Minggu, 26 April 2026

Pengorbanan Seorang Kakek yang Rela Jadi ODP Demi Sang Cucu

Berita Terkait

Seorang kakek asal Sumatera Utara rela menjadi orang dalam pengawasan (OPD) terkait virus Corona atau Covid-19. Dia sehat, namun demi sang cucu yang ditetapkan sebagai pasien dalam pengawasan (PDP) oleh tim medis, diapun ikut dikarantina di Rusunawa BP Batam di Tanjunguncang.

Eusebius Sara-Batam

Dengan nada sendu, Gultom begitu ia biasa disapa menceritakan bagaimana perasaannya ketika mengetahui sang anak meninggal dunia di RSUD Embung Fatimah, pada Senin (30/3/2020) lalu.

Buah hatinya V sempat menjadi Pasien Dalam Pemantauan (PDP) dirawat intensif sekitar tujuh hari di rumah sakit milik pemerintah tersebut.

Setelah sang buah hati tiada, kini Gultom harus menyandang status sebagai Orang Dalam Pengawasan (PDP) karena harus menjadi cucunya berinisial B.

B merupakan anak dari V. Sang Bunda yang bertatus PDP membuatnya harus dipantau ekstra oleh tenaga medis. Sama dengan ibunya, B juga diberikan status PDP.

B, kata Gultom kini hidup sebatang kara. Pasalnya, buah hati V sudah lama berpisah dengan sang suami tepatnya sejak B masih kecil.

Gultom yang berada di Batam sehari sebelum V meninggal dunia tak rela jika cucunya dikarantina seorang diri di Rusunawa milik BP Batam yang berada di Tanjunguncang, Batuaji.

Gultom pun mengajukan diri kepada tim medis agar bisa menemani cucunya tersebut. Oleh petugas medis statusnyapun dinaikan menjadi ODP.

Saat dihubungi Batam Pos, Jumat (3/4/2020), Gultom tak bisa menyembunyikan kesedihannya. Dia mengaku sangat terpukul dengan kenyataan yang dihadapinya saat ini.

Ketua Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kota Batam, Amsakar Achmad, saat berbincang dengan warga Batam yang di karantina di Rusun BP Batam dan sudah diperbolehkan pulang karena steril dari virus corona. Foto; Cecep Mulyana/batampos.co.id

Sang Puteri yang baru saja meninggal dunia, hingga sang cucu yang harus menjalani masa karantina.

“Apapun yang terjadi terjadilah demi cucuku ini. Yang penting dia bisa sehat kembali,” ujarnya dengan nada suara yang parau.

Sebelum ke Batam, Gultom menetap di Kalimantan bersama anggota keluarganya yang lain.

Dia tiba di Batam pada Minggu (29/3/2020) karena mendapat kabar sang Puteri V, sakit dan kritis.

Saat turun dari pesawat di Bandara Hang Nadim Batam, suasana hatinya sudah diselimuti perasaan was-was.

Sebab keluarga yang menjemputnya mengabarkan kalau V dirawat karena terindikasi terpapar Covid-19.

Belum selesai dengan rasa kekalutan, Gultom lagi-lagi dihadapkan dengan situasi yang menyedihkan.

Sebab dia tidak diperkenankan tinggal di rumah keluarga. Dia diharuskan menginap di hotel jika ingin menemani sang Puteri di rumah sakit.

“Sedih benar saya. Padahal saya belum bertemu dengan anak saya tapi saya disuruh ke hotel,” ujarnya.

Namun, Gultom paham jika wabah Covid-19 sudah cukup horor di mata masyarakat. Dia berpikir positif bahwa apa yang dilakukan keluarganya itu untuk kebaikan bersama.

Namun itu tak bertahan lama, sebab sehari setelah berada di Batam dia mendapatkan kenyataan yang cukup pahit. Sang Puteri yang belum sempat dijenguknya meninggal duania.

“Benar-benar hancur hati saya. Saya hanya bisa menangis, tak bisa berbuat banyak selain mengikuti semua instruksi dari pihak rumah sakit. Melihat (saat pemakaman) tak boleh,” ujarnya.

Situasi-situasi buruk yang dihadapinya itu belum juga berakhir. Setelah sang Puteri dimakamkan, giliran cucunya yang dibawa petugas medis untuk dikarantina.

Hati sang kakek kembali luluh lantak. Diapun memutuskan untuk menemani sang cucu yang rencananya akan dikarantina seorang diri.

“Saya minta ikut karantina bersama cucu saya ini. Tak apalah saya kena asalkan cucu saya ada yang temani,” ujarnya.

Saat ini sang kakek masih bersama sang cucu di rusunawa BP Batam di Tanjunguncang. Diapun tak lagi memikirkan pekerjaan dan rutinitas hariannya demi sang cucu. Yang ada dibenaknya, sang cucu segera sehat dan bisa dibawa pulang ke Kalimantan bersama keluarga besarnya.

“Apapun terjadi saya tidak akan tinggalkan dia sendirian. Harus saya bawa pulang cucuku ini,” ujarnya.

Terkait kesehatan dan status sang cucu, kakek Gultom menuturkan dalam kondisi yang stabil. Dalam arti sang cucu masih main seperti biasa. Status sang cucu adalah PDP dan dia adalah ODP.

“Sudah mulai ceria dia tapi sering nangis ingat ibunya. Mohon doa semoga kami berdua tetap sehat dan segera pulang ke Kalimantan,” ujarnya.

Update