Kegagalan adalah kesempatan untuk memulai lagi. Tapi harus lebih pintar.” : Henry Ford, Pendiri Ford Motor Company

Percaya atau tidak, saya pernah merasa tak pede saat akan bicara di salah satu forum internasional. Padahal saya sudah sering jadi pembicara di event-event Internasional. Tapi kali itu saya benar-benar tak pede. Berkali-kali saya tarik nafas dalam.

Tahu kenapa?

Waktu itu saya diminta untuk menjadi panelis mewakili perusahaan air bersih se-Indonesia di Singapore International Water Week. Temanya mengenai tantangan pengelolaan air bersih di Indonesia. Tak hanya diminta memaparkan tantangannya, saya juga diharapkan bisa menyampaikan solusi menghadapi tantangan tersebut.

Saya sempat bingung. Topik apa yang tepat untuk diangkat, ya? Soalnya rekam jejak pengelolaan air bersih di Indonesia masih jauh panggang daripada api. Masih terlalu banyak masalah. Kalau tadinya saya mewakili ATB, akan lain ceritanya.

Sudah kebayang kan kenapa saya deg-degan setengah mati?

Saya harus bicara di forum Internasional mewakili Indonesia, namun saya kesulitan mengelola materi positif yang harus disampaikan. Saya bawa nama negara lho ini. Saya juga tak mau citra negara kita buruk kalau saya salah bicara.

Akhirnya saya mengambil best practice untuk mewakili PDAM lain di Indonesia, disertai keberhasilan ATB tentunya.

Jujur saja, saya memang sedikit khawatir dengan kondisi manajemen pelayanan air bersih di Indonesia. Badan Peningkatan Penyelenggaraan Sistem Penyediaan Air Minum (BPPSPAM) juga merasakan hal yang sama. Lembaga ini menilai manajemen pelayanan air bersih di Indonesia belum maksimal.

Dari hasil penilaian kinerja PDAM yang dilakukan BPPSPAM tahun 2018 terhadap 374 PDAM, baru sekitar 57 persen atau 223 perusahaan berkinerja sehat. Sisanya 25 persen kurang sehat, 13 persen sakit dan 17 PDAM atau 5 persen belum dinilai kinerjanya.

Salah satu aspek yang sangat memengaruhi adalah tingkat kebocoran air. BPPSPAM merilis, tingkat kebocoran PDAM di seluruh Indonesia pada tahun 2018 rata-rata sebesar 33,16 persen. Padahal tahun 2015, angka kebocoran adalah 32,47 persen. Peningkatan terus terjadi pada 2017 hingga mencapai 32,80 persen.

Celakanya, persentase kebocoran air ini tak kunjung beres. Malah cenderung naik beberapa tahun belakangan. Seolah-olah ini adalah masalah yang tak ada jalan keluarnya. Bahkan perusahaan air yang sudah beroperasi selama 23 tahun masih bergelut dengan masalah yang sama.

Tak hanya perusahaan air saja yang mengalami kebocoran. Jika perusahaan air mengalami kebocoran dalam pendistribusian air, perusahaan di bidang usaha lain bisa mengalami kebocoran dalam manifestasi lain.

Dan kebocoran itu seperti itu seperti kerikil yang sering bikin orang tergelincir dan jatuh tertelungkup. Kesannya ini masalah sepele. Tapi justru bisa jadi ancaman serius. Karena keberhasilan sebuah perusahaan justru diukur dari tingkat kebocorannya.

Semakin sukses sebuah perusahaan, bisa dipastikan tingkat kebocoran yang terjadi di perusahaan tersebut juga sangat kecil.

Kami pernah mengalami hal yang sama. Susah payah ATB menekan angka kebocoran. Tapi apa kami kehilangan akal? Ya pastinya tidak. Buktinya sekarang angka kebocoran ATB sudah di angka 16 persen. Dan itu yang terendah loh di Indonesia, jauh di bawah angka kebocoran air PDAM se-Indonesia: 33,16 persen!

Tapi target kami harus turun sampai angka 15 persen.

Untuk sampai ke pencapaian itu tak seperti makan cabai. Begitu digigit langsung terasa pedasnya. Butuh proses panjang dan kerja keras. Satu percobaan gagal, analisa dan lanjut ke percobaan lain. Gagal lagi, coba lagi. Begitu terus.

Tapi berapa kali ATB harus gagal? Jangan unlimited, dong. Bisa tumbang duluan kalau terus-terusan gagal.

Mungkin pepatah “Kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda” ada benarnya. Tapi itu belum lengkap. Harusnya, kegagalan juga harus terukur. Berapa kali kita harus gagal sebelum berhasil. Jangan gagal melulu.

Apa mungkin kita membatasi berapa kali harus gagal? Sangat mungkin. Dengan manajemen, kegagalan bisa diatasi dan dibatasi.

Bagaimana caranya?

Jurusnya cukup sederhana. Tapi jarang diimplementasikan. Yang dibutuhkan adalah komitmen terhadap akuntabilitas dan transparansi. Komitmen ini pertama-tama harus datang dari pimpinan perusahaan.

Jika pimpinan memberikan komitmen yang jelas, bahwa tata kelola yang dilakukan pada perusahaan tersebut harus akuntabel dan sangat transparan, maka angka kebocoran bisa ditekan dengan mudah.

Setelah komitmen itu benar-benar diimplementasikan, barulah Anda mampu menganalisis faktor-faktor yang penyebab kegagalan secara objektif. Begitu tahu sumber masalahnya, Anda akan tahu bagaimana menentukan langkah selanjutnya dengan cara yang lebih cerdas. Merumuskan penyelesaiannya butuh komitmen dan inovasi.

Jika disiplin mengumpulkan data dari setiap kegagalan, menganalisanya dengan baik, maka semakin dekat Anda dengan format manajemen pengelolaan yang paling ideal bagi perusahaan Anda.

Kini ATB sudah menemukan manajemen pengelolaan kebocoran yang sesuai. Sehingga menekan angka kebocoran sudah bukan lagi jadi hal yang mustahil. Bahkan ketika faktor-faktor eksternal yang tak dapat diduga terus menerus mengganggu.

Anda harus tahu, dalam sebulan ATB menghadapi sedikitnya 400 sampai 500 titik kebocoran. Dan 70 persen di antaranya terjadi bukan karena kesalahan pipa, atau kesalahan ATB. Tapi disebabkan pihak ketiga. Digaruk eskavator saat pembangunan jalan, misalnya. Tapi walaupun demikian, ATB masih mampu menjaga kehilangan air di angka 16 persen.

Di sisi lain, masih banyak perusahaan masih berkutat pada masalah kebocoran. Baik kebocoran air, atau kebocoran dalam manifestasi lain. Kebocoran anggaran misalnya. Atau kebocoran apa saja.

Kalau ATB berhasil menekan angka kebocoran, lalu mengapa perusahaan lain belum berhasil? Tidak tahu akar permasalahan atau tidak mau menekan kebocoran?

Mari kita pikirkan. Salam Kopi Benny. ***

oleh: Ir Benny Andrianto, MM
Presiden Direktur PT ATB