batampos.co.id – Sesnita, 44, korban pembacokan yang terjadi pada Senin (10/6) malam sekitar pukul 22.00 WIB, saat ini tengah menjalani perawatan di Rumah Sakit Graha Hermine, Batu Aji. Ibu dua anak itu dirawat di ruang Lavender 2 yang terletak di lantai dua rumah sakit dan ditemani anak perempuannya.

Sesnita diketahui sudah dua hari berada di rumah sakit tersebut. Sesnita sempat terkejut dengan kehadiran batampos.co.id yang muncul dari balik tirai hijau yang membatasi tempat tidurnya dengan pasien lain. Namun tidak lama kemudian Sesnita membalasnya dengan senyuman.

Kepada batampos.co.id, ibu empat anak itu mengaku masih merasakan sakit di sekujur tubuhnya. Terutama di bagian kepala dan pinggang kirinya yang mengalami luka robek akibat sabetan parang dari BR alias Kancil, pelaku pembacokan yang menjadi petaka buatnya.

Sesnita korban pembacokan di rumahnya saat mendapatkan perawatan di rumah sakit Graha Hermine, Batuaji, Kota Batam. Foto: Bobi/batampos.co.id

“Ini (tangan) masih bengkak, kepala, pinggang masih sakit semua,” tuturnya sambil mengarahkan pandangan pada perban yang membalut luka-lukanya.

Mengingat kejadian naas malam itu, Sesnita mengaku bersyukur masih bisa selamat dari serangan pelaku. Dia juga tidak menyangka dua anak perempuannyalah yang menjadi penyelamat dirinya.

Keduanya itu adalah Ayu Wibowo, 17, dan Wulandari, 14. Keduanya berjibaku dengan segala kemampuan mereka menghalau BR di tengah gelap malam, tanpa tahu dan memikirkan bahaya yang dihadapi. Baca Juga: Seorang Wanita Dianiaya dan Dibacok Dengan Parang

BR sendiri, kata Sesnita, memang sering terlihat melintas di sekitar rumahnya pada malam hari. “Dia tinggal di tempat pak Gopal (salah satu warga yang tinggal di sekitar 500 meter dari kediaman Sesnita), kadang nampak die lewat aja,” kata Sesnita dengan dialek melayu.

Saat malam naas itu, genset yang menerangi rumah Sesnita tidak menyala, sehingga tidak banyak orang yang berbelanja ke warungnya. Dalam kondisi yang hanya diterangi lampu pelita, perempuan 44 tahun yang sudah bersiap untuk tidur.

Namun dirinya teringat jika masih ada pakaian yang dijemurnya belum dimasukkan ke dalam rumah. Tanpa ragu, Sesnita langsung menuju bagian belakang rumahnya sekitar pukul 22.00 WIB.

Sesaat sebelum BR melakukan penganiayaan terhadapnya, dia mengaku telah menyadari ada orang yang mendekatinya. Tetapi karena kondisi gelap, Sesnita baru mengetahui orang itu adalah BR, saat pelaku hendak menyerangnya.

“Dia bawa parang ternyata, saya tidak tahu karena memang gelap waktu itu,” ceritanya. Sesnita mengaku tidak bisa menghindar karena langsung diserang bertubi-tubi. Akibat serangan tersebut, ia tersungkur bersimbah darah dengan luka sobek di kepala, tangan, dan pinggangnya.

Dalam kondisi yang sudah terluka itu, Sasnita masih sempat meminta bantuan kepada anak-anaknya. Untungnya, kedua putrinya mendengar teriakan sang ibu dan langsung memberikan perlawan kepada BR. Sesnita yang sudah tidak berdaya, hanya bisa menyaksikan kedua anaknya bergulat melawan penjahat tersebut.

“Untungnya Ayu bisa merampas parang dari dia (BR), sempat digigit tangan Ayu sampai biru tangannya. Ditinju Ayu sekali kepala dia (BR), Wulan juga bantu kakaknya,” katanya.

