Jumat, 10 April 2026

Pertumbuhan Ekonomi Singapura Melambat

Berita Terkait

Sbatampos.co.id – Pemerintah Singapura melarang seluruh turis Tiongkok masuk ke negara itu mulai Sabtu (1/2/2020). Hal ini bertujuan untuk menutup akses persebaran virus corona (nCoV) ke negara tetangga tersebut.

Singapura menutup akses terhadap semua pengunjung baru dari daratan Tiongkok, termasuk orang asing yang telah berada di sana dalam 14 hari terakhir. Demikian dilansir dari South China Morning Post, Jumat (31/1/2020) lalu.

Singapura menjadi negara pertama di Asia Tenggara yang melakukan upaya ini untuk membendung penyebaran virus corona yang mematikan.

Langkah itu sangat berani. Mengingat selama ini, Tiongkok menjadi mitra dagang terbesar Singapura, khususnya dalam bidang pariwisata.

Dewan Pariwisata Singapura (STB) mencatat, sebanyak 3,42 juta wisatawan dari daratan Tiongkok berkunjung ke negara tersebut tahun lalu.Demikian halnya, sebanyak 248 ribu wisman Tiongkok berkunjung rata-rata setiap bulannya.

Bersamaan dengan larangan ini, Singapura juga meng-umumkan tiga kasus virus baru. Dari yang sebelumnya 14 kasus, kini terkonfirmasi menjadi 16 kasus. Tiga penderita baru merupakan satu warga Singapura, perempuan 47 tahun yang melakukan perjalanan ke Tiongkok bersama keluarganya. Mereka dievakuasi dari Wuhan, Kamis (30/1/2020) lalu.

Terkonfirmasi, perempuan tersebut tidak memiliki gejala apa pun ketika naik pesawat. Namun begitu mendarat di Singapura, ditemukan demam selama pemeriksaan medis di Bandara Changi. Dia dinyatakan positif terkena virus corona, Jumat (31/1).

Sementara dua kasus baru lainnya adalah warga negara Tiongkok, pria berusia 31 tahun yang memegang izin kerja di Singapura dan baru mengunjungi provinsi Hubei, kembali ke Singapura pada 26 Januari. Satu lagi, pria 38 tahun yang tiba dari Wuhan pada 22 Januari lalu.

Lebih dari 252 orang dinyatakan sembuh dari virus ini. Sebagian besarnya di Tiongkok, dan juga dua di New South Wales, Australia.

Pantauan data Sabtu (1/2) malam tadi, virus corona telah menginfeksi 11.374 orang di seluruh dunia dan menewaskan 259 jiwa. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) secara resmi menyatakan kasus ini sebagai kondisi darurat kesehatan global.

Langkah ini, oleh WHO, tentu saja merupakan eskalasi dari pengumuman Pemerintah Singapura meng-hentikan masuknya pelancong baru yang pernah ke provinsi Hubei, pusat wabah pertama muncul.

Kebijakan ini menjadi yang pertama kali dilakukan Singapura terkait masalah kesehatan masyarakat. Sebelumnya, negara itu juga pernah mengalami kasus serupa, krisis sindrom pernapasan akut atau SARS. Terparah pada 2003 lalu.

Sebelum larangan itu, Singapura juga memberlakukan kebijakan bagi penduduknya yang bepergian ke Tiongkok selama musim liburan Imlek, setelah kembali ke Singapura, wajib dikarantina di rumah masing-masing selama 14 hari. Mereka tidak diperbolehkan kerja ataupun bersekolah dan wajib dalam pengawasan tenaga medis Singapura. Tentu saja, ini bertujuan untuk memutus mata rantai penyebaran virus nCoV.

 

F. AFP
PARA pendatang dan pengunjung terlihat memakai masker di Bandara Internasional Changi. Pemandangan ini menjadi umum di Singapura sejak ditemukannya 16 penderita nCoV.

Menteri Pembangunan Nasional Lawrence Wong, yang juga mengetuai gugus tugas multikementerian Singapura untuk menangani kasus ini menegaskan, larangan bepergian itu tidak ada hubungannya dengan kewarganegaraan dan rasisme. ”Kami hanya fokus membatasi kasus-kasus dan risiko baru yang timbul. Serta tentu saja untuk memutus mata rantai virus itu di Singapura,” ungkap Lawrence seperti dilansir dari Channel News Asia kemarin.

Ia menambahkan, peran Singapura sebagai pusat transportasi, mengingat jumlah kunjungan turis Tiongkok ke Singapura, demikian sebaliknya tinggi.

