
batampos – Pemerintah Jepang tengah menata ulang strategi nasional di bidang kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dengan menyiapkan dukungan pendanaan jangka menengah bagi sektor swasta. Langkah ini menandai pergeseran kebijakan dari sekadar adopsi teknologi menuju pembangunan ekosistem AI yang dapat dikembangkan dan dioperasikan secara mandiri di dalam negeri.
Kementerian Ekonomi, Perdagangan, dan Industri Jepang (METI) berencana mengucurkan dana sekitar 1 triliun yen, atau setara Rp107,3 triliun, selama periode lima tahun. Dukungan tersebut ditujukan untuk membantu perusahaan swasta mengembangkan sistem AI domestik, termasuk penguatan infrastruktur komputasi dan pengelolaan basis data berskala besar.
Dilansir dari NHK World, Rabu (24/12/2025), pemerintah menargetkan skema pendanaan ini mulai berjalan pada tahun fiskal berikutnya yang dimulai April 2026. Kebijakan tersebut sejalan dengan agenda pemerintah pusat untuk memperluas investasi publik–swasta di sektor AI sebagai motor pertumbuhan ekonomi jangka panjang.
Rencana pendanaan ini juga tercantum dalam draf Rencana Dasar AI pertama Jepang, sebagaimana dilaporkan Fortune. Dokumen tersebut memuat arah kebijakan nasional dalam penggunaan dan pengembangan AI, sekaligus menegaskan ambisi Tokyo untuk mengambil peran lebih aktif di tengah persaingan teknologi global yang semakin ketat.
Dalam draf tersebut, pemerintah menekankan pentingnya kemampuan nasional untuk “mengembangkan dan mengoperasikan sistem kecerdasan buatan secara mandiri.” Pernyataan ini mencerminkan meningkatnya perhatian Jepang terhadap ketergantungan lintas negara dalam teknologi strategis, terutama ketika AI semakin berperan dalam ekonomi, industri, dan keamanan nasional.
Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, menegaskan bahwa AI kini menjadi bagian tak terpisahkan dari strategi negara.
“Kecerdasan buatan akan menjadi fondasi kekuatan nasional ke depan. Karena itu, kolaborasi erat antara sektor publik dan swasta menjadi keharusan,” ujarnya dalam pertemuan kebijakan teknologi pemerintah, dikutip dari Nippon.
Menurut laporan The Daily Star, dukungan pemerintah ini juga diarahkan untuk mempercepat pembentukan konsorsium baru yang dipimpin oleh SoftBank bersama lebih dari sepuluh perusahaan Jepang. Konsorsium tersebut ditujukan untuk mengembangkan model AI berskala besar yang dapat dimanfaatkan lintas sektor, mulai dari manufaktur hingga layanan digital.
METI saat ini tengah mempertimbangkan berbagai opsi pembiayaan, termasuk pengalokasian anggaran khusus dalam APBN 2026 serta kemungkinan penerbitan obligasi pemerintah. Selain pendanaan langsung, skema ini juga mencakup subsidi untuk pengumpulan data dan pembangunan infrastruktur komputasi berkapasitas tinggi—dua faktor yang selama ini menjadi hambatan utama dalam pengembangan AI domestik.
Namun, strategi AI nasional Jepang tidak hanya berfokus pada pengembangan model AI generatif. Pemerintah juga mendorong integrasi AI dengan sistem fisik seperti robotika dan otomatisasi industri, bidang yang selama ini menjadi keunggulan struktural Jepang dalam manufaktur dan rekayasa presisi.
Meski demikian, pemerintah mengakui tantangan yang dihadapi. Tingkat adopsi AI di Jepang masih relatif tertinggal dibandingkan sejumlah negara maju lainnya. Melalui pendanaan jangka menengah ini, Tokyo berharap dapat mempercepat terbentuknya ekosistem AI yang berkelanjutan sekaligus menempatkan Jepang sebagai salah satu aktor penting dalam arah baru teknologi global. (*)
Artikel Jepang Siapkan Dana Rp107 Triliun untuk Bangun Ekosistem AI Nasional pertama kali tampil pada News.








