batampos.co.id – Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi kemarin (29/2) menyatakan bahwa pemerintah menyediakan dana cash Rp 500 miliar untuk mendorong pariwisata Tanah Air akibat corona virus disease (Covid-19). Penerbangan menjadi salah satu yang terdampak virus ini. Di sisi lain, beberapa negara meragukan Indonesia dalam penanganan Covid-19.
“Insentif untuk tiket pesawat berasal dari dana tunai yang disiapkan pemerintah, lalu insentif jasa penumpang dari AP I dan AP II, jasa navigasi dari Airnav dan bahan bakar pesawat (avtur) dari Pertamina. Kita berharap dengan diberikannya insentif ini akan menggairahkan sektor pariwisata,” ujar Budi.
Program tersebut merupakan arahan dari Presiden Joko Widodo. Insentif ini dimulai pada hari ini hingga 30 Mei nanti.
Rencananya, insentif tersebut digunakan untuk sepuluh destinasi. Sepuluh destinasi tersebut antara lain Batam, Bali, Jogjakarta, Labuan Bajo, Manado, dan Silangit.
Dirjen Perhubungan Udara Novie Rianto menyatakan, sekarang banyak slot kosong. Misalnya saja Bali yang biasanya per hari ada 470-480 penerbangan, kini hanya 400 penerbangan.
“Lombok yang sebelumnya banyak diminati turis asing, akibat corona (Covid-19) kini drop sekitar 20 persen,” ucapnya.
Nantinya setelah diberikan insentif diharapkan akan ada diskon. Sehingga menumbuhkan kembali minat wisman maupun wisatawan Nusantara untuk berkunjung dari satu destinasi ke destinasi lainnya di Tanah Air.
PT Angkasa Pura II (Persero) sendiri akan memberikan insentif berupa diskon passenger service charge (PSC) sebesar 20 persen di seluruh bandara yang dikelola perseroan. Diskon tersebut berlaku untuk 25 persen kapasitas kursi. President Director PT Angkasa Pura II Muhammad Awaluddin mengatakan PSC merupakan salah satu komponen harga tiket, sehingga diskon PSC otomatis berdampak pada turunnya tarif tiket penerbangan.
“Total ada 17 bandara PT Angkasa Pura II yang memberikan insentif diskon PSC sebesar 20 persen,” kata Awaluddin.

Dari 17 bandara tersebut terdapat sekitar 20 ribu penerbangan yang melayani penerbangan di sepuluh destinasi wisata. Kapasitas kursi dari 20.000 penerbangan itu sekitar 3,5 juta kursi penumpang dan yang mendapat alokasi diskon PSC 20 persen sebanyak 1 juta kursi penumpang.
Ekonom Josua Pardede menilai, adanya pengurangan penerbangan tidak hanya dialami Indonesia. Tapi juga seluruh dunia.
“Semua negara yang merupakan tujuan bisnis dan wisata terpengaruh. Thailand, Singapura juga lebih terpengaruh. Bahkan sebagian besar Asia akan terpengaruh,” kata Josua.
Menurut dia, seharusnya pemerintah Indonesia mengambil keuntungan dari momentum wabah Covid-19 tersebut. Dengan cara memaksimalkan potensi wisata dalam negeri. Mendorong, masyarakat menengah ke atas untuk tidak berlibur ke luar negeri. Tapi menyuguhkan destinasi dalam negeri sebagai alternatif.
Sebab, akan ada dua keuntungan. Pertama, menggantikan berkurangnya jumlah kunjungan wisatawan mancanegara dengan wisatawan domestik. Praktis, pendapatan devisa bisa ditambal. Kedua, pemerintah tidak akan kehilangan devisa karena masyarakat berduit tersebut tidak membuang uangnya ke negara lain.
Berdasarkan survei Badan Pusat Statistik, kebutuhan masyarakat akan hotel dan restoran masih tinggi. Terutama dari kalangan milenial.
