batampos.co.id – Setiap malam 27 pada bulan Ramadan, masyarakat Melayu di kampung-kampung di pesisir Batam menggelar kenduri. Kenduri ini setiap tahun dilakukan sejak mulai setelah salat taraweh hingga tengah malam.
Kenduri yang dilakukan, berkaitan dengan momen malam Lailatul Qadar yang diyakini masyarakat jatuh pada momen tanggal ganjil di sepuluh hari terakhir, khususnya pada 27 Ramadan.
Egoi, Imam Masjid Nurul Huda, di Kampung Monggak menuturkan, kegiatan kenduri di malam 27 Ramadan ini merupakan kegiatan yang telah dilakukan sejak lama. Sejak generasi orangtua mereka dulu, kenduri ini telah dilakukan.

Kenduri ini, lanjut Egoi, merupakan bagian dari upaya masyarakat menyambut malam Lailatul Qadar. Memanjatkan do’a dan berharap kebaikan dari hadirnya malam yang lebih baik dari seribu bulan tersebut, meskipun memang tidak ada kepastian kapan turunnya malam Lailatul Qadar itu sendiri. Baca Juga: Pelita, Isyarat Mengundang Lailatul Qadar oleh Masyarakat Pesisir Kota Batam
“Tiap tahun kita memang adakan kenduri, memang sudah turun temurun dari dulu,” kata Egoi kepada batampos.co.id, Jumat (31/5/2019).
Egoi melanjutkan, kenduri yang dilakukan di rumah-rumah warga ini juga sebagai bentuk syukur karena bisa menjalani momen bulan puasa.
Kenduri ini juga dijadikan bagian dari usaha untuk mendoakan kerabat dan orang-orang yang telah mendahului mereka.
Pada prosesnya, warga berbondong-bondong berkeliling dari satu rumah ke rumah warga lain untuk kenduri.
Mereka mulai bergerak dari mulai selesai solat taraweh hingga tengah malam, hingga semua rumah yang mengadakan kenduri di sambangi.
Kenduri ini, lanjut Egoi, memberikan kesan lain yang sejatinya menghadirkan keakraban di tengah masyarakat. Dimana kenduri ini menjadi salah satu momen saling bertemunya masyarakat.(bbi)
