batampos.co.id – Kesatuan Pengelolaan Hutan Lindung (KPHL) Unit 2 Kota Batam mendata ada sekitar 40 titik hutan lindung yang rusak.

Tidak hanya itu, lahan hutan lindung di Kota Batam, bahkan sudah dijual dalam bentuk kaveling kepada masyarakat.

Kepala KPHL Unit 2 Batam, Lamhot Sinaga, yang turun ke lokasi bersama personel Direktorat Pengaman (Ditpam) BP Batam dan kepolisian, pegawi kecamatan dan kelurahan, langsung menyita batrai alat berat yang sedang melakukan pemerataan lahan hutan lindung.

“Ini harus kami amankan agar aktivitas pengerukan lahan hutan lindung ini terhenti,” katanya kepada Batam Pos, Selasa (16/7/2019).

Kata dia, pihaknya tidak dapat menyita alat berat karena keterbatasan alat angkut.

“Nanti kami minta pihak yang mengaku memiliki perizinan untuk mengelola kawasan hutan lindung Sei Hulu Lanjai, Sambau, Nongsa, untuk datang ke kantor KPHL mengambil kembali baterainya serta akan kami mintai keterangan,” ujar Lamhot.

Baca Juga: Hutan Lindung di Kota Batam Dijual Rp 43 Juta per Kaveling

Sayangnya saat pihaknya melakukan patroli, di kawasan tersekbut hanya ada para pekerja.

Sedangkan pengelola atau orang yang mengaku sebagai pemilik lahan tidak ada di tempat.

Tim gabungan dari Kesatuan Pengelolaan Hutan Lindung, kepolisian, Ditpam BP Batam, pegawai kecamatan dan kelurahan, menyita baterai alat berat yang melakukan pemerataan di kawasan hutan lindung Sei Hulu Lanjai, Sambau, Nongsa. Foto: Galih/batampos.co.id

“Untuk hari ini (kemarin) kami fokus di dua titik saja, tim pertama turun di kawasan Nongsa,” jelasnya.

“Sedangkan tim kedua turun di kawasan Tembesi. Kami tidak merazia serentak, arena jumlah personel sangat terbatas,” katanya lagi.

Tapi kata dia, pihaknya secara bertahap akan melakukan patroli di semua titik hutan lindung yang rusak.

Lamhot mengakui, jika kawasan hutan lindung di Kota Batam dijadikan kaveling untuk diperjualbelikan oleh orang yang tidak bertanggungjawab

“Sebanyak 40 titik hutan lindung yang saat ini banyak dibabat dan diperjualbelikan ke masyarakat dalam bentuk kaveling,” jelasnya.

“Rinciannya di Nongsa ada sampai 20 titik, begitu juga di Mangsang, Piayu hingga ke Punggur Teluklengung, yang sifatnya semua pengerjaan itu ilegal,” ujarnya lagi.

Terkait kawasan hutan lindung yang juga dibabat habis dan diperjualbelikan dalam bentuk kaveling di Patam Lestari, tidak jauh dari kantor KPHL Unit 2 Batam, Lamhot mengaku baru mendapatkan kabar itu.

“Saya baru dengar kalau di Patam Lestari juga ada lahan hutan lindung yang dikaveling-kaveling dan dijual ke masyarakat,” paparnya.

“Nanti kami akan telusuri, tunggu tanggal mainnya, semua sebanyak 40 titik hutan lindung yang dijarah dan diperjualbelikan dalam bentuk kaveling akan kami datangi satu per satu secara bertahap,” paparnya.

Salah satu hutan lindung yang sudah rata dengan tanah dan berdiri beberapa bangunan. Foto: Galih/batampos.co.id

Sayangnya saat patroli, tidak semua kawasan hutan lindung dirazia oleh tim KPHL.

Padahal ada kawasan yanng sempat dilintasi seperti di Kaveling Indah Nongsa IV yang sudah terlanjur dibabat habis.

Bahkan di kawasan tersebut sudah berdiri puluhan bangunan permanen seperti kios maupun rumah.

“Kami sengaja lewati saja, karena kalau mendadak kami razia, nanti akan ribut masyarakat yang sudah terlanjur tinggal di kawasan tersebut,” jelasnya.

Kata dia, kawasan tersebut sudah terlanjut banyak dihuni masyarakat.

Karena itu, pihaknya memprioritaskan adalah kawasan hutan yang belum ada terbangun pemukiman permanen oleh warga.

“Namun kami tetap akan razia dan patroli mereka yang sudah ada bangunannya,” terangnya.

Personel tim gabungan tersebut turun di kawasan Batubesar hingga Sambau Nongsa.

Hasilnya dari patroli didapati di Sambau, tepatnya di kawasan Hutan Sei Hulu Lanjai, hutan lindung yang semula dipenuhi pepohonan berubah drastis.

Kawasan hutan lindung seluas 52 hektare tersebut, kini rata dengan tanah.

Padahal sebelumnya area tersebut terdapat tanaman bakau, kini sudah tertutupi atau tertimbun menjadi daratan tanah merah.

Begitu juga dengan bukitnya yang semula dulunya tampak rindang dengan banyaknya pepohonan, saat ini tampak gundul.

Saat ini yang ada hanya tanah yang sudah digarap dan dipetak-petak untuk diperjualbelikan ke masyarakat dalam bentuk kaveling dengan ukuran sekitar 6 x10.

Lahan tersebut dijual dengan harga belasan juta rupiah.(gas)

Loading...