“Saya pikir tidak ada yang harus kita takutkan. Karena kita masih di dalam negeri. Tidak ada bahaya atau ancaman apapun. Keuntungannya juga kita mengurangi wni untuk berlibur ke luar negeri. Karena itu malah justru melepas devisa,” beber pria yang menjabat Chief Economist Permata Bank itu.
Di sisi lain, beberapa maskapai asing membatalkan penerbangannya ke Indonesia. Sebut saja Singapore Airlines dan Cathay Airlines Novie membenarkan adanya pembatalan tersebut. Menurut laporan yang diterimanya, hal itu dikarenakan Covid-19. Untuk itu kini Ditjen Perhubungan Udara tengah menata kembali penerbangan di Tanah Air.
Manager Public Relations Singapore Airlines Indonesia Glory Henriette mengakui, skala peningkatan virus Covid-19 menimbulkan tantangan signifikan bagi grup perusahaan Singapore Airlines.
“Traffic dan load factor menurun dengan cepat di semua pasar sejak berita tentang virus tersebut pertama kali muncul,” ungkap Glory kepada Jawa Pos (grup Batam Pos), kemarin.
Singapore Airlines lantas mengambil langkah cepat untuk mengurangi dampak penurunan permintaan. Termasuk mengurangi frekuensi penerbangan ke Tiongkok dan seluruh jaringan global mereka. Termasuk Indonesia. Di Tanah Air mereka menerbangi Jakarta, Surabaya, Makassar, Balikpapan, Bandung. Penyesuaian, kata Glory, dilakukan hingga akhir Mei mendatang.
Dengan situasi dan kondisi saat ini, Singapore Airlines akan terus fleksibel. Menyesuaikan kapasitas penerbangan dengan perubahan permintaan pasar. “Jadi, kami tidak menutup penerbangan, tetapi menyesuaikan frekuensi,” tegas Glory.
Dia menjelaskan, ada tanggal tertentu dimana satu dari sembilan penerbangan tidak ke Indonesia. Misalnya, SQ 953 untuk bulan Maret hanya empat haru yang tidak terbang ke Jakarta. Tanggal 12, 19, 21, dan 28. Sedangkan, 27 hari lainnya pesawat tetap terbang.
“Jadi, bukan tiap hari dari tanggal 1 sampai 31 Maret tidak ada SQ 953, bukan demikian. Dan masih ada delapan penerbangan pada empat hari itu,” jelasnya.
Sementara itu, dilansir dari The Sydney Morning Herald Perdana Menteri Australia Scott Morrison meragukan bahwa Indonesia terbebas dari Covid. Apalagi populasi penduduk Indonesia cukup banyak.
Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kemenkes Anung Sugihantono bahwa kementeriannya telah memiliki panduan dalam penanganan kasus korona. Panduan tersebut berdasarkan dari badan kesehatan dunia (WHO).
“Bahkan ini tengah membuat clustering untuk pemeriksaan laboartorium,” tuturnya. Namun dia enggan membeberkan sebab masih dalam penyusunan.
Selain itu Indonesia juga telah melakukan surveilan aktif. Misalnya ada satu orang dari Indonesia yang terbukti positif Covid-19. Maka pemerintah akan melihat data di imigrasi alamat selama di Indonesia dan di luar negeri.
“Lalu dari situ mulai dirunut siapa yang menjemput di bandara, petugas hotel yang melayani, dan siapa saja yang ditemui,” ungkanya.
Anung mencontohkan kasus warga negara Jepang yang dinyatakan positif pasca mengunjungi Bali. Pemerintah telah melakukan surveilan aktif kepada 300an orang yang pernah kontak dengan WN Jepang tersebut. Kini Kemenkes akan menentukan siapa saja dari 300an orang ini yang akan diambil sampel untuk dilakukan pemeriksaan laboratorium. Dia merasa bahwa semua yang dilakukan untuk mengantisipasi virus ini masuk sudah dilakukan. (han/lyn)