Setelah parang berhasil direbut kedua anaknya, pelaku langsung kabur. “Aku pikir dia masih ada di hutan di sekitar sana,” jelasnya lagi. Di akhir obrolan, Sesnita mengaku masih takut untuk kembali ke rumahnya jika pelaku belum tertangkap. Ia berharap polisi segera bisa menangkap BR yang hampir membunuhnya itu.

Anak Sesnita Mengira Ibunya Melihat Ular

Di bagian Lobby rumah sakit, Ayu duduk berbincang dengan kawan-kawannya yang sengaja datang mencari kabar soal kondisi ibunya. Ia nampak lebih banyak diam namun tetap bisa diajak berbincang. Sesekali senyum tipis tersungging di bibirnya mengimbangi tawa beberapa kawannya yang hadir di sana.

Malam ketika kejadian itu, Ayu mengaku sudah berada di tempat tidurnya, namun belum terlelap. “Biasa memang jam segitu belum tidur, karena lampu mati jadinya sudah di kamar,” kata Ayu menjawab pertanyaan batampos.co.id.

Mendengar teriakan ibunya, Ayu langsung keluar. Ia mengira ibunya ketakutan karena ada ular. Sampai di lokasi tersebut, Ayu mengaku melihat ibunya sudah dalam posisi terduduk. Sementara di depan ibunya, ia melihat ada sosok hitam yang ternyata adalah BR.

Tanpa berfikir panjang, Ayu langsung menghampiri sosok hitam yang tengah berdiri di depan ibunya itu. Ia sempat mengambil sesuatu yang ternyata parang untuk menghalau BR.

BR yang mengetahui Ayu memegang parang, langsung mengalihkan perhatian kepadanya dan berusaha merebut parang dari tangan anak Sesnita tersebut.

Kapolsek Galang, AKP Heri Sujati, saat berada di rumah korban pembacokan, Sesnita di Rempang Cate, Kota Batam. Foto: Heri untuk batampos.co.id

Saat itu kata Ayu, sempat terjadi tarik menarik senjata tajam antara dirinya dengan BR. Ayu yang memegang bagian hulu parang untungnya menjadi pemenang, walaupun tangannya bengkak karena digigit oleh BR.

“Saya kira kayu, kan memang gelap waktu itu. Saya tak mau lepas, jadi dia (BR) tarik, setelah lepas dia lari,” kata Ayu.

Setelah itu, Ayu dan Wulan langsung menghampiri ibunya yang sudah bersimbah darah. Saking banyaknya mengeluarkan darah, baju Ayu dan Wulan ikut basah saat membopong ibunya ke bagian depan rumah mereka.

Sebelum dilarikan ke rumah sakit, Ayu sempat mengira ibunya terkencing akibat penganiayaan tersebut, ternyata itu adalah aliran darah dari luka sobek di bagian pinggang yang yang diderita ibunya.

Beberapa saat kemudian, sejumlah warga datang untuk membantu ibunya. Warga mengetahui kejadian itu setelah Ayu mencoba menghubungi orang terdekat yang dikenalnya.

Malam itu, ia ikut bersama ibunya ke rumah sakit. Pihak kepolisian pun turut serta membantu dan langsung mengambil tindakan untuk mencari keberadaan pelaku.

Saat ini, lanjut Ayu, Wulan dan adik laki-lakinya terpaksa menginap di rumah warga di kampung Pantai Kalat, kampung yang tidak jauh dari kediaman mereka.

Sementara dirinya masih akan berada di rumah sakit untuk menemani ibunya yang tengah menjalani perawatan.

Siswi SMA kelas XI yang bersekolah di SMAN 10 Batam ini terlihat tetap tenang. Ia memang tidak banyak bicara, namun pembawaannya tetap santai. Sesekali ia terlihat memainkan mata kalung berwarna merah jambu yang melilit di lehernya.(bbi)