batampos.co.id – Pelaksanaan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) level 3 dan 4 di Kepri selama beberapa pekan ini, dapat menurunkan angka kasus positif. Ia berharap dengan terus meningkatnya vaksinasi dan ketatnya protokol kesehatan (protkes) dilaksanakan masyarakat, sehingga dapat kembali menurunkan angka kasus positif.
”Sebelum ini saya sulit tidur, angka positif mencapai seribu orang sehari. Tapi kini hanya tinggal 320-an saja. Saya harap semoga angka ini dapat turun lagi,” harap Gubernur Kepri Ansar Ahmad.
Ia meminta kepada kepala daerah di Kepri terus meningkatkan vaksinasi dan memperketat protkes, sehingga angka positif segera turun. ”Tolong bapak-bapak (kepala daerah) ditekan lagi, saya minta agar kembali hijau, agar program ekonomi berjalan lancar, termasuk travel bubble,” ucapnya.
Pihaknya pun mencanangkan bantuan bagi masyarakat yang sedang menjalani isolasi mandiri (isoman). Bantuan diberikan pemerintah provinsi adalah jaminan ekonomi bagi warga yang terpapar.
”Kami ingin menjamin ekonomi yang sedang isolasi mandiri, sehingga tidak ada alasan lagi keluar rumah akibat tidak memiliki uang,” tuturnya.
Kepri ada di peringkat 22 nasional angka kasus harian Covid-19. Peringkat ini turun karena saat Covid-19 mengganas Kepri berada di peringkat delapan. ”Semoga terus turun, saat ini BOR (bed occupancy rate) juga telah jauh menurun,” katanya.
Meski angka kasus positif Covid-19 di Kepri turun di sejumlah daerah, namun ia masih merasa khawatir. Sebab angka kematian di Kepri masih cukup tinggi, yakni 2,82 persen.
”Angka kematian di Kepri ini setara dengan angka yang diperbolehkan nasional. Tapi jika dibandingkan standar WHO (World Health Organization), angka ini cukup tinggi. Standar WHO itu 2,5 persen,” kata Ansar.
Ia mengaku sudah menanyakan permasalahan tersebut ke Dinas Kesehatan dan para tenaga kesehatan. Dari penuturan pihak Dinas Kesehatan, penyembuhan terhadap pasien Covid-19 berjalan dengan baik.
Penanganan sesuai dengan standar dari Kementerian Kesehatan. ”Pasien Covid-19 ditangani dengan baik,” ucapnya.
Ansar mengaku mendapatkan informasi bahwa banyak masyarakat yang terpapar Covid-19 memilih isolasi mandiri. ”Masyarakat yang terpapar ini, walaupun sudah menunjukkan peningkatan gejala tapi memilih tetap di rumah, tidak ke rumah sakit. Tapi begitu sudah berat, barulah ke rumah sakit. Hingga akhirnya 2 atau 3 hari kemudian meninggal dunia,” ujarnya.
Permasalahan inilah yang menjadi penyebab banyaknya pasien Covid-19 meninggal dunia. Untuk itu, ia berharap masyarakat yang sudah menunjukkan gejala sedang ataupun berat dapat segera ke rumah sakit. ”Segeralah ke rumah sakit, sehingga dapat ditangani dengan baik. Marilah kita semua bekerja sama dengan baik, insya Allah Covid di Kepri segera berakhir.”
Kepala Dinas Kesehatan Kepri, M Bisri, mengatakan, selain karena perilaku masyarakat, tingginya angka kematian disebabkan juga banyaknya masyarakat lansia dan pra lansia memiliki komorbid.
”Masyarakat Kepri ini ternyata memiliki banyak komorbid, sehingga saat kena Covid-19 cenderung menjadi parah,” ucapnya.
Ia mengatakan bahwa angka kematian yang cukup tinggi ini, juga terjadi di beberapa negara lainnya seperti India. Namun, demi meminimalisir angka kematian akibat Covid-19, ia berharap masyarakat mengalami perubahan gejala dapat segera melapor ke petugas kesehatan.
Selain itu, lanjut Bisri, ia bersyukur saat ini kebutuhan pasien Covid-19 akan oksigen mulai menurun. ”Sudah turun, semoga terus turun,” harapnya.(*/jpg)
