Di atas segalanya, manajemen adalah pertemuan seni, sains, dan kerajinan.
(Prof. Henry Mitzberg, OC, OQ, Ph.D, Dhc, FRSC. Akademisi, Penulis Buku, Profesor Studi Manajemen di McGill University)

Waktu disodori tawaran untuk berbagi melalui kolom pikiran, saya sempat berpikir panjang. Beberapa pertimbangan mulai berseliweran.

Apa yang harus saya bagikan? Bagaimana cara saya mengatur waktu untuk menulis? Apa nama kolom pikirannya?

Namun setelah mempertimbangkan banyak hal, akhirnya saya putuskan untuk menulis. Seminggu sekali saya rasa cukup.

Saya ingin menulis pengalaman saya saja. Tapi harus dipandang dari sudut pandang manajemen.

Tapi banyak juga yang bertanya, kok materi tulisannya soal manajemen? Padahal ilmu manajemen bisa dibilang tak populer. Bahkan dulu ilmu manajemen masuk dalam jajaran ‘Kasta Sudra’. Tak elite.

Kalau ada yang mau masuk sekolah, jarang yang berminat masuk ke dalam jurusan manajemen. Jurusan ini dipilih hanya ketika sudah tidak ada pilihan. Bahkan dulu ada anggapan, lulusan sekolah manajemen tak punya masa depan. Itu dulu.

Namun dalam perjalanannya saya membuktikan, kunci kesuksesan ternyata ada di ilmu ‘Kasta Sudra’ itu. Tanpa manajemen yang baik, ilmu apapun yang saya miliki tak akan mengantarkan kepada keberhasilan. Tanpa manajemen saya mungkin bisa bertahan, namun sangat sulit untuk maju pesat.

Apa hebatnya sih ilmu manajemen?

Saya kasih tahu. Hanya dengan kemampuan manajemen, kita mampu mengoptimalkan sumberdaya yang dimiliki untuk mencapai tujuan dengan cepat. Ilmu lain tak mengajarkan hal tersebut. Dengan manajemen kita baru bisa meningkatkan efisiensi dan efektivitas.
Sehingga tujuan yang akan dicapai bisa diraih dalam waktu yang relatif lebih singkat, dengan energi seminimal mungkin.

Saya sudah buktikan di ATB. Dengan cadangan air baku yang sangat terbatas, ATB masih mampu memenuhi kebutuhan air bersih untuk seluruh Batam hingga hari ini. Berkat pengelolaan manajemen yang profesional, dipadukan dengan inovasi teknologi, kami mampu mengefisiensi banyak hal dalam proses produksi dan proses bisnis. Salah satunya efisiensi kebocoran hingga 16,7 persen pertahun. Ini merupakan kebocoran air terkecil di Indonesia.

Pencapaian ini tak mampu diraih perusahaan lain. Baik yang berstatus PDAM maupun swasta. Ketua Badan Peningkatan Penyelenggaraan Sistem Penyediaan Air Minum (BPPSPAM) Bambang Sudiatmo sempat curhat soal sulitnya menekan angka kehilangan air di Indonesia.

Dalam pertemuan pers Februari lalu, Pak Bambang bilang target kehilangan air nasional harus berada di level 20 persen. Tapi nyatanya, sekarang tingkat kehilangan air Nasional masih 33,16 persen. Malah naik dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Tapi ATB sudah mampu melebihi target BPPSPAM. Berkat manajemen yang profesional pula ATB mampu berjalan dengan performa baik walaupun hampir 10 tahun tak ada kenaikan tarif. Sementara banyak perusahaan lain yang terus mengaku rugi, padahal selalu naik tarif.

Kalau dipikir-pikir ini pencapaian yang mengejutkan. Apa sih yang gak naik dalam 10 tahun terakhir? Catatan Bank Indonesia, akumulasi inflasi Kepri sejak tahun 2010 sampai akhir tahun 2018 sudah mencapai 44,48 persen.

Dengan kenaikan inflasi naik setinggi itu, sudah pasti harga-harga barang juga ikut terdongkrak. ATB yang tinggal di dunia yang sama, di negara yang sama, pasti akan merasakan dampak yang sama. Komponen yang mendukung produksi ATB juga naik harga.

Mari kita lihat satu persatu. Tarif listrik dan BBM sudah berkali-kali naik sejak 2010 sampai tahun ini. Dari kompas.com diketahui, tahun 2010 harga Premium masih Rp 4.500/liter. Tahun 2019 sudah mencapai Rp 6.600/liter. Kenaikannya sudah 46.67 persen.

Komponen gaji karyawan mengalami kenaikan paling tinggi. Berdasarkan data Dinas Tenaga Kerja Kota Batam, Upah Minimum Kota (UMK) Batam tahun 2010 masih di angka Rp 1.110.000. Namun di tahun 2019, UMK Batam sudah mencapai Rp 3.806.358. Dalam waktu 9 tahun, UMK naik 243 persen.

Kenaikan UMK pasti berdampak kepada ATB. Perusahaan ini punya sedikitnya 700 karyawan. Setiap ada kenaikan UMK, ATB turut menyesuaikan gaji karyawannya. Bahkan ATB memberikan upah di atas standar minimal yang ditetapkan.

Kenaikan kurs mata uang asing juga berdampak. Pembelian sejumlah bahan kimia, seperti klorin untuk proses klorinasi (membunuh kuman dan bakteri pada air) harus dilakukan dengan mata uang asing.

Sejak tahun 2010, kurs dolar Amerika terhadap rupiah sudah mengalami kenaikan hingga 53,22 persen (Sumber: kursdollar.net). Tentu akan membawa dampak terhadap biaya yang dikeluarkan untuk pembelian klorin.

Dengan kenaikan komponen-komponen itu saja, wajar bila ATB menyesuaikan tarifnya. Namun itu tak pernah terjadi. Pelanggan masih bisa menikmati air bersih dengan tarif yang relatif sangat murah.

Ketika dihantam badai yang sama, ATB malah makin moncer. Tak malah jatuh terjengkang. Kata kuncinya, manajemen pengelolaan yang profesional menciptakan efektivitas dan efisiensi. Secara teoritis, ketika perusahaan semakin efisien, kebutuhan untuk kenaikan tarif bukan lagi menjadi hal utama.

Dengan kata lain, kebutuhan akan kenaikan tarif menunjukkan ada potensi perusahaan tersebut belum efisien. Lalu mengapa perusahaan lain mengaku rugi padahal tarifnya sudah mahal dan terus naik?

Mari kita pikirkan. Salam Kopi Benny. (*)