batampos.co.id – PT PLN (Persero) memberikan penjelasan terkait banyaknya keluhan masyarakat soal tingginya kenaikan tagihan listrik. Banyak pelanggan listrik pasca bayar mengeluh, tiba-tiba tagihan listrik mereka melonjak signifikan.
Senior Executive Vice President Bisnis & Pelayanan Pelanggan PLN Yuddy Setyo Wicaksono menjelaskan, ada tiga penyebab tagihan listrik pelanggan tiba-tiba bengkak. Hal itu tak terlepas dari berubahnya kebiasaan masyarakat karena penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) sehingga membuat perusahaan terpaksa menerapkan pekerjanya bekerja dari rumah.
Menurutnya, kebijakan Work From Home (WFH) membuat konsumsi lebih tinggi dari biasanya, karena banyaknya anggota keluarga berada di rumah. Sebab, selain pekerja, kegiatan belajar-mengajar juga terpaksa menerapkan kebijakan belajar secara online. Sehingga, semua aktivitas dikerjakan di rumah.
Dia menjelaskan, segala aktivitas bekerja yang terjadi sejak Maret tagihannya akan dibayarkan pada rekening April dan Mei. Tak heran, catatan penggunaan pada masa WFH tersebut menyebabkan peningkatan tagihan yang mestinya dibayarkan pada April dan Mei.
“Pencatatan WFH tadi menyebabkan peningkatan konsumsi listrik bagi sebagian pelanggan rumah tangga,” ujarnya dalam video conference, Senin (8/6).
Lebih lanjut dia menjelaskan, memasuki bulan Ramadan, konsumsi listrik lebih meningkat karena aktivitas sahur yang membuat kebiasaan pemakaian berubah. “Kalau Ramadan kita bangun lebih awal lampu-lampu dinyalakan semuanya artinya konsumsi lebih panjang,” jelasnya.
Dia juga menjelaskab, sejak WFH tagihan listrik dihitung berdasarkan rata-rata 3 bulan sebelumnya atau sebelum WFH. Sementara, pemakaian listrik pada bulan April dan Mei mengalami peningkatan karena WFH.
Kelebihan pemakaian listrik pada April dan Mei belum terhitung dan terbayarkan, karena penghitungan rata-rata 3 bulan sebelumnya tadi. Sementara, pada bulan Juni, penghitungan listrik dihitung dengan sesungguhnya ditambah peningkatan pemakaian listrik yang mestinya masuk tagihan April dan Mei.
Hal inilah yang menurutnya membuat tagihan listrik pada Juni tampak naik signifikan. “Waktu Juni dicatat sesungguhnya maka bulan Juni sudah naik WFH sebelum Covid, ditambah lagi kWh yang belum dicatat belum dibayar April-Mei ditumpukkan ke bulan Juni,” pungkasnya.(jpg)
