonologis Rumah Sakit Awal Bros Batam (RSAB), Abdul Malik.

Dokter spesialis paru ini mengungkapkan, 87 persen penyakit ini mirip dengan SARS. Hanya saja, flu wuhan ini termasuk salah satu virus baru yang mengakibatkan peradangan pada parenkim paru.

Akibatnya, penderitanya akan mengalami frekuensi pernapasan lebih dari 30 kali per menit, mengalami distress pernapasan berat hingga mengalami Acute Respiratory Distress Syndrom (ARDS).

”Faktor ini menjadi pencetus terjadinya insufisiensi pernapasan,” ujarnya.

Dia menyebutkan, virus ini belum ada obatnya.

”Obatnya ya simptomatis, lebih ke mengatasi gejala atau pun keluhan pasien. Untuk penyembuhannya ya tergantung dari immun tubuhnya si penderita sendiri,” jelasnya.

Untuk kasus ini, Abdul mengungkapkan, masa inkubasi perlu diperhatikan. Ketika ada dugaan pasien terindikasi, perlu diketahui riwayat perjalanannya. Apakah baru kembali dari negara yang terjangkit dalam 14 hari sebelum sakit.

”Kalau seperti itu, segera berobat ke puskesmas. Kalau positif, petugas Puskesmas harus segera melaporkan ke Dinas Kesehatan, selanjutnya Dinas Kesehatan yang menangani dengan mengirimnya ke rumah sakit rujukan resmi,” ungkapnya.

Lantas bagaimana penanganan Pneumonia nCoV itu sendiri? Ia mengungkapkan, warga dengan risiko tinggi terpapar bisa menggunakan APD atau alat perlindungan diri seperti masker, mengisolasi penderita di ruang karantina, melakukan anamnesis, terapi penunjang, melaporkan ke Dinas Kesehatan, dan selanjutnya kepada para penderita dilakukan terapi suportif seperti pengadaan oksigen, cairan, dan juga nutrisi.

”Penanganannya cepat ke dokter kalau ada temuan. Lapor ke Dinkes. Mengapa harus lapor ke Dinkes? Ya, karena ini emergency case. Butuh penanganan khusus,” ujarnya.

Pneumonia Wuhan ini merupakan penyakit serius yang bisa mengakibatkan kematian. Umumnya, gejala awalnya adalah batuk, sesak napas, dan demam. Kalau gejalanya tak segera ditangani, bisa mengakibatkan kompos mentis bagi pasien atau penurunan kesadaran. Frekuensi nadi, pernapasan meningkat. Tekanan darah bisa turun atau naik disertai suhu tubuh yang terus meningkat.

Komplikasinya bisa mengarah ke pneumonia berat sehingga pasien bisa mengalami sepsis, syok, gagal bernafas, hingga berujung kematian.

”Saya belum tahu, rumah sakit rujukan resmi terkait kasus ini di Batam. Terkesan lambat ya, baru nanti siang ada pertemuan. Padahal ini kasus besar. Padahal di Jakarta sudah ditetapkan, ada tiga rumah sakit rujukan, yakni RSUP Persahabatan, RSPI Sulianti Saroso, dan RSPAD Gatot Subroto. Minimal dalam rumah sakit rujukan itu ada tim khusus dan ruang isolasi untuk mencegah penyebaran virus meluas,” tambahnya.

Lebih lanjut ia menambahkan, beberapa hal yang perlu diperhatikan terkait virus ini adalah, jangan bepergian ke daerah terjangkit, hindari kontak dengan orang yang baru melakukan perjalanan dari daerah terjangkit, serta upaya membersihkan diri.

”Sekali lagi, belum ada obat dan vaksin untuk hal ini. Pencegahan utama supaya jangan menyebar adalah mengisolasi, mengaktifkan thermal scanner di empat pelabuhan dan satu bandara sebagai pintu masuk ke Batam, serta ya itu membuat surat edaran kewaspadaan terkait bahaya nCoV ini ke berbagai sekolah, layanan umum, dan pusat kesehatan. Beri edukasi kepada masyarakat,” ungkapnya.

Kepala Dinas Kesehatan Batam, Didi Kusmarjadi, juga mengimbau warga Batam agar menghindari menyentuh hewan atau burung.

”Hindari mengunjungi pasar basah, peternakan atau pasar hewan hidup. Hindari kontak dekat dengan pasien yang memiliki gejala Infeksi Saluran Napas. Patuhi petunjuk keamanan makanan dan aturan kebersihan,” ujarnya. (cha)

Update