batampos.co.id – Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) tingkat SMP telah usai. Namun persoalan daya tampung masih menjadi polemik bagi pihak sekolah.

Pihak sekolah dilema. Sebab komitmen untuk menjalankan mutu sekolah sesuai daya tampung ideal harus di kesampingkan. Pasalnya akan ada penambahan siswa setelah Wali Kota Batam, Muhammad Rudi, mengeluarkan kebijakan baru.

Yaitu seluruh calon siswa yang berada di sekitar lingkungan sekolah, harus diakomodir. Akibatnya pihak sekolah tidak bisa menerapkan jumlah siswa per kelas dan jadwal belajar ideal tidak bisa diterapkan.

Orangtua dan anaknya mengantri saat mendaftarkan anaknya sekolah di SMPN 3 Seiharapan, Sekupang, beberapa waktu lalu. Foto: Dalil Harahap/batampos.co.id

Pasalnya ada sekolah yang menambah jumlah siswa perkelas dari 36 menjadi 40-an ke atas. Begitu juga sekolah yang ruangan kelas terbatas harus menerapkan sistem belajar double shift agar semua siswa dari lingkungan sekolah tertampung.

Baca Juga: PPDB SMA Tunggu Juknis Disdik Pemprov Kepri

SMPN 27 Batam Sagulung misalnya. Sepanjang Jumat (14/6/2019) pihak sekolah harus menampung sekitar 300-an data siswa yang tidak lolos pada PPDB online beberapa waktu.

Jika semuanya harus diterima, sekolah ini bukan saja menambah jumlah siswa perlokal tapi harus menerapkan belajar double shift. Sebab akan ada penambahan jumlah rombel.

“Siasatnya bisa penambahan jumlah siswa perkelas atau penambahan rombel. Tapi itu belum bisa kita pastikan karena tugas kami sementara mendata dulu berapa calon siswa yang mau masuk lagi. Keputusan nanti tetap di Disdik dan pak Wali,” ujar Kepala SMPN 27 Borbor Pasaribu.

Situasi yang sama juga terjadi di SMPN 47 Batam di Marina. Puluhan orangtua calon siswa yang berdomisili di sekitar lokasi sekolah, mendatangi lingkungan sekolah untuk mendaftarkan kembali anak mereka.

Baca Juga: Ini Perbandingan Kuota Siswa dan Pendaftar PPDB SMP Negeri di Kota Batam

“Keputusan tetap di dinas (Dinas Pendidikan-red). Kita cuma mendata sesuai arahan saja,” ujar seorang panitia PPDB SMPN 47 yang tak mau menyebutkan namanya, kemarin.

Sementara orangtua calon siswa mengaku tidak punya pilihan. Meski mereka tahu upaya memasukan anak mereka di sekolah negeri terkesan dipaksakan.

Mereka menilai, sekolah negeri harapan terbaik. Karena biaya pendidikannnya relatif lebih murah dibandingkan sekolah swasta.

“Alasan cuma itu saja (biaya murah-red). Tak sanggup sekolahkan anak ke sekolah swasta,” ujar Harun salah seorang orangtua calon siswa.

Selain itu, Harun menyebutkan tempat tinggal mereka berada tidak jauh dari sekolah negeri di kawasan Seipelenggut, Sagulung.(eja)