batampos.co.id – Emil, Si Pembaca Acara mempersilakan Ir Benny Andrianto, Presdir ATB Batam untuk menyampaikan uraian di hadapan wartawan peserta gathering, Sabtu (23/2/2019).

Namun Benny memilih untuk berbicara di kursi, tidak berdiri di depan.

“Dari sini saja ya sebab pemaparan saya panjang,” ucap Benny memberi alasan.


Benny membuka dengan seloroh tentang ruang serba guna yang dimiliki ATB Batam di lantai gedung Adhya Bulding.

“Saya baru sekali ini masuk ruang ini setelah direnovasi, cocok untuk nonton bola bareng,” ujarnya.

Seloroh itu hanya ice breaking sebelum ia menguraikan masalah air.

Sejenak puluhan wartawan dan manajer yang hadir kala itu tersenyum lebar.

Meja di ruang itu ditata membentuk huruf U. Sisi panjang kiri kanan tempat reporter duduk. Di ujung U, Benny duduk menghadap dinding. Di dinding itu direkatkan 12 layar TV borderless sebagai sebuah kesatuan. Semua yang hadir melihat naskah uraian pria asal Yogyakarta itu, di sana.

Naskah tentang sebuah kengerian, horor.

“Saya memberi bekal kepada Anda sekalian sebelum mengunjungi Dam Tembesi sebab selama perjalanan Anda tidak akan melihat apa-apa kecuali kalau Anda bisa terbang.”

Gathering hari itu memang diagendakan mengunjungi intalasi Pengolahan Air (IPA) di Duriangkang dan dam Tembesi.

Dam Tembesi ialah dam baru yang dimiliki Batam untuk memenuhi kebutuhan air warganya. Perhitungan diatas kertas, dam tersebut mampu memroduksi air 600 liter per detik.

Benny memberikan data dam ini kalau dipergunakan akan bertahan sekira dua tahun saja!

Apa sebab? Ia memaparkan kondisi dam Tembesi melalui slide yang telah ia siapkan. Lengkap dengan beberapa foto dari beberapa sudut.

Benny berujar, “Gambar ini kami ambil dengan drone.”

Dam ini bermula di sekitar Bukit Daeng hingga bermuara Jembatan 1 Barelang. Di titik ini, BP Batam telah membendung sehingga tak tercampur air laut.

Di bagian hilir inilah lokasi Instalasi Pengolahan Air akan dibangun. Tidak ada masalah saat bagian hilir. Hamparan air sejauh mata memandang.

Benny pun tidak membahas bagian hilir, yang jadi perhatiannya ialah di bagian hulu.

Melalui foto yang ia miliki, ia merekam kondisi di sana.

Daerah tangkapan air tak lagi ada. Tangkapan air harusnya diisi oleh berbagai pohon besar sehingga akarnya mampu menyimpan air yang akan menjaga dam tetap memiliki air.

Kebun di sekitaran dam Tembesi.

Ada yang berubah jadi perumahan, ada yang berupa perkebunan sayur pun ada untuk usaha pembuatan batu bata. Tentu saja kebun sayur bukan tanaman yang cocok sebagai tangkapan air. Akarnya tak sanggup untuk menyimpan air hujan demi menjaga ketersediaan air dam. Apalagi properti yang tak memiliki akar, pun tambang pasir yang kerap diberitakan namun tak juga kelar.

Bagi petani di sana, Dam Tembesi ialah berkah. Wardi, 38, seorang petani di sana, mengatakan berbagai jenis tanaman mudah ditemukan di sana seperti, ubi, jagung, dan sayur lainnya.

Untuk menghidupi tanam tanaman itu, para petani mengandalkan perairan dari dam Tembesi yang berjarak hanya ratusan meter dari pemukiman.

“Dam ini tembus sampai ke sekitaran Jembatan Barelang. Dulunya air ini merupakan air laut, tapi sekarang sudah menjadi tawar,” ungkapnya, Rabu (27/2/2019).

“Jika tidak ada dam Tembesi ini, maka pertanian di sekitaran Sidomulyo tidak akan berjalan,” katanya sembari menyiram tanaman sayur.

Hal ini sesungguhnya telah disadari oleh Badan Pengusahaan (BP) Batam. Pada akhir 2018 mereka berencana akan menanam 10 ribu pohon gaharu di seluruh Batam.

Properti tak jauh dari dam Tembesi

BP Batam memilih pohon gaharu karena pohon jenis ini mampu menyimpan air. Sehingga, sangat cocok untuk menjaga ketersediaan air baku di Batam. Apalagi jika diletakkan di sekitar daerah tangkapan air (DTA) atau dam.

Kelak apabila di sana telah dihijaukan dengan pohon gaharu bisa saja para petani bisa memanfaatkan lahan di sana secara tumpang sari.

Dam Tembesi kerap disebut tatkala ada diskusi tentang layanan air. Utamanya untuk melayani daerah Tanjung Uncang dan sekitarnya.

Dam yang digadang mampu memroduksi air sebanyak 600 mililiter per detik ini memang berlokasi tak jauh dari Tanjunguncang, Batuaji dan sekitarnya.

Dam ini berada segaris dengan Jalan Trans Barelang. Ia berada di sisi kiri jalan apabila kita melintas dari simpang Barelang menuju jembatan 1.

Tentu saja saat kita melintas di sana dam ini tak nampak sebab jaraknya taklah persis di tepi jalan.

Dam ini disebut akan beroperasi pada 2017 lalu, tapi sampai kini pun lelang pengelolaannya pun belum dilakukan.

Pra Qualifikasi peserta lelang pun belum. Mulanga ada 33 perusahaan yang berminat lalu mengerucut menjadi 9 konsorsium. PQ dirancanakan akan diumumkan pada 18 Februari, mudur menjadi 25 Februari mundur lagi pada 4 Maret 2019. Saat berita ini diketik pun belum ketemu peserta yang lolos pra qualifikasi.

Salah satu peserta PQ itu ialah ATB Batam yang saat ini memegang hak untuk mengelola air di Pulau Batam.

Hilir dam Tembesi.
foto: batampos.co.id / dalil harahap

Bagi ATB mengelola dam Tembesi menjadi sebuah kewajiban untuk memenuhi pelayanan kepada semua pelangga, utamanya di Tanjung Uncang dan Batuaji sekitarnya.

Ada 94 ribu pelanggan di Batuaji. Pertumbuhan sambung baru di sana pun senantiasa melesat. Ada Pada tahun 2015 ada 70 ribu pelanggan di sana. Secara kasat mata Kita pun bisa melihat bagaimana pertumbuhan properti di sana. Padat. Ujungnya ATB pun mencatat peningkatan keluhan di sana.

Saat ini kawasan Batuaji dan Tanjung Uncang sekitarnya disuplai dari IPA Mukakuning dan Duriangkang. IPA Duriangkang melayani 36 ribu pelanggan sedangkan IPA Mukakuning melayani 57 ribu pelanggan.

Andai saya IPA Tembesi beroperasi maka masalah Batuaji dan Tanjung Uncang teratasi. Demikian skenario yang disiapkan oleh ATB Batam.

Yang menarik, sudah tahu kondisi dan dam Tembesi buruk, mengapa ATB Batam masih ikut tender?

“Kami ini berkepentingan untuk menyediakan air. Kami tidak memiliki pilihan, suka tidak suka kami harus ikut. Kami merasa punya komitmen moral untuk memberikan yang terbaik,” sahut Benny. (ptt)

Loading...