Inovasi adalah kemampuan untuk melihat perubahan sebagai sebuah peluang – bukan ancaman.
Steve Jobs, Pendiri Apple.

Disrupsi jadi gelombang paling besar yang menghantam dunia usaha saat ini. Bagaikan tsunami, dia datang dengan kekuatan yang dahsyat. Tak bisa dihindari. Hampir semua lini bisnis merasakan kuatnya terpaan disrupsi.

Dia tak datang serta merta. Ada tanda-tandanya. Ada yang bisa membaca. Ada yang tidak.

Yang bisa membaca, sudah mempersiapkan diri. Saat gelombang datang, mereka tetap kena goncangan. Tapi paling tidak, dampaknya tak besar. Mereka sudah siap mengantisipasi.

Yang persiapannya lebih matang tak lagi merasa terancam. Malah jadi peluang memecahkan rekor baru.

Bagaimana nasib yang tak siap?

Ada yang gulung tikar. Ada yang nafasnya tinggal satu dua. Berjuang tetap bisa bertahan. Semput kalau kata orang Melayu. Susah payah mencari jalan keluar agar mampu bertahan.
Tak cuma perusahaan kecil yang kena imbas. Banyak perusahaan raksasa yang sudah punya nama juga harus mati-matian berjuang menghadapi gelombang disrupsi. Salah satunya adalah PT Pos Indonesia.

Pos Indonesia sudah mulai merasakan hantaman gelombang sejak tahun 2000. Muasalnya adalah perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang kian pesat. Kondisi ini mendorong perubahan gaya hidup dan tren.

Sejak ada Email dan instant messaging, siapa sih yang berkirim surat lewat layanan pos? Sudah jarang. Sejak ada Email dan Whatsapp, urusan pengiriman dokumen berbasis digital jauh lebih mudah dan cepat.

Kondisi semakin diperparah dengan hadirnya perusahaan jasa pengiriman baru. Mereka menawarkan berbagai inovasi. Baik dalam proses bisnis, maupun pelayanan pelanggan.
Pos Indonesia tersaingi. Padahal perusahaan ini punya modal kuat. Tau gak seberapa luas jangkauan Pos Indonesia?

Insfrastruktur jejaring yang dimilikinya mencapai 24 ribu titik. Menjangkau hampir 100 persen kecamatan dan 42 persen kelurahan atau desa. Termasuk 940 lokasi transmigrasi terpencil di Indonesia. Belum lagi 3.800 lebih kantor pos online yang dimilikinya.

Hebat kan? Tapi apa cukup untuk jadi modal persaingan di era sekarang? Ternyata tidak.
Apakah Pos Indonesia diam saja?

Sebenarnya tidak. Sudah banyak upaya dilakukan. Mulai dari membentuk perusahaan holding. Merevitaliasi bisnis inti. Juga merambah bisnis baru seperti logistik, properti dan asuransi. Cukup berhasil. Tahun 2014 pendapatan Pos Indonesia lebih dari Rp 4 triliun. Naik 2 kali lipat ketimbang 2006-2007.

Tapi rupanya pencapaian itu tak sepenuhnya karena inovasi yang dilakukan perseroan. Lebih karena bantuan dari proyek-proyek pemerintah. Pos Indonesia dipercaya menyalurkan Bantuan Langsung Tunai (BLT) dan distribusi kartu Program Keluarga Harapan (PKH). Proyek ini membuat Pos Indonesia kebanjiran likuiditas.

Apakah cara itu bertahan lama? Tidak.

Tahun 2016 skema penyaluran bantuan sosial pemerintah berubah. Melalui Bank. Lebih mudah. Lebih cepat. Lebih transparan. Pos Indonesia tak punya produk yang bisa bersaing dengan Bank.

Sekali lagi Pos Indonesia luput dalam mengantisipasi perubahan. Likuiditas yang tadinya banjir, sekarang seperti sungai dilanda musim kemarau. Kering.

Apa yang terjadi kemudian?

Hutang perusahaan bertambah, sementara pendapatan turun. Dari laporan keuangan Pos Indonesia diketahui, hutang perusahaan tahun 2017 naik 10,28%. Di sisi lain pendapatan perusahaan malah turun 3%.

Proses transformasi yang dilakukan oleh Pos Indonesia tak berhasil. Itulah yang menyebabkan Pos Indonesia kesulitan dalam bisnisnya. Tanpa melakukan proses transformasi dengan baik, maka keunggulan tidak lagi ada artinya.

Poses transformasi tak akan lepas dari inovasi. Sejalan dengan kemajuan teknologi, maka transormasi menggunakan sistem informasi menjadi hal yang tidak terelakan. Jika masih mau eksis, efektif dan efisien, maka inovasi bukan sebuah pilihan, tapi keharusan.

PT. Adhya Tirta Batam (ATB) termasuk yang membaca tanda-tanda gelombang disrupsi. Bagi kami, transformasi digital menjadi kebutuhan untuk mengantisipasi perubahan masa depan. Tanpa inovasi, kami hanya akan jadi bagian dari masa lalu.

Bagaimana caranya?

Salah satu caranya adalah menggunakan Internet of Things (IoT) untuk hampir semua proses.

Untuk membantu operasional di lapangan, ATB sudah manfaatkan teknologi Supervisory Control and Data Acquisition (SCADA) 4.0. Mulai menakar bahan kimia, sistem pembacaan meter, sistem penagihan, distribusi air, sudah berjalan otomatis dan termonitor secara online. Sudah bisa dimonitor jarak jauh dan real time. Bahkan hasil karya tim internal ATB ini sedang dalam proses paten.

Bagian pelayanan pun tak luput dari inovasi. Dengan ATB Integrated Information System (AIRS), pelanggan bisa tahu berapa lama proses keluhan berlangsung, berapa lama sambung baru ditindak lanjuti, hingga di bagian apa kendala terjadi.

Jika datang ke kantor pelayanan ATB, Anda akan temukan layanan self service. Tinggal akses informasi virtual di Kios-K, Anda bisa melihat syarat lengkap pengajuan layanan. Tanpa perlu antri ke frontliner. Tanpa perlu staff standby. Hemat waktu pelanggan dan petugas.

ATB juga sudah menyediakan mobile apps yang telah dimanfaatkan oleh hampir 50 ribu pelanggan. Saya sarankan Anda untuk mengunduh di telepon pintar Anda untuk mendapat pengalaman baru. Anda bisa ngecek tagihan, melakukan pembayaran, menyampaikan keluhan, informasi gangguan, dan lain sebagainya.

Bagi kami, perubahan bukan ancaman. Tapi kesempatan kami untuk memposisikan diri sebagai perusahaan air terbaik. Itu hanya bisa dilakukan bila kami terus menerus melakukan inovasi.

Sementara PDAM lain masih bertanya-tanya tentang revolusi industri 4.0, ATB telah menjadi pionir. Teknologi yang kami gunakan bukan teknologi kaleng-kaleng. Tapi kelas dunia.

Jika bagi ATB perubahan bisa menjadi kesempatan untuk menjadi lebih besar, mengapa beberapa perusahaan yang notabene pernah unggul di segmennya menganggap ini ancaman? Apakah karena melakukan inovasi yang merupakan senjata menghadapi perubahan itu dianggap beban?

Mari kita pikirkan.

Salam Kopi Benny (*)

 

Ir Benny Andrianto, MM
Presiden Direktur PT ATB