
batampos – Kapal MV Sinar Bintan resmi menandai pelayaran perdana layanan direct call ke-5 dari Terminal Peti Kemas (TPK) Batu Ampar, Selasa (22/7).
Kapal milik Samudera Shipping Line itu menghubungkan Batam secara langsung ke Myanmar dan Malaysia tanpa perlu transit di Singapura.
Dengan kapasitas 1.500 TEUs, MV Sinar Bintan akan melayani rute rutin Batam – Singapura – Port Klang (Malaysia) – Yangon (Myanmar) dengan frekuensi pelayaran mingguan.
Ini adalah layanan direct call pertama dari Samudera Indonesia di Batam dan bagian dari strategi memperluas konektivitas regional langsung dari pulau industri ini.
Direktur Utama PT Persero Batam, Djoko Prasetyo, menyebut kehadiran direct call ini merupakan bagian penting dari transformasi Pelabuhan Batu Ampar sebagai simpul logistik internasional. Setelah sebelumnya melayani pelayaran ke China, layanan ini membuka jalur kuat ke kawasan ASEAN.
“Ini direct call kelima yang kami fasilitasi. Kali ini menyasar pelabuhan-pelabuhan penting di Asia Tenggara, khususnya Myanmar dan Malaysia,” kata Djoko.
Layanan direct call memungkinkan barang industri yang dikirim dari Batam langsung tiba di pelabuhan tujuan, tanpa harus singgah di Singapura seperti sebelumnya.
Hal ini membuat proses pengiriman lebih cepat dan biaya logistik turun hingga USD 600 per TEU, atau setara penghematan 57 persen.

“Selama ini kita tergantung pada pelabuhan Singapura untuk transshipment. Sekarang, Batam punya jalur langsung sendiri. Ini lompatan besar,” ujar Djoko.
Peluncuran direct call ini sekaligus menegaskan peningkatan kapasitas dan produktivitas Pelabuhan Batu Ampar.
Sejak diambil alih pengelolaannya oleh PT Persero Batam lewat perjanjian konsesi 37 tahun bersama BP Batam pada 2023 lalu, pelabuhan ini mengalami modernisasi signifikan.
Produktivitas bongkar muat yang sebelumnya hanya 8 boks per jam per kapal, kini melonjak jadi 40 boks per jam, atau meningkat 5 kali lipat. Waktu sandar kapal juga makin efisien, dengan rata-rata hanya 24 jam.
Djoko menyebut, permintaan akan layanan direct call terus meningkat dari kalangan pelaku industri di Batam, khususnya yang berada di kawasan industri Kabil.
“Industri di Kabil sangat antusias. Mereka butuh jalur cepat, dan sekarang kita bisa penuhi itu,” ujarnya.
Sejak awal 2024, sudah ada tiga layanan direct call yang lebih dulu beroperasi: SITC untuk China Services (Maret 2024), Evergreen untuk ASEAN Services (Agustus 2024), Evergreen untuk China Services (April 2025), dan SITC untuk India Service (Mei 2025). MV Sinar Bintan menjadi pelayaran ke-lima dalam jaringan itu.
PT Persero Batam menargetkan hingga akhir tahun ini akan ada 10 layanan direct call beroperasi dari Batu Ampar. Beberapa di antaranya sedang dalam tahap negosiasi, dengan rute menyasar pelabuhan-pelabuhan di China dan India.
“Agustus nanti kami akan tambah satu lagi. Targetnya ke India dan pelabuhan utama di China. Semakin luas jangkauan kita, semakin kuat posisi Batam sebagai hub logistik,” katanya.
Saat ini, kontribusi layanan direct call terhadap total volume kontainer di Batu Ampar sudah mencapai sekitar 20 persen.
Angka ini diperkirakan akan terus meningkat seiring rampungnya pembangunan infrastruktur pelabuhan tahap kedua pada Agustus 2025 mendatang.
“Kalau semua infrastruktur selesai, kapasitas kita bisa tembus 900.000 TEUs. Dengan konektivitas yang sudah kita bangun sekarang, investor dan pelaku industri akan lebih percaya diri ekspor dari Batam,” ujarnya. (*)
Reporter: Arjuna
