batampos.co.id – Wakil Direktur RSUD Embung Fatimah bidang Pelayanan Medik, drg Sri Rupiati, menahan tangis ketika menjelaskan perihal pelayanan pasien terkonfirmasi maupun suspect Covid-19 di rumah sakit pelat merah tersebut.
RSUD Embung Fatimah jadi sorotan setelah beredarnya tangkapan layar WhatsApp berisi keluhan dari pasien terkonfirmasi Covid-19, kasus 03 Batam, yang mengeluhkan pelayanan rumah sakit tersebut, sebelum meninggal.
“Terus terang, kami petugas medis sudah berbuat maksimal. Setiap pasien di Kirana (tempat isolasi pasien Covid di RSUD Embung Fatimah,red) kami monitor,” ucapnya terbata-bata saat rapat di DPRD Batam, Kamis (2/4/2020) lalu.
Dia lantas mengingat kejadian yang berujung keluhan itu terjadi pukul 23.00 WIB, beberapa waktu lalu.
Ia menyangkal petugas mengacuhkan kebutuhan pasien. Dirinya sebagai penanggung jawab ruangan Kirana, bahkan langsung menanyakan hal ini kepada petugas medis
yang bertugas.
“Pakai APD tak boleh buru-buru. Untuk kaki saja, sebelum pakai sepatu ada tiga lapis yang dipakai. Petugas harus melindungi diri mereka juga. Perlu waktu 20-an menit,” terangnya.
“Saya bilang ke perawat cepat minta maaf ke pasien. Saya sendiri menghubungi kerabat korban untuk menjelaskan,” tambah dia, dengan mata yang sembab.
Ia menyebutkan, dalam sehari perawat yang bertugas dibagi dalam tiga sift dengan
skema 4-3-3 plus dua perawat insentif.
Tidak hanya itu, disiapkan perawat pengganti sebanyak 10 orang yang akan bertugas jika ada perawat yang kelelahan maupun hal lain.
Tidak hanya itu, ia juga menerangkan, RSUD Embung Fatimah kerap menerima pasien
rujukan dari rumah sakit lain.

Maka dari itu, pihaknya selalu bertanya bagaimana kondisi pasien saat dirujuk kepada
rumah sakit awal.
“Rata-rata kondisi yang sudah berat kami terima. Ini maaf, contoh pasien pertama Nyonya S sudah dirawat sejak 7 Maret baru dirujuk ke RSUD tanggal 13, kami RSUD langsung mengambil sampel swab 14 Maret,” jelasnya.
“Dirujuk begini sama juga untuk kasus dua dan tiga dari RS lain. Yang langsung
kami tangani, alhamdulillah banyak yang sembuh, contoh pramugari maskapai sudah
sembuh kita rawat,” papar dia lagi.
Merujuk pada SK Gubernur, kata dia, ada 14 RS sebagai rumah sakit rujukan awal di
Batam. RSUD Embung Fatimah dan RSBP merupakan rujukan utama.
Menanyakan kondisi pasien yang dirujuk dari RS lain ke RSUD bukan tanpa alasan, ia
tidak ingin RS pelat merah ini jadi sasaran disalahkan.
“Makanya saat dirujuk kami tanya betul, jangan sampai RS kami yang disebut tidak
layani dengan baik. Padahal kondisi pasien yang dirujuk sudah dalam kondisi pheunomia berat,” tuturnya.
“Dokter paru kami berkecil hati, tapi kami bilang selama kita berjuang maksimal, ayo kita layani. Kami sangat maksimal sekali. Telepon kami aktif 24 jam,” paparnya lagi.
Sementara itu, dalam rilis kasus terkonfirmasi 03, korban bahkan terkonfirmasi positif
di RSAB Batam, baru dirujuk ke RSUD Embung Fatimah pada hari hasil lab PCR
keluar.

Adapun riwayat kasus 03, mulai Jumat (13/3/2020) sudah mengeluh tenggorokan gatal dan badan tidak fit saat terkena sinar matahari usai salat Jumat.
Selanjutnya, pada Sabtu (14/3/2020) mulai terasa demam ringan. Lalu malam harinya,
yang bersangkutan meminum obat penurun demam dan tidur hingga pagi hari.
Ketika terbangun sempat menjalani aktivitas bersepeda. Namun, pada Senin (16/3/2020)
dia kembali merasa demam dan memeriksakan diri ke RSAB yang tidak jauh dari kediamannya.
Selanjutnya pada Selasa (17/3/2020) yang bersangkutan kembali ke rumah sakit tersebut dan ditempatkan di ruang isolasi UGD yang dilanjutkan dengan tindakan diagnostik foto rontgen dan pemeriksaan laboratorium.
Setalah itu diizinkan kembali ke rumahnya dengan diberi tambahan obat penurun
demam. Namun, pada Rabu (18/3/2020) kondisi yang bersangkutan belum juga membaik.
Pasien lalu kembali ke rumah sakit tersebut dan kembali dirawat di ruang isolasi lalu diambil sampel swab oleh Tim Balai Teknik Kesehatan Lingkungan Pengendalian Penyakit (BT-KLPP) Batam hal ini mengingat gejala yang timbul mengarah pada pheunomia.
Sehingga dimasukkan dalam kategori Pasien Dalam Pengawasan (PDP) Covid-19. Lalu Senin (23/3/2020) diterima hasil pemeriksaan sampel yang bersangkutan terkonfirmasi positif Covid-19.
Sementara itu, Direktur RSUD Embung Fatimah, Ani Dewiyana, menyebutkan, terkait keluhan pasien 03, sebenarnya bukan tanpa komunikasi sama sekali.
