
batampos – Nilai tukar rupiah masih berada dalam tekanan pada awal Juni 2026. Mata uang Garuda tercatat melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) maupun dolar Singapura (SGD) di tengah ketidakpastian ekonomi global yang masih berlangsung.
Berdasarkan pantauan pada Selasa (2/6/2026), rupiah berada di kisaran Rp17.877 per dolar AS. Sementara terhadap dolar Singapura, rupiah diperdagangkan pada level Rp13.982 per SGD.
Posisi tersebut menempatkan rupiah di salah satu level terlemahnya dalam beberapa waktu terakhir setelah mengalami tekanan yang berlanjut sepanjang tahun 2026.
Berdasarkan kurs referensi Bank Indonesia pada Selasa (2/6/2026), nilai tukar dolar AS berada di kisaran Rp17.793,52. Sedangkan dolar Singapura berada di level Rp13.924,08.
Pelemahan rupiah dipengaruhi oleh sejumlah faktor eksternal, mulai dari menguatnya dolar AS hingga meningkatnya ketidakpastian global akibat konflik geopolitik dan tingginya harga energi dunia.
Kondisi tersebut mendorong investor global untuk mengalihkan dana ke aset yang dianggap lebih aman, termasuk dolar AS, sehingga memberikan tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Sepanjang 2026, Bank Indonesia juga terus berupaya menjaga stabilitas nilai tukar. Pada Mei lalu, bank sentral menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin sebagai langkah untuk meredam tekanan terhadap rupiah yang sempat menyentuh level terendah terhadap dolar AS.
Meski demikian, pergerakan kurs masih sangat dinamis dan dapat berubah sewaktu-waktu mengikuti kondisi pasar global maupun sentimen ekonomi domestik.
Masyarakat yang akan melakukan transaksi valuta asing perlu memperhatikan bahwa kurs di perbankan, money changer, maupun aplikasi transfer internasional dapat berbeda dengan kurs referensi karena dipengaruhi biaya transaksi dan kebijakan masing-masing penyedia layanan. (*)
Artikel Kurs Dolar AS dan Dolar Singapura Hari Ini 2 Juni 2026, Rupiah Masih Tertekan pertama kali tampil pada News.

