batampos.co.id – Pembangunan Rumah Sakit (RS) Khusus Infeksi di Sijantung, Galang,
menelan biaya sekitar Rp 400 miliar. RS tersebut ditargetkan beroperasi pada akhir Maret mendatang.
Pembangunan nantinya menggunakan sistem modular atau standar. Sehingga, dapat mempercepat pembangunan rumah sakit tersebut.
”Di sini sudah ada berbagai fasilitas kehidupan, tinggal di rehab (renovasi) saja,” kata
Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Mochamad Basuki Hadimoeljono, saat mengecek persiapan pembangunan Rumah Sakit Khusus Infeksi di Sijantung, Senin (9/3/2020).
Dari pantauan Basuki, ia mengatakan, beberapa bangunan di bekas lokasi Camp Vietnam tersebut masih bisa dimanfaatkan.
Karena memiliki struktur baja yang masih bagus serta dinding dobel asbes.
”Masih kuat betul, hanya plafon kayu dan kusen kayunya yang lapuk. Tapi intinya beberapa bangunan bisa dipakai,” ungkapnya.
Bangunan yang sudah ada tersebut, kata Basuki, digunakan sebagai pendukung rumah sakit yang akan dibangun.

bekas Camp Vietnam di Galang, Senin (9/3/2020). Foto: batampos.co.id/Cecep Mulyana
Beberapa bangunan akan menjadi tempat administrasi, tempat dokter, tenaga medis lainnya, dapur dan laundry.
”Semuanya untuk pendukung ruang observasi dan isolasi,” ujarnya.
Sementara bangunan rumah sakit, dibangun tak jauh dari bangunan Camp Vietnam tersebut.
Dari pantauan Batam Pos, pematangan lahan sudah dilakukan. Basuki mengatakan, di
rumah sakit tersebut, akan dibangun lokasi ruang obseravasi dan isolasi.
Akan ada dua bangunan, dalam satu bangunan terdapat 230 tempat tidur.
”Jadi seluruhnya ada 460 tempat tidur sebagai sarana observasi. Dalam satu kamar terdapat 8 tempat tidur,” ungkapnya.
Sementara untuk ruang isolasi, terdapat 50 kamar yang terdiri dari 30 kamar non-Intensive Care Unit (ICU) dan 20 kamar ICU.
Ruang isolasi bangunannya akan terpisah. Basuki, mengatakan, ada alur masuk yang diterapkan, jalur sebelah kiri untuk pasien, sedangkan jalur sebelah kanan untuk dokter.
Saranan penunjang lainnya, lanjutnya, juga sudah dipersiapkan. Dari kawasan tersebut, terdapat embung rempang yang dapat memasok lima liter air per detiknya. Embung tersebut memiliki kapasitas 230 meter kubik.
”Sudah mendapatkan izin dari BP Batam,” ucapnya.
Untuk listrik, Basuki mengatakan akan segera masuk dalam waktu 2 hari ini. Ia juga memikirkan tentang sampah.
”Ada padat dan cair, untuk cair kami akan buat IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah)-nya. Sedangkan yang padat akan disediakan incenerator,” jelasnya.
“Kami akan bekerja sama dengan KLHK (Kementerian Lingkungan Hidup dan Ke-
hutanan),” tuturnya.
Ia mengatakan, bangunan rumah sakit tersebut akan siap dalam waktu 3 minggu.
Direncanakan, akhir Maret sudah dapat beroperasi.
Rumah Sakit ini dipersiapkan tidak hanya menghadapi virus corona. Tapi juga penyakit menular lainnya.
”Kami bukan mengharapkan penyakit. Kami siap-siap kalau ada penyakit menular lainnya, seperti SARS, MERS atau Flu Afrika,” ungkapnya.
Nantinya, kata Basuki, pengelolaan rumah sakit sepenuhnya dikelola oleh TNI.
Kenapa memilih Galang? Basuki memaparkan, apabila dibuat di wilayah Natuna, memakan waktu yang banyak.
Karena ke Natuna harus ditempuh dengan dua kali penerbangan. Sementara di Pulau Sebaru, di kala ombak besar, kapal tidak dapat merapat.
Selain itu, pasokan air juga kurang.
”Di sini semuanya ada. Dan mudah dijangkau, dari bandara cuma satu jam saja ke sini dan jauh dari permukiman,” pungkasnya.(ska)