Mereka menggunakan telepon seluler. Walau ia mengaku bel tidak ada.
“Sebenarnya, ada kontak melalui HP dengan perawat. Kita akomodir semua kok. Tapi mungkin beliau rasa lambat, karena pelayanan di luar antar obat harus pakai baju APD itu 20-an menit,” jelasnya.
“Tapi kami terima sebagai masukkan. Sebelumnya memang beliau dirawat di RS Awal Bros. Kita tahu di sana kan sudah bertekanan negatif ruangannya. Mungkin karena di sana nyaman, jadi pas ke sini tak pakai AC jadi berbeda keadaannya,” ujarnya lagi.
“Kami mohon maaf, ini semua karena ketidaklengkapan sarpras (sarana dan prasarana). Gedung kami terus terang tidak siap sebenarnya jika dilihat dari hal ini (ruangan
bertekanan negatif ), tapi sudah cukup sebenarnya. Saya ingin katakan, kami ini siap
melayani,” ungkapnya.
Ia juga menerangkan, Gedung Kirana dibangun dan selesai akhir 2019 lalu. Awalnya bukan untuk Covid-19, tapi untuk memenuhi kebutuhan di tengah wabah, kini diubah
jadi ruangan penangan covid.
“Syarat kalau AC harus bertekanan negatif, budget-nya sekian dan mahal. Pak Didi
akan jelaskan,” katanya.
Maka dari itu, pihaknya mengusulkan sarpras seperti CCTv, bel, dan monitor layar ini akan
jadi alat komunikasi.
Menurut dia, Covid-19 bukan infeksi biasa, bekas pegangan saja bisa menularkan.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Batam, Didi Kusmarjadi menyebutkan, satu pasien positif kini masih dirawat yakni di RSBP Batam.
Dua yang sempat dirujuk ke RSUD meninggal.
“Rabu dilakukan swab ulang ternyata masih positif makanya kami belum pulangkan, sebulan dia udah dirawat,” imbuhnya.
Ia juga menyampaikan, beberapa kasus PDP juga meninggal lima orang. Dua di Embung Fatimah dan tiga di RSBP.
“Hasilnya belum keluar semua, yang sudah keluar negatif, dan masih ada yang on proses,” ujarnya.
Pihaknya sudah membentuk jaringan dengan seluruh RS dan puskesmas dan BTKLPP serta KKP.
Jika PDP ditemukan dan ringan maka dirawat jalan atau karantina mandiri di rumah.
“Kalau sedang di seluruh RS. Tapi ada satu dua yang belum. Kalau yang berat rujukan
utama ke RSUD dan RSBP. Dua ini kebagian yang berat-berat saja,” jelasnya.
“Sistem untuk ODP maupun PDP ringan akan di-follow up oleh puskesmas setempat. Kalau memburuk sesuai kriteria tadi,” ujarnya lagi.
Sayangnya, di Batam terkait alat medis sangat kurang. Untuk rapid test saja, baru
dapat 780 alat dari pengusaha.
Diberikan ke RSUD sebanyak 200 dan 580 unit ke Dinkes sudah distribusikan ke semua
RS yang merawat PDP.
“Prioritas ke RS yang rawat PDP karena terbatas. Setiap puskesmas juga masing-masing 20 untuk pantau di lapangan,” kata dia.
Ia juga mengaku masih ada masalah saat pengambilan sampel swab oleh BTKLPP, peralatan Virus Transfer Media (VTM) sangat kurang.
“Kami baru dapat info akan ada bantuan 1000 VTM, kalau iya, alhamdulillah sehingga swab PDP bisa diambil,” ujar dia.
Untuk PCR, ia mengaku telah mendapat dua unit dari pengusaha. Sayangnya alat ini selain sederhana, juga teknisi dari Singapura tak bisa datang untuk melihat.
“Kami coba pelajari bersama BTKLPP. Itu alatnya mungkin terlalu sederhana dan di dalam
manual book-nya terbaca untuk tidak dilakukan tes pada manusia. Ada kata begitu. Agak takut, di samping kami tak mampu operasikan, kami jadi ragu,” terangnya.
Namun yang menggembirakan, Batam akan mendapat dua unit PCR dari Singapura, alat lengkap yang memenuhi syarat. Selain itu, juga akan ada bantuan 10 ribu test kit.
“Total yang diterima dua PCR yang penuhi standar, 20 ribu test kit. Ini sangat cukup
dipakai di Batam,” ujarnya.
Bantuan tersebut sudah sampai di Batam, Jumat (3/4/2020) malam. Wali Kota Batam
Muhammad Rudi mengatakan, dengan adanya bantuan alat ini pihaknya bisa melakukan
pemeriksaan termasuk yang diduga terkait corona.
“Yang pernah kita sisir datanya 2.065 ini kami tes. Termasuk yang akan dites pegawai saya di Pemko maupun BP Batam sehingga masuk kerja tak lagi waswas,” ujarnya.
Ia menyebutkan, ingin menangani Covid setuntasnya. Maka, pihaknya juga akan menutup batas wilayah antarkecamatan.
Kepala Dinkes Batam Didi Kusmarjadi mengaku bersyukur atas bantuan dua unit PCR dan 20 ribu test kit ini, test kit sudah termasuk VTM.
Hal ini sudah cukup memadai untuk Batam dan Kepri.
“Yang paling utama adalah kita bisa periksa sampel di Batam, tidak perlu lagi dikirim
ke Jakarta,” katanya.(iza)
