
batampos – Singapura telah menandatangani perjanjian dengan AstraZeneca untuk membeli obat antibodi pengobatan Covid-19, dengan pasokan diharapkan tiba di Singapura pada akhir tahun.
BACA JUGA: Kasus Omicron Lokal Pertama Singapura Terdeteksi
Dikenal sebagai Evusheld, obat terseebut merupakan kombinasi dari dua antibodi “panjang” yang membutuhkan waktu lebih lama untuk dimetabolisme dalam tubuh. Obat ini dapat memberikan perlindungan yang lebih tahan lama hingga satu tahun dibandingkan dengan antibodi monoklonal.
Antibodi monoklonal adalah protein yang diproduksi di laboratorium yang bertindak seperti antibodi untuk membantu sistem kekebalan melawan virus.
AstraZeneca mengatakan bahwa uji klinis fase 3 menunjukkan bahwa obat tersebut mampu mengurangi risiko Covid-19 yang parah atau kematian hingga 88 persen ketika diberikan kepada pasien dengan Covid-19 ringan hingga sedang dalam jarak tiga hari sejak timbulnya gejala.
Temuan awal di laboratorium juga menunjukkan keefektifan obat terhadap varian-varian virus tersebut, termasuk varian Delta.
Perusahaan juga mengatakan bahwa data pra-klinis yang tersedia saat ini juga menunjukkan kemanjuran obat tersebut tidak akan dipengaruhi secara signifikan oleh varian Omicron baru.
Kedua antibodi dalam obat tersebut berasal dari sel B penghasil antibodi yang disumbangkan oleh pasien Covid-19. Kedua antibodi tersebut juga telah dimodifikasi untuk memberikan perlindungan jangka panjang hingga satu tahun bagi penerima obat.
“Evusheld menyediakan profesional kesehatan dan pasien di Singapura dengan pilihan baru untuk melawan virus. Selain itu, Evusheld akan memberikan pilihan pencegahan lain di samping vaksin bagi mereka yang berisiko tinggi, termasuk untuk orang-orang yang kekebalannya terganggu dan tidak dapat mengembangkan tingkat respons perlindungan yang diperlukan setelah vaksinasi Covid-19,” ujar Vinod Narayanan, presiden AstraZeneca Singapura.
AstraZeneca minggu ini telah menerima Otorisasi Penggunaan Darurat untuk Evusheld dari Food and Drug Administration (FDA) Amerika Serikat untuk pencegahan Covid-19 dan telah mengajukan persetujuan di negara lain.
FDA telah mengatakan bahwa obat tersebut diizinkan untuk digunakan dalam mencegah Covid-19 pada orang yang memiliki sistem kekebalan yang lemah dan mungkin tidak cukup dilindungi oleh vaksin. (*)
Reporter: TheStraitsTimes / Kevin Rendra Pratama
