
Penampakan J, tersangka pembunuhan sekeluarga di Kalimantan Timur.
batampos – Kerabat korban pembunuhan satu keluarga di Penajam Paser Utara (PPU), Kalimantan Timur, meminta agar J, tersangka, dihukum mati. Selain perbuatannya sangat sadis, keluarga meyakini pembunuhan itu direncanakan.
”Kami menuntut hukuman seadil-adilnya. Kalau bisa ya nyawa dibalas nyawa,” kata Putut, salah seorang anggota keluarga korban, saat dihubu-ngi Kaltim Post (grup Batam Pos).
J, siswa SMK kelas XII di PPU, membunuh suami istri WL, 34; dan SW, 34; serta ketiga anak mereka: RJ, 15; VD, 12; dan ZA, 2,5, pada Selasa (6/2) dini hari di kediaman korban di Dusun Lima, RT 018, Desa Babulu Laut, Kecamatan Babulu, PPU.
J yang masih berstatus anak karena baru berusia 18 tahun pada 27 Februari nanti melakukan aksinya menggunakan parang. Dugaan awal polisi, motif pembunuhan adalah dendam akibat percekcokan pelaku dengan WL soal ayam. Juga, dipicu helm yang dipin-jam dan belum dikembalikan. Tapi, ada pula yang menyebut motifnya asmara karena cinta J ditolak RJ.
Putut meyakini J yang masih terhitung tetangga para korban itu telah merencanakan pembunuhan tersebut dengan matang. ”J telah merebut kebahagiaan kami. Kami tidak akan pernah bisa memaafkan dia,” ujarnya.
Baca Juga: Pelajar SMK di Kalimantan Timur Bunuh Satu Keluarga Berjumlah 5 Orang
Putut mengatakan, informasi yang beredar bahwa J mabuk dan ada informasi yang bersangkutan mau mencuri di rumah WL dianggapnya semakin menutupi modus pembunuhan berencana. Dia juga tidak memercayai saat parang yang diduga digunakan J disebut tampak tumpul. Sebab, luka pada korban, kata dia, terkesan sangat tajam dengan luka bacok yang rapi.
Sementara itu, Ahan Akbar, kepala SMK di PPU yang disebut-sebut sebagai tempat sekolah J, membenarkan bahwa anak tersebut pernah belajar di sekolah yang dipimpinnya. ”Kalau anaknya selama di sekolah ya penurut, biasa-biasa saja, tidak punya masalah-masalah yang berat,” jelasnya.
Hanya, dia menduga ada kemungkinan J punya masalah keluarga dan lingkungan. ”Kalau selama di sekolah, ya tidak ada tanda-tanda yang mencurigakan dan sebagai-nya. Ya, seperti anak yang lain. Itu saja,” ujarnya.
Dari Balikpapan, Ketua Yayasan Psikologi Clarinta Balikpapan Dwita Salvery menyebut J perlu diperiksa secara psikologis mengingat perbuatannya yang sangat sadis. Kejadian tersebut bisa dipengaruhi banyak hal.
Yang paling utama dan nomor satu adalah pola asuh. ”Kita tidak tahu apakah anak ini sejak kecil mengalami kekerasan atau melihat kekera-san. Karena ini sudah pasti akan membentuk karakter anak yang kemudian jadi seper-ti itu,” ujarnya.
Meski anak itu bersekolah, lanjut dia, sisi akademik disebutnya sangat kecil berkontribusi membentuk pendidikan karakter. Apalagi kalau tidak berada di sekolah-sekolah khusus yang memang punya materi character building. ”Sebab, pembentukan karakter paling hebat itu pada golden age, usia emas 0-–12 tahun,” katanya. (*)
Sumber: JP Group
