batampos.co.id – Sungai Jodoh adalah salah satu kawasan di Kota Batam, Provinsi Kepulauan Riau yang telah berkembang sejak dulu. Bahkan daerah tersebut sudah ramai sebelum Kota Batam menjadi daerah industri yang baru mulai dibangun sekitar tahun 1970 lalu.

Saat itu kawasan Jodoh ini sudah menjadi pusat kegiatan perekonomian masyarakat pesisir, termasuk di dalamnya kawasan Tanjunguma di Kecamatan Lubukbaja dan kawasan Tanjungsengkuang di Kecamatan Batuampar yang kita kenal saat ini.

Yanwar M Nor, warga Kampung Tua Tanjung Sengkuang yang ditemui batampos.co.id belum lama ini mengatakan, nama Jodoh tidak ada kaitannya sama sekali dengan jodoh dalam artian pertemuan untuk kemudian berakhir pada tali pernikahan.

Pria 66 tahun itu menjelaskan, kata “Jodoh” yang melekat pada nama Sungai Jodoh bersumber dari tragedi perkelahian antara dua orang sakti di masa itu.

Salah satu ruas jalan yang berada di Sungai Jodoh Kota Batam. Foto: Bobi/batampos.co.id

Sampai saat ini, tutur Yanwar, jejak tragedi tersebut masih bisa ditemukan dalam bentuk makam dua petarung sakti tersebut, satu makam berada di kawasan Masjid Baitusy Syakur, Jodoh dan satu makam lagi berada di kawasan pesisir daerah Melcem di Kecamatan Batu Ampar.

“Masing-masing makamnya di situ, kalau lokasi mereka berkelahi itu ada di sekitar kawasan hotel Allium, saya pernah lihat kawasan tersebut tidak ditumbuhi rumput karena sejarahnya panas,” kata Yanwar menjelaskan.

Cerita tentang sejarah perkelahian sendiri, diakui Yanwar, didapat dari kakak iparnya yang merupakan warga asli Tanjungsengkuang. Ia sendiri adalah perantau yang singgah di Tanjungsengkuang pada tahun 1979, kemudian menikah tepat dua tahun setelah berada di Tanjungsengkuang. Baca Juga: Makam Tua di Sungai Jodoh Kota Batam, Sering Didatangi Warga Malaysia dan Singapura

Melanjutkan sejarah yang ia dapat dari penuturan tersebut, Yanwar menjelaskan bahwa ‘Jodoh’ perkelahian tersebut bermula dari aktivitas salah satu orang hebat yang ada di kawasan yang kini disebut Sungai Jodoh.

Dulunya kawasan itu dikenal dengan nama Sungai Tering. Di lokasi tersebut, orang sakti yang diketahui berasal dari sebuah kerajaan di wilayah Riau Lingga ini menantang orang-orang untuk beradu kekuatan.

Warga yang merasa memiliki kekuatan akhirnya menyanggupi tantangan tersebut, namun kekuatan sang penantang belum bisa diimbangi sehingga tidak ada yang berhasil mengalahkannya. “Tidak tahu pula siapa namanya, tapi dia memang sakti tak ada yang menang,” jelas Yanwar lagi.

Pasar seken yang berada di kawasan Jodoh, Kota Batam. Foto: dokumentasi batampos.co.id

Aktivitas yang terus berlanjut ini, akhirnya sampai di telinga Pandak, salah satu warga yang tinggal di wilayah pesisir di Tanjung Sengkuang. Pandak yang memang memiliki ilmu yang juga sakti tersebut, akhirnya berjalan kaki menyusuri kawasan Tanjung Sengkuang hingga sampai ke lokasi perkelahian tersebut.

Awalnya ia hanya menonton pertunjukan bela diri itu, namun sang penantang yang berhasil mengalahkan semua pendekar di daerah tersebut kembali mencabar, apakah tidak ada lagi pendekar di daerah Sungai Tering tersebut.

Kata-kata yang menantang itu, akhirnya membuat Pandak terpancing dan terlibat perkelahian hebat hari itu. Mereka bertarung hingga sore hari dan berakhir dengan keduanya sama-sama terluka.

“Orang memanggilnya Cik Pandak, ‘berjodoh’ mereka di sana dan dua-duanya meninggal,” tutur Yanwar. Setelah kejadian itu, Yanwar menjelaskan bahwa kawasan tersebut kemudian berganti nama dari Sungai Tering menjadi Sungai Jodoh. Sungai yang menjadi saksi akan jodoh pertarungan dua orang sakti.

Terkait dengan nama Sungai Tering sendiri, Yanwar menjelaskan bahwa sungai ini masih ada kaitan erat dengan kawasan Teluk Tering yang terhampar di kawasan Batam Centre dan Bengkong. Kalau di Bengkong menjadi hulu sungai, Batam Centre merupakan bagian teluknya, di Sungai Jodoh ini merupakan bagian hilir sungai Tering.(bbi)