”Sangat sulit mengesampingkan potensi kasus baru yang datang dari luar provinsi Hubei,” katanya.

Wong mengatakan, sejak Singapura menjadikan wabah ini kasus luar biasa, telah berdampak pada kegiatanekonomi dan fiskal, serta kebijakan pemerintahan di sana. Ia bahkan berencana menyalurkan bantuan untuk mengatasi krisis Pneumonia Wuhan ini.
Pada 2003, selama krisis SARS, Pemerintah Singapura menyalurkan paket bantuan senilai 230 juta dolar Singapura (setara Rp 2,3 Triliun).

PM Lee: Kita Sukses Tapi Harus Waspada

Sementara itu, Perdana Menteri Lee Hsien Loong mengklaim pihaknya sukses meminimalisir penyebaran virus corona di Singapura.

”Ini menjadi minggu yang sangat berat bagi kita semua. Kita sukses mengatasinya tapi kita juga harus tetap waspada. Kejadian ini sangat menyakiti negeri kita mengingat Tiongkok adalah sumber pendapatan kita dari bidang pariwisata,” ungkapnya kepada sejumlah media di The National Centre for Infectious Disease (NCID) Singapura, Jumat (31/1) lalu.

Lee mengatakan, pariwisata dari sumber-sumber lain juga akan mendapat pukulan karena masyarakat lebih memilih mengambil tindakan pencegahan sehingga berpengaruh terhadap industri makanan dan minuman, perjalanan dan perhotelan. ”Itu yang terdampak secara signifikan,” ungkap Lee.

”Saya berharap semuanya akan segera membaik. Mengingat Tiongkok juga saat ini kondisinya dalam mode semi-lockdown. Ekonomi mereka pasti akan melambat dan ekonomi kita ya pasti berpengaruh,” ungkap Lee.

Sejak kasus ini merebak, jumlah turis Singapura dari Tiongkok mengalami penurunan sekitar 80 persen, karena larangan bepergian oleh pemerintahan Tiongkok.
Ekonom Singapura dari CIMB Song Seng Wun mengatakan, langkah pemerintah itu mirip dengan mengatasi “rasa sakit yang pendek tapi tajam”.

Song mengatakan, sementara industri pariwisata dan ritel saat ini akan dipengaruhi oleh kurangnya kunjungan turis ke Singapura. Di sisi lain, tindakan pencegahan pemerintah akan menjaga bisnis dan kepercayaan konsumen di Singapura.

”Dengan mengambil langkah yang sangat drastis seperti ini, tentu berdampak pada melambatnya ekonomi negara. Semoga hanya memberi efek pada beberapa bidang industri,” jelasnya.

Dia berharap dampak ekonomi dapat teratasi pada kuartal pertama tahun ini dan akan pulih pada kuartal kedua. ”Wabah SARS pada 2003 lalu telah menyebabkan ekonomi Singa-pura mengalami kerugian sebesar 5 miliar dolar Amerika. Mengakibatkan tingkat pengangguran meningkat hingga mencapai 4,8 persen,” ungkapnya.

Warga Khawatir

Nigel Chua, pemilik Bak Kut Teh di Singapura, mengatakan khawatir tentang salah satu gerainya di Jalan Sultan bangkrut. Pasalnya, mayoritas pelanggannya di sana adalah Turis Tiongkok.

”Kami akan melakukan promosi di outlet itu sehingga orang Singapura mau makan di sana,” katanya.

Alicia Seah, Direktur Komunikasi pemasaran untuk biro perjalanan wisata Dynasty Travel, berpendapat pembatasan perjalanan akan menjadi pukulan telak bagi bisnisnya.

“Semakin cepat pemerintah mengendalikan virus, semakin cepat keadaannya kembali normal. Jika jumlah kasus di Singapura tidak meningkat maka pengunjung lain pasti akan datang,” ungkapnya.

Ia mengungkapkan, pihaknya kini mengadakan penghematan dengan dengan me-ngurangi upaya periklanan dan pemasaran serta menjalankan acara.

Singapore Airlines pada Jumat lalu mengatakan, akan mengurangi rute penerbangan termasuk ke beberapa kawasan di Tiongkok.

Pada halaman Facebook-nya, rute sementara yang dihapus adalah penerbangan penerbangan ke Beijing, Shanghai, Guangzhou dan Shenzhen, serta beberapa di antaranya yang diterbangkan oleh SilkAir. Sementara itu, maskapai Scoot juga mengatakan akan menangguhkan penerbangan ke 11 kota di Tiongkok dari awal Februari hingga akhir Maret dan akan mengurangi penerbangan ke delapan tujuan lain di negara itu. (cha)

Update